Example floating
Example floating
Opini

Jembatan Harapan, Bukan Jalan Menuju Keputusasaan

×

Jembatan Harapan, Bukan Jalan Menuju Keputusasaan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Aswin Rudi (Wakil Sekretaris Ketahanan Nasional Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah)

Faktual.Net, Kendari — Jika jembatan dibangun untuk menghubungkan, mengapa ada begitu banyak yang memilih mengakhiri hidup di atasnya ?

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

Jika pemerintah ada untuk melindungi warganya, mengapa yang lemah harus mati tanpa pernah disapa ?
Dan jika hidup adalah anugerah, mengapa begitu banyak jiwa memilih menyerah?

Pertanyaan-pertanyaan ini kini menggantung di udara Teluk Kendari. Tidak dijawab oleh pemerintah kota. Tidak ditangkap oleh kebijakan. Hanya berhembus bersama angin yang menyapu Jembatan Teluk Kendari yang mestinya menjadi simbol konektivitas dan harapan, kini perlahan berubah menjadi tangga bisu menuju keputusasaan.

Kita Bukan Mesin, Kita Manusia

Dalam filsafat eksistensial, manusia bukan sekadar tubuh yang hidup. Ia adalah makhluk yang bertanya, yang gelisah, yang mencari makna. Albert Camus menyebut, “Satu-satunya pertanyaan serius dalam filsafat adalah apakah hidup ini layak dijalani.”

Dan itulah tragedi sesungguhnya dari Kota Kendari hari ini: terlalu banyak anak muda tidak lagi menemukan alasan untuk hidup. Dalam dunia yang kian bising, kota ini gagal menjadi ruang yang mendengar.

Mereka bukan gila. Mereka lelah. Mereka tidak ingin mati, mereka ingin penderitaannya berhenti. Tapi karena tak ada tangan yang menjangkau, mereka memilih jatuh ke dalam air yang diam.

Jembatan Itu Tidak Salah, Pemerintahan yang Lalai

Jembatan Teluk Kendari bukan penyebabnya. Ia hanya saksi. Yang gagal adalah sistem yang tidak menyediakan pagar pengaman, tidak menempatkan satgas penjaga, tidak menghadirkan krisis center psikologis di ruang publik.

Dalam setiap bunuh diri, yang mati bukan hanya satu orang. Yang ikut mati adalah kepekaan sosial kita. Yang ikut terkubur adalah kewajiban negara untuk hadir dalam luka rakyatnya.

Maka Wali Kota Kendari tidak bisa lagi diam. Ini bukan soal infrastruktur. Ini soal kemanusiaan. Kota ini membutuhkan:

1. Peraturan Wali Kota khusus pencegahan bunuh diri

2. Posko konseling krisis di Jembatan Teluk Kendari

3. Kerja sama dengan komunitas psikologi, pemuda, dan keagamaan

4. Edukasi masif bahwa “tidak apa-apa merasa tidak baik-baik saja.”

Jangan Biarkan Teluk Kendari Menjadi Simbol Negara yang Abai

Pemerintah harus berhenti membanggakan beton dan besi. Saat ini, yang dibutuhkan rakyat adalah empati, bukan estetika. Yang dibutuhkan anak muda adalah ruang aman, bukan baliho dan kembang api saat ulang tahun kota.

Jembatan Teluk Kendari harus dikembalikan pada fungsinya semula: menghubungkan bukan hanya wilayah, tapi juga rasa sesama manusia.

Sebab jika satu kota tak bisa mencegah anak-anaknya melompat ke laut karena putus asa, maka pembangunan itu hanya ilusi. Kota itu gagal menjadi tempat untuk hidup.

Pemerintah Harus Bertindak, Sebelum Ada Nama Baru di Air

Kita masih punya waktu. Selama jembatan itu masih berdiri, selama Teluk Kendari masih mengalir, selama rakyat masih bersuara, harapan itu belum sepenuhnya tenggelam.

Tapi Pemkot Kendari harus memulainya sekarang. Jangan tunggu korban keenam. Jangan biarkan air kembali menyimpan tubuh yang kesepian.

Karena di balik setiap tubuh yang jatuh, ada pertanyaan yang tak dijawab: di mana negara saat aku membutuhkan ?

Tanggapi Berita Ini