Oleh: Immawan Kariadi
Faktual.Net, Kendari, Sultra — Semenjak jadi Mahasiswa Baru (Maba) dilahirkan dari rahim Jurusan Jurnalistik, Fakultas berbasic parlemen yaitu, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, untuk menimbah ilmu dan pengetahuan sedalam dalamnya sumur, serta pengalaman di organisasi internal kampus maupun eksternal, sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan dan berbuat untuk kemanusiaan.
Mahasiswa hedonisme atau apatis apalagi yang hanya kuliah, kos dan pulang kampung, atau biasa diistilakan 3K, tentu bagi saya merasa kurang jika tanpa pengalaman dan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari luar kampus.
Dikalah itu seiring berjalanya waktu, dalam dunia perkuliahan saya diajak oleh sahabat sekaligus leting pada masa SMA (Rizal Amrin) melalui langkah hegemoni ia meyakinkan untuk mengikuti training Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) saat itu, namun mendengar nama itu terasa menggelitik dan asing di telingaku, walaupun itu bukan pilihan saya sebenarnya, karena sebelumnya sudah ada keinginan untuk berkader di lembaga lain, maka atas ajakan itu seyogyanya mengikuti proses pengkaderan dasar bahkan sampai ke jenjang pengkaderan madya level skala nasional untuk mengetahui lebih dalam apa itu IMM.
Usai melalui langkah proses pengkaderan itu banyak tantangan yang dilalui dan jalan berliku, hingga berdedikasi dengan ikhlas dan sepenuh jiwa dan raga. Awal bergabung di IMM banyak suka maupun duka, merasa terombang ambing tidak jelas. Sampai menemukan senior kader – kader inspiratif dan berdialegtika hingga merubah pola maindset paradigma berpikir dalam berproses totalitas, berpikir keras untuk menemukan jawaban namun layaknya angin di pesisir pantai, semua hanya bisa kurasakan dan ingin kugenggam.
Dan disinilah keberuntungan saya bergabung di IMM tidak ada penyesalan sedikitpun karena dari situ ada kenyamanan dan diberi ruang untuk berekspresi hingga ketemu orang baik yang selalu jadi rumah intelektual saat kehilangan arah.
Kembali mengingat historis perjuangan pengkaderan pasca Darul Arqam Dasar (DAD) Desember 2018 yang bertempat di SMK Maritim Muhammadiyah Kendari, mengingat akan ikrar yang telah kulantunkan dengan penuh khikmad pada waktu subuh. Dipenghujung subuh hingga terbitlah sang surya (Matahari) dengan meneriakan puisi yang dulu begitu lantang yang tembus ke hati membakar jiwa untuk berbuat birul walidayin pada kedua orang tua dan mau berproses di ikatan.
Pasca-DAD itu mulai dirangkul menjadi pengurus IMM Komisariat Fakultas Hukum dan Ilmu Administrasi (FHIA) UHO, walaupun sempat terlintas di cakrawala pikirannku ingin berhenti namun jiwa ini, selalu bergetar takut dan memberontak dalam logika akan kehilangan rumah yang sudah menjadi penopang lemahnya jiwa ini. Ada apa dengan diriku selemah ini. Apakah aku diajarkan oleh kanda-kanda pendampingku untuk berhenti? Apakah komisariatku telah mati ? Atau sebenarnya saya yang mencari-cari alasan untuk berhenti dan lari agar di cari.
Teruntuk itu, kanda – kanda instruktur pendampingku yang selalu membina mengkuatkan membesarkan untuk terus berproses di tempat ini, saya berterima kasi tanpa kalian saya bukan siapa-siapa dan selalu merangkul jika diri ini menjauh dari tanggung jawab sebagai kader ikatan.
Saya dilahirkan di organisasi atau wadah berkumpulnya kader merah maron, yang tentunya, ada motivator, tempat berteduh, pengalaman Dan kawan-kawan baru (Dkk) atas hal itu tak pernah kudapatkan di bangku perkuliahan. Hal terbaik cukup sulit ditemukan selama masa transisi awal perkuliahan, tapi Allah pertemukan saya semua itu melalui Komisariat IMM yang ada di Universitas Halu Oleo.
Lebih jauh, Jadi bagian dari IMM itu berat apalagi sudah diberikan amanah untuk tetap berkomitmen dan konsisten dalam menjalankan mekanisme roda organisasi sebagai mana mestinya, berangkat dari itu tentunya mendapat tantangan baru, harus tanggun, berani, gigih, ulet dan berkarya nyata yang tak sekedar kata-kata. Disini saya hadir bukan sebagai hero atau pahlawan yang sok menggurui, melainkan saya hadir sebagai orang kampung yang menginginkan satu kedamaian dalam membangun relasi dalam konteks apapun itu.
