Faktual.net, Gowa, Sulsel- Akademisi Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh), Dr. Kaharuddin, menilai kepemimpinan Bupati Gowa, Dr. Husniah Talenrang, walaupun progam sudah sukses dan berhasil bergerak pada kepedulian sosial, namun kegiatan substansial belum termanifestasikan pada pengembangan Kabupaten Gowa.
Mendorong pembangunan Kabupaten Gowa perlu dibangun dengan leadership yang humanis bukan sekedar ketegasan yang membuat kekakuan kreativitas pada struktur. Leadership humanis membutuhkan ruang curhat dalam struktur sehingga segala problem sosial dapat menghasilkan kebijakan yang produktif.
Menurutnya, kepemimpinan Bupati Gowa selain humanis secara internal juga harus humanis secara eksternal dengan membuka ruang kerjasama Investor, Anggota DPR RI yang memiliki program Pusat lewat aspirasi harus bawa ke Gowa berdampak positif pada masyarakat Kab. Gowa.
Dinas-dinas dalam lingkup SKPD Kabupaten Gowa harus proaktif dan kreatif mencari peluang dari luar, tapi itu perlu ide dan konsep yang menarik untuk menarik investor tampa ketergantungan APBD daerah.
Dorongan tersebut juga harus hadir di Anggota DPRD Kabupaten Gowa yang tidak sekedar bergantung pada anggaran APBD daerah, tapi lewat partai mereka dapat menjadi jalan untuk menumbuhkan pembangunan di Gowa dengan cara menangkap program-program di pusat, sehingga Bupati tidak berpikir sendiri “perlu pikiran kolektif untuk pembangunan”. Untuk mencapai semua itu perlu leadership yang humanis dan ide serta konsep yang jelas. Apalagi beban APBD yang semakin kurang menjangkau semua sektor pembangunan di Gowa.
“Humanis itu penting, tapi harus dibarengi ketegasan arah kebijakan. Servant Leadership bukan hanya mendengarkan, tetapi melayani rakyat dengan menghadirkan program nyata yang bisa dirasakan manfaatnya secara kolektif,” ujar Dr. Kaharuddin, Mangngasa Jumat (08/08/25)
Mantan Ketua Himpunan Pelajar Mahasiswa Gowa (Hipma-Gowa) ini menekankan pentingnya strategi politik pembangunan.
Ia mendorong Pemkab Gowa untuk membentuk tim promosi daerah yang bertugas menarik investor strategis, serta menjalin kemitraan erat dengan DPR-RI demi membawa program pusat masuk ke Gowa tanpa membebani APBD.
Menurutnya, langkah seperti ini merupakan wujud Servant Leadership yang sejati memanfaatkan jejaring eksternal untuk menjawab kebutuhan rakyat ketika ruang fiskal daerah terbatas.
“Jangan biarkan APBD menjadi alasan stagnasi. Justru keterbatasan harus menjadi pemicu inovasi dan lobi politik yang sistematis,” tegasnya.
Dr.Kaharuddin juga mengingatkan, program prioritas seperti capaian 100 hari kerja seharusnya sudah terlihat jelas secara fisik dan dirasakan secara sosial.
Rakyat, katanya, tidak menilai dari banyaknya pertemuan atau rencana, tetapi dari bukti yang dapat mereka lihat, sentuh, dan rasakan perputaran ekonomi masyarakat, inovasi pertanian, inovasi pendidikan, dan lain-lain.
“Humanis bukan sekadar ramah. Humanis berarti memastikan rakyat merasakan hasil. Servant Leadership bukan hanya melayani, tetapi mengawal setiap peluang hingga menjadi program nyata,” pungkasnya.
Redaksi Sulsel














