Faktual.net — Garut, Jawa Barat – PT Aneka Tambang Tbk (Antam) saat ini masih memfokuskan kegiatan pada tahap evaluasi dan kajian kelayakan teknis serta keekonomian sebelum memulai operasi produksi tambang di Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Garut. Meskipun telah memiliki izin usaha pertambangan yang resmi, perusahaan belum dapat memulai kegiatan penambangan komersial karena hasil analisis yang dilakukan belum memenuhi standar kelayakan yang ditetapkan.
Proyek yang dikelola oleh unit Geologi dan Mineral Antam ini berfokus pada pengembangan potensi endapan emas tipe epitermal sulfidasi tinggi yang tersebar di kawasan Cijulang. Selama proses penilaian berlangsung, Antam tetap menjalankan berbagai program pemberdayaan yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan warga sekitar dan menjaga keseimbangan lingkungan.
Menurut pernyataan perwakilan manajemen, M. Dian Syahputra, “Kami memastikan setiap langkah yang diambil sesuai dengan standar yang berlaku agar operasi nantinya dapat berjalan dengan baik dan berkelanjutan. Di samping itu, kami juga berkomitmen untuk memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat sejak tahap persiapan ini,” ujarnya.
Salah satu program unggulan yang dijalankan adalah budidaya maggot yang memanfaatkan sampah organik dari warga. Program ini tidak hanya berfungsi untuk mengurangi timbunan limbah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Hasil budidaya maggot kemudian dimanfaatkan sebagai pakan utama dalam usaha peternakan ayam petelur yang juga dikelola oleh perusahaan.
“Program ini memiliki manfaat ganda, yaitu mengatasi permasalahan lingkungan sekaligus memberikan sumber pendapatan tambahan bagi warga,” jelas M. Dian Syahputra. “Seluruh hasil produksi dari kedua kegiatan ini disalurkan secara cuma-cuma kepada masyarakat setempat.”
Dengan adanya kegiatan pemberdayaan yang berjalan, Antam berharap dapat membangun hubungan yang baik dengan warga sekaligus memastikan bahwa ketika operasi mulai berjalan nanti, proyek tersebut dapat memberikan kontribusi yang besar bagi pembangunan daerah dan kesejahteraan seluruh pihak yang terlibat.
Reporter: Bareta Siburian.
