Tak hanya itu, jika tidak ada seorangpun yang bisa berkomitmen atau punya komitmen maka kehidupan seorang insan akan tidak terarah dan berjalan labil seperti kapal ditengah badai lautan yang terombang – ambing untuk mencapai kestabilan arah angin. Kesadaran merupakan hal mutlak yang seharusnya terkandung dalam setiap relung hati seorang kader progresif dan militansi.
Karena organisasi ini sangat mandiri. kita memang tidak bisa mendapatkan ini itu di IMM melainkan kita berkontribusi di IMM, sekecil apapun itu, dan disinilah kita belajar berjuang keras, apa arti ikhlas, berkorban dan bertahan, ikatan yang dibentuk di IMM itu ikatan yang didasarkan tauhid, jadi berat untuk meninggalkannya.
Mengapa saya masih bertahan di lingkar merah maron itu ? Tentu tidak lain dan tidak bukan, karena jikalau sudah mencintai IMM apapun yang kita buat akan condong kepadanya, saya sadar betapa tidak bergunanya jasad ini untuk menghidupkan ikatan yang kucintai.
Tidak dijanjikan sebuah jabatan ketika kita selesai di komisariat maupun di cabang dan kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Akan tetapi yang terpenting hanya memberikan sebuah proses pengetahuan dan pengalaman dari hal-hal kecil menuju hal yang besar kepada kita, agar memahami tentang nilai-nilai sebuah perjuangan tanpa batas dan perjuangan itu bisa tersematkan pada patron generasi dimasa akan datang.
IMM lahir pada 14 Maret 1964 yang kini usianya memasuki setengah abad lebih mendekati ke-57 tahun dengan tujuan terbentuknya akademisi Islam yang berahlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah, melalui itu saya terus berjalan dan berjuang melawan kebodohan dan mencoba meneladani tokoh hebat yaitu KH. Ahmad Dahlan dengan pemikiran- pemikirannya yang luar biasa, membawa umat Islam menuju kesejahteraan dunia dan akhirat, menggagas pembaharuan, dan memerangi TBC (Tahayul, Bid’ah dan Kurafat) yang sudah mendarah daging diumat islam Indonesia waktu itu, namun berkat kegigihan dan kerja keras beliau akhirnya beliau berhasil mencerahkan masa depan islam di Indonesia.
Saya belajar banyak hal bagaimana dalalm berproses, bagaimana memposisikan bahwa ilmu sangat penting bagi kehidupan karena peradaban yang besar selalu memeliki literasi yang baik dan dalam kehidupan agama adalah sebagai proteksi kehidupan dan jalan menuju prosepek kebahagiaan yang hakiki IAAI (Ilmu Amalia dan Amal Ilmiah). Ilmu senantiasa di amalkan untuk menebar manfaat dan amal harus berlandaskan ilmiah atau ilmu yang dimiliki.
IMM tempat proses belajar melalui orientasi tri kompetensi dasar yang bergerak di bidang Religiusitas Intelektualitas dan Humanitas (RIH), diajarkan untuk tetap menjaga keutuhan secara universal, berjalan dengan keseimbangan tiga tri kompetensi itu. Meski dibalut perbedaan, bagaimana menjadi seorang cendekiawan yang bergerak atas ilmu dan pengetahuan, untuk membangun peradaban dan beramal baik, yang tak hanya berjalan dan berlari tapi bagaimana melakukan sebuah lompatan dalam Berfastabikul Khairat (Berlomba-lomba dalam kebaikan) dan berakhlak mulia. Karna alasan itulah ber-IMM dan tidak ada alasan untuk meninggalkannya.
Untuk di masa sekarang menlajutkan kembali sprit perjuangan, dengan rumah yang baru dibentuk, walupun itu insiatif dibangun sejak tahun ke tahun bersama kawan-kawan, menunggu kepastian legitimasi yang tak jelas, hal itu sempat kecewa menjadi paku tajam yang menghujam ulu hati, akan tetapi semangat tinggi tak pernah padam dan luntur.
Namun saat ini rumah baru itu terealisasikan dan menahkodainya untuk bangkit kembali komisariat Fisip yang dulu pernah ada, jika tidak hanya akan menjadi catatan kelam di kemudian hari. Oleh karena saya banyak butuh bimbingan dari para senior siapa pun itu yang sudah berpengalaman sebelumnya untuk bagaimana bisa mengelola ikatan agar terus berkembang dan mengukir sejarah baru. Terus abadikan perjuangan sampai titik darah penghabisan dengan keseimbangan antara hati pikiran dan realitas nyata.
Immawan Immawati sejatinya memang kita saat dalam merekonstruksi pergerakan dan perjuangan seringkali dibenturkan dengan banyak problematika, tapi itulah seninya dan dibalik sekenario itu yakinlah ada cerita indah yang sedang tuhan persiapakan. Niatkan semuanya sebagai bentuk pengabdian kepadanya meski terkadang konsekuensinya terkadang kita akan hanya menjadi pahlawan kecil yang tak dikenal.
Fastabiqul Khairat
Penulis: Ketua Umum Komisariat IMM Fisip UHO.









