Cara Islam Meningkatkan Mutu Pendidikan Tanpa Hutang

46
Ulfah Sari Sakti,S.Pi (Jurnalis Muslimah Kendari)

Oleh: Ulfah Sari Sakti,S.Pi

Faktual.Net, Kendari, Sultra. Utang luar negeri merupakan salah satu alat bagi negara lain untuk masuk menjajah (mengintervensi kebijakan) Indonesia, mengingat saat ini tidak ada pemberian bantuan tanpa embel-embel maksud tertentu alias tidak ada makan siang yang gratis. Meskipun demikian, tampaknya pemerintah atas nama kerjasama antar negara tidak mewaspadai hal tersebut, hal ini tampak jelas pada utang luar negeri dalam proyek peningkatan mutu pendidikan Islam. Link berita online m.cnnnindonesia.com (28/6/2019) memberitakan Bank Dunia Kucurkan Pinjaman Rp 3,5 T untuk Madrasah RI.

Berdasarkan catatan Bank Dunia, sekitar 8 juta anak atau 15 persen dari total siswa sekolah dasar dan menengah di Indonesia mengenyam pendidikan di sekolah agama di bawah Kementerian Agama (Kemenag). Dalam praktiknya sekolah tersebut diikuti anak-anak dari keluarga termiskin di daerah pedesaan. Pinjaman sebesar Rp Rp 3,5 T nantinya akan digunakan untuk melaksanakan program Realizing Education’s Promise. “Mencari cara bagi sekolah untuk membelanjakan anggaran dengan lebih baik sangat penting untuk membantu anak-anak Indonesia memperoleh hasil pendidikan yang lebih baik, sehingga mereka akan semakin sukses di pasar kerja,” ujar Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, Rodrigo A Chavez.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Komaruddn menyatakan pengembangan modal manusia merupakan salah satu prioritas utama pemerintah. Karenanya, penting untuk memastikan seluruh anak Indonesia menerima pendidikan yang Bermutu.  “Melalui proyek ini, sekitar 8 juta siswa sekolah dasar dan menengah madrasah akan mendapatkan manfaat dari peningkatan manajemen sekolah, sistem data pendidikan, dan proses belajar mengajar,” terang Komaruddin.

Menteri Agama, Lukman mengatakan pengembangan 48 ribu madrasah negeri dan swasta se-Indonesia tidak akan optimal jika hanya mengandalkan anggaran negara.  Pasalnya, keterbatasan dana mengakibatkan pengembangan madrasah lebih terpusat pada pengembangan bangunan fisik, belum ke arah kualitas pendidikan.  “Untuk menyiapkan sarana fisiknya saja, APBN kita tidak cukup.  Apalagi bicara kualitas guru, sistem rekrutmen siswa, standarisasi siswa dan membangun sistem informasi dan tekhnologi yang lebih baik,” kata Lukman.

Baca Juga :  Tanpa Oposisi??? Itu Juga Demokrasi Yang Cantik

Menurut saya sebagai masyarakat awam, berdasarkan apa yang saya baca di media dan lihat di daerah, terdapat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama Islam Terpadu (SDIT dan SMPIT) yang membiayai seluruh aktivitas belajar mengajarnya dari biaya orang tua siswa, karena biaya yang diberikan pemerintah tidak mencukupi.

Meskipun demikian, biaya yang dibebankan kepada orang tua siswa dianggap tidak memberatkan karena adanya perjanjian (akad) yang jelas dan para orang tua pun merasakan manfaat menyekolahkan anaknya di SDIT atau pun SMPIT tersebut, khususnya dalam hal IPTEK dan IMTAK.  Jadi sekolah tersebut tidak perlu utang ke penerbit buku atau pun toko alat tulis, layaknya sekolah negeri lainnya sampai biaya operasional baik biaya operasional pendidikan (BOP) atau pun biaya operasional sekolah (BOS) nanti cair.

