Example floating
Example floating
BeritaEdukasiHeadlineKesehatanMetropolitanNasionalPemerintahan

JAKARTA UTARA AKAN GAGAL RAIH PIALA ADIPURA, MASIH TERLIHAT SERAKAN SAMPAH

×

JAKARTA UTARA AKAN GAGAL RAIH PIALA ADIPURA, MASIH TERLIHAT SERAKAN SAMPAH

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

faktual.net,Jakarta- Harapan Kota Administrasi Jakarta Utara akan gagal untuk raih piala Adipura jika yang dibenahi adalah Titik Pantau Penilaian Panitia Adipura saja, Adipura merupakan simbol penghargaan dari kementerian Lingkungan Hidup Indonesia yang merupakan penilaian bahwa wilayah dapat mengurangi sampah dan polusi udara yang kotor.

Pemrov DKI Jakarta melalui Pj. Gubernur DKI Jakarta telah memanggil seluruh perangkatnya untuk di kumpulkan di ruang teater Ismail Marzuki, untuk di berikan pengarahan mengenai penilaian Adipura dan berharap para lurah untuk turun ke bawah memotret wilayah yang hingga saat ini masih tergolong kotor.

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

“Difoto (lokasi yang kotor) tiga bulan lagi kita ketemu dan lokasi masih terlihat bersih” kata Heru dalam pidatonya

Ia juga mengatakan apabila para lurah mengalami kesulitan, di harapkan meminta bantuan kepada camat bahkan wali kota, agar dalam melakukan pekerjaan dapat berjalan dengan lancar.

Sampah di Kali swasembada

Sementara pantau media di setiap titik di wilayah, masih banyak beberapa tumpukan sampah yang berserakan dan masih kurang pantauan dari pemerintah setempat, seperti halnya di wiayah kelurahan Kebon Bawang di mana Tempat Pembuangan Sementara (TPS) masih berada di pinggir jalan Bugis. Walaupun siang hari tidak terlihat tumpukan sampah tapi aroma sampah masih melekat pada tembok atau jalan yang bekas TPS malam hari.

Menurut keterangan Zaelani salah seorang warga yang di temui media di dekat okasi TPS Bugis mengatakan, Walaupun tumpukan sampah sudah tidak ada, tapi aroma sampah yang menyengat apalagi Jakarta aat ini sangat terik panasnya, maka memuailah aroma sampah di sekitar TPS tersebut.

“Lokasi TPS tersebut kalau sore hingga malam hari di jadikan tempat kuliner makanan dan malam dini hari di jadikan TPS, apa jadinya jika memakan makan di tempat TPS jika malam harinya hingga pagi penuh dengan sampah, apalagi jarak antara TPS dengan sekolahan tidak terlalu jauh dan jika anak sekolah menuju ke sekolah harus melewati tumpukan sampah,” Jelas Zaelani kepada media.

Begitu juga TPS jalan raya Cilincing, jika umat Hindu yang akan melakukan ibadahnya harus melewati TPS yang berada di jalan raya Cilincing. Bagaimana jika umat tersebut sedang melakukan ibadah harus mencium aroma sampah yang tidak jauh dari lokasinya.

Baca Juga :  Pers Pilar Ke-4 Negara Kita, Ketum PWDPI : Sudah Saatnya Negara Perhatikan Nasip Jurnalis

Hal tersebut menjadi kritikan-kritikan para praktisi lingkungan hidup di DKI Jakarta, salah satunya Sunarko Aris yang dijumpai media di wilayah Koja Jakarta Utara mengatakan, Seharusnya pemerintah DKI Jakarta khususnya Jakarta Utara harus memiliki lahan khusus untuk TPS (Tempat Pembungan Semntara) yang jauh dari pemukiman warga atau sekolah apalagi tempat ibadah agar lokasi tersebut bisa steril dari aroma yang tidak sedap yang di timbulkan dari sampah.

”Program LH DKI Jakarta hingga saat ini belum mampu membereskan masalah sampah seperti Bank Sampah, KOMPOS, memilah sampah organik dan an organik. Hilangnya sosialisasi ke warga dalam menterapkan peduli sampah saat ini sudah punah atau hilang,” ucap Sunarko Aris.

Sementara itu menurut Iwan Prasetyo salah seorang penggerak Lingkungan Hidup DKI Jakarta dan juga penggerak anak muda yang peduli dengan sampah mengatakan, Pemerintah DKI Jakarta khususnya di Dinas Lingkungan Hidup seharusnya tidak henti-hentinya untuk melakukan kampanye peduli Sampah kesetiap sekolah, RT, RW, lembaga-lembaga yang ada, tempat-tempat ibadah terutama para pengusaha kuliner di DKI Jakarta.

“Saat ini saya mendapatkan data bahwa para pengusaha kuliner tidak pernah mendapatkan sosialisasi mengenai peduli sampah, tapi yang di arahkan oleh setiap wilayah adalah bagaimana untuk bayar retribusi sampah tidak macet. Sangat di sayangkan apabila pemerintah DKI Jakarta di Dinas Lingkungan Hidup hanya menerapkan “Retribusi” saja tapi tidak pernah diberikan sosialisasi pengelolahan sampah atau limbahnya. Dan ini akan berdampak pada penilaian ADIPURA. Apalagi untuk wilayah Jakarta Utara, ketika saya melintas dan masuk ke wilayah Jakarta Utara banyak sekali tumpukan sampah baik itu jalan utama maupun di jalan-jalan protokol, apalagi di wilayah Cilincing masih ada beberapa warga yang membakar untuk membuat arang hingga asapnya tebal. Sangat di sayangkan saat ini karena saya dapat memastikan bahwa Jakarta Utara akan GAGAL dalam meraih ADIPURA jika beberapa hal ini tidak dapat di selesaikan,”tambah Iwan Prasetyo.

Media Faktual.net sudah konfirmasi informasi publik terhadap Kasudin LH Jakut Edy Mulyanto terkait dengan sampah dan penilaian ADIPURA hingga saat ini belum merespon. (Zul/Narsum)

Tanggapi Berita Ini
https://faktual.net/wp-admin/post.php?post=199474&action=edit