Example floating
Example floating
Iklan Ramadhan
Headline

Indonesia Peringkat Kedua Negara Paling Tahan Hadapi Krisis Energi Global 2026: Apa Rahasianya dan Bagaimana Kita Menyikapinya?

×

Indonesia Peringkat Kedua Negara Paling Tahan Hadapi Krisis Energi Global 2026: Apa Rahasianya dan Bagaimana Kita Menyikapinya?

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Johan Sopaheluwakan, S.Pd., C.EJ., C.BJ., CLA-D

Pasang Iklanmu
iklan 468x60
Pasang Iklanmu

Faktual.net – Jakarta Timur, DKI Jakarta – Rabu, 22 April 2026 – Dunia saat ini tengah menghadapi tantangan besar berupa krisis energi global yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dan sosial berbagai negara. Namun, sebuah data terbaru dari JP Morgan Asset & Wealth Management dalam laporan Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026 menyajikan kabar yang cukup menggembirakan bagi Indonesia.

Dalam pemeringkatan ketahanan energi global, Indonesia menempati posisi kedua dengan skor 77%, hanya berada di bawah Afrika Selatan (79%) dan mengungguli negara-negara besar seperti China (76%), Amerika Serikat (70%), hingga Australia (68%). Pencapaian ini menunjukkan bahwa struktur energi nasional kita dinilai relatif lebih tangguh dibandingkan banyak negara lain dalam menghadapi gejolak pasar dunia.

Mengapa Indonesia Relatif Tahan Banting?

Ada beberapa faktor utama yang membuat Indonesia mampu bertahan di tengah badai krisis energi global, sebagaimana dijelaskan dalam analisis tersebut:

1. Bauran Energi yang Beragam dan Mandiri

Indonesia memiliki keunggulan karena sebagian besar kebutuhan energinya dipenuhi dari sumber daya dalam negeri. Komposisinya didominasi oleh batubara sebesar 48%, disusul gas alam 22%, dan energi terbarukan 7%. Ketergantungan pada sumber daya alam sendiri ini menjadi bantalan kuat ketika harga energi dunia melonjak.

2. Ketergantungan Impor yang Rendah

Salah satu kunci ketahanan Indonesia adalah tingkat ketergantungan pada impor energi yang relatif kecil, terutama untuk minyak bumi yang hanya sekitar 16%. Bahkan untuk gas, Indonesia masih berstatus sebagai net exporter atau pengekspor bersih (-8%).

Hal ini membuat dampak kenaikan harga minyak dan gas dunia terhadap ekonomi domestik menjadi jauh lebih terbatas dibandingkan negara-negara yang sangat bergantung pada impor.

3. Diversifikasi Sumber Energi

Upaya transisi energi yang mulai digalakkan, meski masih dalam tahap awal (7% energi terbarukan), turut memberikan kontribusi positif dalam menciptakan keragaman sumber daya sehingga tidak terlalu terpaku pada satu jenis bahan bakar saja.

Tantangan yang Tetap Harus Diwaspadai

Meskipun berada di peringkat atas, bukan berarti Indonesia tanpa masalah. Status “tahan banting” ini harus dijaga dan ditingkatkan. Beberapa tantangan ke depan antara lain:

– Penurunan Cadangan Minyak: Kebutuhan dalam negeri terus meningkat sementara produksi minyak lokal belum mampu mengejar, sehingga impor minyak masih tetap diperlukan dan rentan terhadap fluktuasi harga global.

– Infrastruktur: Distribusi energi, terutama listrik dan gas, ke seluruh wilayah Indonesia yang kepulauan masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Baca Juga :  Transformasi Hukum Asuransi Pasca Putusan MK Nomor 83/PUU-XXII/2024

– Transisi Energi: Perlu percepatan pemanfaatan energi terbarukan (surya, air, angin, panas bumi) untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang semakin menipis dan ramah lingkungan.

Kiat Masyarakat Menghadapi Situasi Energi

Ketahanan negara tidak hanya tugas pemerintah atau perusahaan energi, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat. Berikut adalah langkah-langkah sederhana namun penting yang bisa kita lakukan:

1. Terapkan Gaya Hidup Hemat Energi

– Listrik: Matikan lampu dan alat elektronik saat tidak digunakan. Gunakan peralatan hemat energi (berlabel SNI/Energy Star). Atur suhu AC pada angka 24-25 derajat Celcius agar lebih efisien.

– Bahan Bakar: Gunakan kendaraan umum atau berbagi tumpangan (carpool). Lakukan servis kendaraan secara rutin agar konsumsi bahan bakar lebih irit. Pertimbangkan beralih ke kendaraan listrik atau berbasis gas jika memungkinkan.

2. Bijak dalam Menggunakan Gas Elpiji

Gunakan api kompor sesuai kebutuhan, jangan terlalu besar. Pastikan tidak ada kebocoran pada selang dan regulator.

Manfaatkan teknologi seperti kompor induksi atau tenaga surya sebagai alternatif di masa depan.

3. Dukung Program Pemerintah

Dukung kebijakan diversifikasi energi, seperti penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) campuran biofuel, serta program konversi energi yang bertujuan menghemat devisa negara dan menjaga stabilitas harga.

4. Tingkatkan Kesadaran dan Tidak Mudah Panik

Informasi yang benar sangat penting. Meskipun ada krisis global, posisi Indonesia relatif aman. Namun, sikap boros akan tetap merugikan diri sendiri dan negara. Hemat energi adalah bentuk nyata cinta tanah air.

Kesimpulan

Peringkat kedua sebagai negara paling kuat menghadapi krisis energi adalah bukti bahwa kekayaan alam dan kebijakan energi nasional kita memiliki fondasi yang kuat. Namun, status ini bukan alasan untuk berpuas diri.

Dengan terus menjaga stabilitas pasokan, mempercepat transisi ke energi bersih, dan didukung oleh perilaku hemat energi dari masyarakat, Indonesia tidak hanya akan mampu bertahan, tetapi juga bisa semakin mandiri dan maju dalam sektor energi di masa depan.

DAFTAR PUSTAKA

JP Morgan Asset & Wealth Management. (2026). Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026. [Data dan Infografis].

Kompas.com. (2026). Negara Paling Kuat Hadapi Krisis Energi Global 2026. [Visualisasi Data].

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi.

Penulis adalah Alumni STKIP Purnama, Jakarta. Prodi Pendidikan Dunia Usaha (PDU)/Pendidikan Ilmu Ekonomi, tinggal di Jakarta.

 

Tanggapi Berita Ini