Example floating
Example floating
Opini

Jeritan Uyghur Yang Memanggil

×

Jeritan Uyghur Yang Memanggil

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Penulis:  Ahmad Takbir Abadi

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

Faktual.net – Kita hidup dalam nuansa keragaman. Aturan-aturan yang mengikat juga dogma-dogma tentang Tuhan yang esa.

Memilih agama adalah hak segenap manusia, menjadi Kristen, menjadi Muslim menjadi Hindu atau Budha, atheis  atau masih animisme, itu tak masalah hidup itu pilihan, kita yang jalani kita yang laksanakan.

Kemarin di Myanmar, Rohingya di usir dari tanah kelahiran, etnis Muslim itu dilecehkan atas nama negara. Myanmar terlihat rendah di mata dunia, mengusir warga sendiri dan gagal menjadi negara yang melindungi manusia.

Strata manusia adalah sama. Kecil di mata Tuhan, lantas dibalik kuasa yang kita punya apa yang patut kita sombong kan.

Negara kaya raya tak menjadi hidup setiap jiwa. China contohnya, di sana ada manusia, sekitar sepuluh juta jumlah populasinya, tinggal di Xinjiang sebuah daerah yang memberi banyak sumber daya pada negara.

Ini rakyat China juga, rakyat yang terlibat dalam pembangunan negara menuju kemajuan.

Uighur adalah minoritas Muslim yang sebagian besar berada di daerah Xinjiang, Cina barat. Sekitar 45% penduduk di tempat itu adalah Uighur.

Xinjiang resminya diperlukan sebagai daerah otonomi di dalam Cina, sama seperti Tibet di selatan.

Sejumlah laporan yang menyebutkan semakin banyak orang Uighur dan minoritas Muslim lainnya yang ditahan di Xinjiang muncul dalam beberapa bulan terakhir.

Cina menyatakan pihaknya melakukan penahanan untuk mengatasi kelompok ekstremis.

Hari ini mereka menderita tekanan fisik dan mental, pemerintah Tiongkok telah mengasingkan 1 juta lebih bangsa Uyghur ke camp-camp re-edukasi, mereka dipaksa untuk mencela agama Islam, mereka tidak boleh menggunakan pakaian, bahasa, dan budaya mereka. Sungguh, mengerikan.

Baca Juga :  Analisis Geopolitik dan Pertahanan: Kehadiran Fasilitas Bersama Indonesia-Amerika Serikat di Bandara Kertajati

Mereka dilarang menggunakan kata-kata Islami. Mereka disiksa, fisik dengan giginya ditarik, kukunya dicopot, diinterogasi pakai ular dan kursi harimau, dan tanpa alasan yang jelas, mereka ditangkap, dibunuh, sampai mayatnya dibakar, sehingga keluarga tidak mengenali ayah, ibu dan anaknya lagi.

Jenazahnya tak diperbolehkan untuk diambil, dan banyak lagi penyiksaan-penyiksaan lainnya yang mereka rasakan.

Anak-anak diajarkan bahasa Tiongkok, sekolah-sekolah dijadikan camp dan wanita-wanita dipaksa untuk menikahi warga Tiongkok Han. Ini adalah upaya Tiongkok untuk menghapus generasi dari muslim Uighur.
Magrigun Misalnya, perempuan tangguh di forum International. Ia berani mengatakan kebenaran perihal kemanusiaan yang mesti sesuai dengan harkatnya.

” Saya lebih baik mati dari pada mendapat penyiksaan ini dan memohon mereka untuk membunuh saya,” kata Magrigun Tursun kepada dunia saat di National Press Club.

Kini, kita di Indonesia. Jaraknya ribuan mil untuk ke Xinjiang. Mustahil untuk ke sana. Tapi doa adalah sebaik-baik kekuatan. Berdoa sajalah kita, sambil menyatakan kepada dunia bahwa suara islam tak akan pernah hilang.

Semoga tak ada lagi derita yang mengakar karena benci, kematian karena fitnah, perpecahan karena berbeda kitab. Sudahi lah, berapa banyak nyawa lagi yang akan melayang karena hanya duga-duga yang berlebihan.

 

Tanggapi Berita Ini
https://faktual.net/wp-admin/post.php?post=199474&action=edit