Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Berita

Kitab Ma Ha Is Maya: Warisan Spiritual Nusantara Dan Pesan Perdamaian Dunia

×

Kitab Ma Ha Is Maya: Warisan Spiritual Nusantara Dan Pesan Perdamaian Dunia

Sebarkan artikel ini

Faktual.net – Jakarta – 16 September 2026 – Sebuah karya luar biasa lahir dari kedalaman iman, sejarah, dan harapan bangsa. Kitab Ma Ha Is Maya yang disusun dalam waktu hanya 20 jam berkelanjutan, menjadi bukti bahwa ketika doa, keikhlasan, dan keyakinan bersatu, maka lahirlah sesuatu yang melebihi kemampuan manusia biasa. Karya setebal 322 halaman, ukuran 6×5 inci, disusun dalam 26 bahasa bumi, dipersembahkan bagi 9 tokoh utama dan 54 beliau-beliau yang telah mendahului, bukan sekadar buku melainkan risalah kepemimpinan, doa, dan perdamaian bagi seluruh bangsa dan dunia.

BERAKAR DARI SEJARAH KERAJAAN NUSANTARA

Pasang Iklanmu
Pasang Iklanmu

Dalam wawancara mendalam ini, penulis menceritakan bahwa gagasan besar ini tidak muncul tiba-tiba, melainkan berakar pada perjalanan panjang peradaban Nusantara. Sejak dibangunnya kerajaan-kerajaan di Nusantara, keemasan Majapahit, hingga persatuan agama dan kebijaksanaan para leluhur yang menciptakan Negarakertagamanegara yang kuat, tata tentram, dan berkeadilan.

Negarakertagama adalah negara yang kuat sistem pemerintahannya, tata tentram. Namun sejak abad ke-15 hingga abad ke-21, bangsa ini mengalami degradasi. Perebutan kekuasaan, kedatangan bangsa-bangsa lain, dan berbagai permasalahan membuat kita lupa akar kita. Padahal dari mana bangsa ini berasal, di situlah kita harus kembali.”

Kedatangan bangsa-bangsa asing, agama-agama baru, dan berbagai budaya ke Nusantara semuanya diterima dengan tangan terbuka dan rasa syukur. Bukan ditolak, melainkan dijadikan bagian dari pemahaman bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang terbuka, yang mampu merangkul perbedaan dalam satu kesatuan.

KITAB YANG DILAHIRKAN DARI DOA, BUKAN SEKADAR TULISAN

Yang luar biasa dari kitab ini adalah proses kelahirannya: direkam langsung, ditulis dalam waktu 20 jam tanpa henti, menjadi karya tebal 322 halaman. Isinya bukan sekadar teorimelainkan doa, syair, dan ayat-ayat persembahan dalam 26 bahasa bumi.

“Kitab ini bukan ditulis untuk dirinya sendiri dulu, lalu berdoa. Terbalik — doa didahulukan, lalu lahirlah tulisan. Pemimpin berdoa untuk yang dipimpinnya, baru kemudian untuk dirinya sendiri. Itulah inti kepemimpinan yang bertanggung jawab.”

Kitab Sembahyang yang menjadi bagian darinya adalah kitab kepemimpinan: bagaimana seorang pemimpin meletakkan tanggung jawabnya di atas kepala, lalu mempersembahkannya kepada Tuhan. Bukan kekuasaan untuk diri sendiri melainkan tanggung jawab yang dipersembahkan kepada Yang Maha Kuasa.

PESAN MORAL: BUMI MENCATAT DOA DAN TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN

Ada tiga pesan mendalam yang terkandung dalam kitab ini:

Pertama — Bumi ini mencatat. Setiap doa, setiap harapan, setiap keikhlasan — tercatat oleh semesta. Apalagi seorang pemimpin: segala tindakannya, etikanya, tatanannya, keyakinannya — semuanya tercatat dan dipertanggungjawabkan.

Kedua — Kepemimpinan butuh keikhlasan. Bukan sekadar memperjuangkan jabatan, melainkan memperjuangkan tanggung jawab yang diletakkan di atas kepala dan dipersembahkan kepada Tuhan. Itulah kepemimpinan sejati.

Baca Juga :  SPBU Panaikang Takalar Terapkan Sistem Ganjil Genap, Pengisian Pertalite Dibatasi

Ketiga — Berdoa untuk orang lain = damai di dalam diri sendiri. Seseorang yang berdoa untuk sesama, pasti telah menempatkan damai di dalam dirinya dulu. Barulah ia dapat mendamaikan orang lain.

“Indonesia akan menjadi mercusuar perdamaian dunia. Bukan dengan senjata, bukan dengan kekuatan ekonomi — melainkan dengan doa yang tulus, keramahan yang tulus, dan keikhlasan untuk merangkul semua perbedaan.”

TANTANGAN ABAD 21: PEMIMPIN POLITIK DAN PEMIMPIN SPIRITUAL

Di abad ke-21, dunia menghadapi ketegangan besarIran melawan Amerika Serikat dan Israel, berbagai konflik yang membelah dunia. Di sinilah peran pemimpin spiritual Indonesia menjadi sangat krusial.

“Ada dua jenis pemimpin: pemimpin politik dan pemimpin spiritual. Indonesia utuh membutuhkan wali — mereka yang mewakili semangat, yang membangkitkan kebangkitan spiritual bangsa untuk menghadapi tantangan perubahan zaman.”

Kitab Ma Ha Is Maya justru hadir di momen ini — menawarkan jalan damai, jalan persaudaraan, jalan doa yang melampaui perbedaan. Doa bukan lemah — doa adalah kekuatan terbesar yang dapat mengubah dunia.

RANGKAIAN ACARA DAN SOSIALISASI KESELURUHAN JAKARTA

Penulis juga menyampaikan rencana besar yang sedang disusun:

Safari 7 Kota — Doa bagi Jakarta, melibatkan 79 tokoh dan pemuka lintas iman, persis seperti gagasan yang tertuang dalam kitab

Acara di Kementerian Kebudayaan & Pura Mangkunegara bulan Oktober 2026.

Penghargaan bagi tokoh-tokoh yang berkarya bagi bangsa, termasuk tokoh pendidikan dan budaya

Perdamaian sebagai inti ajaran — yang akan disosialisasikan pemerintah dan masyarakat luas

“Belum waktunya November, namun gagasan ini sudah harus berjalan. 9–10 November nanti akan menjadi momen puncak, tapi persiapan dimulai dari sekarang. Risalah ini sudah diberikan kepada anggota dewan, pemerintah, dan semua pihak — agar esensinya dipahami: bangkit dengan doa, bersatu dengan persaudaraan, dan melayani dengan tanggung jawab.”

KESIMPULAN: KITAB YANG MEMPERSEMBAHKAN DOA UNTUK SEMUA

Kitab Ma Ha Is Maya bukan milik satu kelompok, satu agama, atau satu golongan. Ia dipersembahkan untuk siapapun anak manusia tanpa memandang perbedaan. Doa di dalamnya menjadi emas karena murni, karena tulus, dan karena ditujukan untuk perdamaian dunia.

“Ketika kita berdoa untuk orang lain, damai dimulai dari diri kita. Lalu damai itu menyebar ke keluarga, ke masyarakat, ke bangsa, dan akhirnya ke dunia. Itulah jalan yang ditawarkan kitab ini, jalan yang dimulai dari hati yang damai.”

Red / JS

Tanggapi Berita Ini