
Oleh: Sumardin
Faktual.Net — Indonesia negara yang menganut sistem demokrasi presindesial, di mana rakyat adalah pemegang hak yang paling daulat dalam sistem demokrasi kita.
Kata demokrasi telah lama ada dalam sebuah sistem kehidupan masyarakat nusantara yang kemudian di sebut sebagai negara Indonesia. Demokrasi sebagaimana yang di katakan Abraham Lincoln mengandung makna dari, untuk, dan oleh rakyat.
Substansi nilai inilah yang hilang dalam praktek politik kita sebagai negara demokrasi, para alih sangat aktif memainkan peran penting pada dunia politik yang tergolong jauh dari nalai demokrasi. Lantas kita bertanya untuk apa Reformasi, kalau pada akhirnya demokrasi hanya lah sistem semu di tangan para penguasa.
Potret politik Indonesia oleh para penguasa syarat dengan desain kepentingan kelompok tertentu. Sementara rakyat hanyalah pemain momentum pada pesta demokrasi momen itu biasa kita sebut dengan nama “PEMILU” Ketika pemilu selesai rakyat menjadi penonton setia pada setiap antraksi politik semu oleh para penguasa yang hanya menyoal kekuasaan semata.
Praktek politik penguasa lah yang membuat demokrasi Semu, nilai substansi nya hilang seketika atas nama kekuasaan dan kepentingan penguasa. Rill politik membuat rakyat bertanya untuk apa demokrasi. Kalau hanya berkahir pada kekuasaan dan kepentingan penguasa. Realita ini semakin memperjelas bahwa rakyat hanyalah alasan khusus tentang demokrasi untuk kepentingan tertentu para elit.
Rakyat hanya di porak-poranda kan oleh janji untuk memuluskan jalan para calon pemimpin yang mengatas namakan demokrasi agar kemudian mereka terpilih oleh rakyat di bilik tempat pemilihan. Tentunya tulisan ini bukan reaksi soal pesimis tentang demokrasi kita yang Semu. Malainkan sekedar memberikan sedikit tentang pendidikan politik bagaimana msstinya kita bersikap dalam sistem politik demokrasi kita.
Sebab yang kita ketahui secara bersama bahwa demokrasi secara substansial kedaulatan nya ada pada rakyat. Sebagaimana yang di ungkap oleh Abraham Lincoln tentang demokrasi yaitu dari rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat. Sehingga titik akhir dari pada sebuah politik ada ditangan rakyat. Cita cita politik yang kita harapkan adalah kesejahteraan untuk seluruh rakyat indonesia tanpa memandang kelas sosial, suku, ras dan agama sekalipun.
Penulis: Sumardin Ketua Peduli Demokrasi Kabupaten Teluk Wondama Provinsi Papua Barat















