Example floating
Daerah

Dampak Internet Dini, DP3A Wakatobi Minta Orang Tua Lebih Seksama Dampingi Anak

×

Dampak Internet Dini, DP3A Wakatobi Minta Orang Tua Lebih Seksama Dampingi Anak

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Wakatobi, Arifin, S.Pd., M.M.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Wakatobi, Arifin, S.Pd., M.M.

faktual.net, Wakatobi, Sultra. Perkembangan teknologi digital yang kian masif membawa dampak besar terhadap pola tumbuh kembang anak di Kabupaten Wakatobi. Menyikapi fenomena penggunaan internet dan gawai (gadget) sejak usia dini, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Wakatobi, Arifin, S.Pd., M.M., mengimbau para orang tua untuk tidak sekadar memfasilitasi anak dengan gawai, tetapi juga hadir memberikan pengawasan serta pendampingan yang aktif.

Arifin menjelaskan bahwa perkembangan teknologi tidak mungkin dihindari karena memiliki beragam manfaat positif bagi anak, seperti sarana belajar, pengembangan kreativitas, dan pencarian informasi. Namun, penggunaan internet tanpa pengawasan ketat menyimpan potensi risiko yang berbahaya bagi masa depan anak.

“Anak-anak belum sepenuhnya memiliki kemampuan untuk memilah mana informasi yang layak dan mana yang seharusnya mereka hindari. Risiko seperti paparan konten tidak sesuai usia, kecanduan gawai, cyberbullying, penipuan siber, hingga bahaya interaksi dengan pihak tak dikenal perlu diwaspadai,” ujar Arifin saat diwawancarai via Whatsapp pada Rabu, 23/9/2026.

Ia menambahkan, penggunaan internet yang tidak terukur juga berpotensi mengganggu pola tidur, konsentrasi belajar, kesehatan fisik, hingga interaksi sosial anak di lingkungan sekitarnya.

Oleh karena itu, strategi DP3A Wakatobi bukan melarang anak menggunakan teknologi secara mutlak, melainkan membangun kemampuan anak agar dapat bermedia digital secara aman, sehat, bijak, dan bertanggung jawab.

Langkah Edukasi dan Literasi Digital Ramah Anak

Guna mencegah dampak buruk dunia digital pada anak-anak di Wakatobi, DP3A terus melakukan berbagai langkah pencegahan. Langkah ini mencakup penguatan literasi digital, edukasi pola pengasuhan (parenting), serta peningkatan kapasitas Forum Anak, kader, organisasi perempuan, hingga pemangku kepentingan terkait.

Baca Juga :  Menatap Wajah Baru Gringsing, Skenario Kota Satelit Pendukung Kawasan Industri Batang

“Edukasi ini diarahkan agar orang tua memahami pentingnya pendampingan. Harus ada komunikasi dua arah yang baik, pembatasan waktu penggunaan gawai, serta pemahaman keamanan data pribadi. Lingkungan keluarga harus menjadi benteng utama perlindungan anak,” tegasnya.

Arifin juga mengingatkan masyarakat untuk bersikap proaktif. Jika menemukan dugaan kekerasan atau kejahatan siber yang menyasar anak, warga diimbau untuk segera melaporkannya ke layanan pengaduan perlindungan anak yang tersedia di Wakatobi.

Ingatkan Orang Tua Beri Teladan Penggunaan Gawai

Dalam imbauannya, Kadis DP3A Wakatobi menyoroti pentingnya peran orang tua sebagai teladan (role model) langsung bagi anak-anak di rumah. Ia menekankan bahwa aturan pengawasan di rumah tidak akan efektif jika orang tua sendiri tidak bijak menggunakan teknologi.

“Orang tua perlu memberikan contoh penggunaan teknologi yang sehat. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari perilaku orang dewasa di sekitarnya. Lucu rasanya jika seorang ibu menasihati anaknya untuk tidak main HP terus-menerus, sementara sang ibu sendiri selama 24 jam tidak lepas dari gawai. Contoh-contoh seperti ini harus dihindari,” sentil Arifin.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat di Wakatobi—mulai dari keluarga, sekolah, hingga pemerintah—untuk berkolaborasi menciptakan ruang digital yang ramah dan aman bagi anak.

“Mari kita jadikan teknologi sebagai sarana membuka kesempatan belajar dan mengembangkan potensi anak, bukan ruang yang membahayakan mereka. Perlindungan anak di era digital adalah tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya.

Reporter: La Ode Haeruddin

Tanggapi Berita Ini