Kejayaan Pendidikan di Sistem Islam Tanpa Utang

Diakui atau tidak, fakta sistem pemerintahan Islam mencapai puncak kejayaannya tanpa utang nyata terjadi. Seperti Madrasah Nizamiyah, sekolah Islam pertama.  Sekolah ini didirikan oleh Nizam al-Mulk, yang awalnya hanya ada di Kota Bagdad, kemudian berkembang ke berbagai kota dan wilayah lain misalnya Kota Balk, Nisabur, Isfahan, Mowsul, Basra, dan Tibristan.  Philip K Hitti, dalam sejarah bangsa Arab menulis, Madrasah Nizamiyah merupakan contoh awal dari pendidikan yang menyediakan sarana belajar yang memadai bagi para penuntut ilmu.

Selain itu, Madrasah Nizamiyah telah memiliki manajemen tersendiri dalam pengelolaan dana, punya fasilitas perpustakaan yang berisi lebih dari 6.000 judul buku laboratorium dan beasiswa yang berprestasi.  Bidang yang diajarkan meliputi disiplin ilmu keagamaan (tafsir, hadis, fikih, kalam, dan lainnya) dan disiplin ilmu akliah (filsafat, logika, matematika, kedokteran dan lainnya).  Kurikulum Nizamiyah menjadi kurikulum rujukan bagi institusi pendidikan lainnya.

Terdapat pula Universitas Al-Qarawiyyin di Fez Maroko, lembaga pendidikan yang terbilang sangat modern dan tertua di dunia,  Guinnes Book of Record (museum rekor dunia) mencatat lembaga ini merupakan perguruan tinggi pertama di dunia yang memberikan gelar kersarjanaan.  Menurut Majalah Time edisi 24 Oktober 1960, lembaga ini didirikan pada tahun 859 M.

Baca Juga :  Drama MRT dan "Undertable Transaction

Majalah Time menjuluki universitas ini sebagai Renaissance in Fez.  Lembaga ini pernah melahirkan sejumlah tokoh muslim kenamaan, diantaranya Abu Abdullah Al Sati, Abu Al-Abbas al-Zwawi, Ibnu Rashid Al-Sabti, Ibnu Al-Haj Al-Fasi serta Abu Mazhab Al-Fasi. Lembaga ini memiliki peran penting dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan di Barat pada abad ke-15 M.  Pemimpin tertinggi umat Katolik, Paus Sylvester II sempat menimba ilmu di universitas favorit dan terkemuka ini (Republika.co.id).

Melihat sejarah dan fakta tesebut diatas, alangkah mirisnya jika pemerintah tidak optimis dalam meningkatkan mutu pendidikan sekolah Islam tanpa utang, apalagi dalam Islam, utang dibolehkan jika benar-benar sangat terdesak mengingat bahaya utang salah satunya adalah, pahala adalah ganti hutangnya, dari Ibnu Umar, Nabi Muhammad saw bersabda,”Barang siapa mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena disana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.

Jika pemerintah optimis tak perlu utang untuk meningkatkan mutu pendidikan Islam, tentunya kita berharap akan tercipta generasi muda Islam yang berkualitas, apalagi ilmu merupakan bekal hdup di dunia yang tidak ternilai.  Sebagaimana sabda Rasulullah saw dalam HR Jarir Ibnu Abdillah, “barang siapa yang berbekal dalam dunia, maka hal itu akan memberikannya manfaat di akhirat kelak”.  Serta perkataan Ali bin Abi Thalib, “Ingatlah bahwa kamu akan memperoleh ilmu kecuali dengan memenuhi enam syarat yang akan aku terangkan secara ringkas, cerdas, rajin, sabar, mempunyai bekal, petunjuk guru, waktu yang lama atau panjang”Wallahu’alam bishowab[].

Penulis Adalah Jurnalis Muslimah Kendari

(Opini Diluar TanggungJawab Redaksi)

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :