Example floating
Example floating
Iklan Ramadhan
Opini

Arsitektur Perlawanan Iran: Menguji Fondasi Wilayatul Faqih di Tengah Ilusi Hegemoni Unipolar

×

Arsitektur Perlawanan Iran: Menguji Fondasi Wilayatul Faqih di Tengah Ilusi Hegemoni Unipolar

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Afandi Abbas (Ketua PMII Cabang Tidore 2017-2018)

Keheningan yang ganjil kini menyelimuti Teheran di tengah gema tadarus yang syahdu. Di antara deretan pasar tua dan kemegahan kubah pirusnya, sebuah kabar duka merayap layaknya kabut musim gugur di bulan penuh berkah: Ayatullah Ali Khamenei telah wafat. Beliau berpulang memenuhi panggilan Sang Khalik di saat pintu-pintu langit terbuka lebar, menjemput apa yang dalam tradisi spiritual disebut sebagai syahadah—sebuah akhir perjalanan yang didedikasikan sepenuhnya untuk keyakinan hingga napas terakhir.

Pasang Iklanmu
iklan 468x60
Pasang Iklanmu

Di tengah dunia yang terjebak dalam pragmatisme, sosok Khamenei muncul sebagai simbol konsistensi. Sebagaimana ulasan KH Dr. Aguk Irawan MN, beliau adalah representasi semangat Karbala modern, mewarisi prinsip Imam Husein bahwa kebenaran tidak diukur dari angka statistik militer, melainkan dari integritas prinsip yang tak tergoyahkan.

Anatomi Regime Change dan Keteguhan Ideologi

Wafatnya sang Rahbar terjadi di tengah bayang-bayang provokasi global yang kembali memunculkan narasi lama (Regime Change.) Sebagaimana dianalisis oleh pengkaji geopolitik Hendrajit (GFI), sejarah mencatat bahwa obsesi Washington untuk menggulingkan kekuasaan, mulai dari Vietnam (1960-an), Guatemala (1954), hingga Irak dan Afghanistan seringkali hanya berujung pada rawa-rawa politik dan perang saudara yang menghancurkan.

Di Iran, arsitektur kekuasaan yang dibangun Khamenei memiliki fondasi yang berbeda. Jonathan Schanzer dari Foundation for Defense of Democracies mengakui bahwa menembus barisan rezim yang disatukan oleh ideologi dan agama sangatlah sulit, jika tidak mustahil. Kekuatan udara mungkin bisa merusak infrastruktur, namun sebagaimana ditegaskan Prof. Phillips O’Brien, militer tidak bisa menjamin lahirnya stabilitas baru. Struktur Wilayatul Faqih telah menciptakan sistem yang tidak bergantung pada individu, melainkan pada keteguhan doktrinal.

Geopolitik Heartland dan Perisai Multipolar

Secara strategis, Khamenei adalah arsitek utama yang menjaga kawasan Heartland (Jantung Dunia). Meminjam analisis M. Arief Pranoto, Iran di bawah kepemimpinan beliau berhasil membangun Strategic Depth melalui Axis of Resistance sebagai daya getar (deterrence) terhadap agresi unipolar.

Khamenei membuktikan bahwa kedaulatan digital dan kemandirian teknologi adalah kunci menghadapi imperialisme modern. Dengan mengintegrasikan Iran ke dalam blok BRICS dan SCO, beliau mematahkan senjata sanksi ekonomi Barat secara permanen. Intelektual Noam Chomsky benar adanya saat menyatakan bahwa dunia justru melihat Washington dan Tel Aviv sebagai ancaman nyata bagi perdamaian global, bukan Teheran.

Filosofi Pungguk dan Jati Diri Konstitusi

Di tengah hiruk-pikuk transisi kekuasaan ini, Indonesia dihadapkan pada refleksi besar. Metafora “pungguk merindukan bulan” yang diangkat oleh Arief Pranoto menjadi relevan, sebuah bangsa bisa kehilangan arah ketika ia lebih sibuk mencari legitimasi global daripada bercermin pada konstitusinya sendiri.

Langkah diplomasi Indonesia, seperti dalam orbit Board of Peace, patut dipertanyakan kedaulatannya. Apakah kita sedang menjalankan amanat Alinea I UUD 1945 yang mengharamkan segala bentuk penjajahan, atau justru terjebak dalam diplomasi kosmetik yang mengaburkan akar kolonialisme? Perdamaian tanpa keadilan hanyalah jeda konflik yang dipoles bahasa diplomasi. Bangsa yang besar adalah bangsa yang setia pada prinsipnya, bukan yang sekadar ingin duduk di meja besar pemain utama dunia.

Warisan Karbala dan Momentum Nusantara

Sang Rahbar telah tiada, namun api perlawanan tetap berdiri tegak. Di penghujung Ramadan 1447 H ini, wafatnya seorang pemimpin besar adalah fajar bagi kebangkitan kesadaran. Bagi Indonesia, gejolak di Timur Tengah hingga Laut Cina Selatan adalah alarm untuk kembali menjadi Nusantara III, bangsa yang mandiri dan berdaulat penuh, bebas dari cengkeraman “VOC Gaya Baru”.

Mari kita merenung: apakah kita hendak menjadi pungguk yang terus menatap bulan dalam ilusi peran, atau menjadi bangsa yang menapak bumi dengan karakter dan martabat yang utuh sesuai amanat para pendiri bangsa?

Wallahu’alam bishawab

 

Tanggapi Berita Ini