Example floating
Example floating
Iklan Ramadhan
BeritaDaerahPeristiwa

Ruang Sipil Soroti Dugaan Tindakan Kekerasan Aparat Terhadap Korban Unras di Kendari

26
×

Ruang Sipil Soroti Dugaan Tindakan Kekerasan Aparat Terhadap Korban Unras di Kendari

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Faktual.Net, Kendari, Sultra — Melalui Koordinator Ruang Sipil La Ode Muhammad Safaat kembali menyoroti kekerasan aparat keamanan terhadap peserta Unjuk Rasa (Unras), diduga insiden yang terjadi pada Senin (11/01/21) di depan Hotel Claro Kendari bukanlah semata-mata hasrat sejumlah personil kepolisian untuk melakukan tindak kekerasan.

Ruang Sipil merespon adanya dugaan tindak kekerasan yang dilakukan oleh sejumlah aparat kepolisian terhadap peserta Unras, Ruang Sipil menduga hal tersebut terkomandoi.

Pasang Iklanmu
iklan 468x60
Pasang Iklanmu

“Korbannya ada dua orang. Salah satu korban mengatakan bahwa puluhan aparat tiba-tiba keluar dari halaman Hotel Claro dan langsung melakukan pengejaran terhadap peserta Unras,” ungkap Faat Selasa, (12/01/2021).

“Benar bahwa di depan hotel sempat terjadi saling dorong, tapi eskalasinya tidak terlalu tinggi. Toh peserta Unras hanya sekitar belasan orang. Bahkan sebenarnya mereka siap koorperatif, lalu kenapa bukan upaya persuasif yang dilakukan,” imbuh Faat.

Diketahui, kedua korban tersebut bernama Elen Vanzila dan Iksan. Elen mengalami luka di dahi kanan, kepala bagian belakang, lutut kiri, memar dilengan kanan. Sementara Iksan mengalami luka di dahi kanan, lengan kiri dan bahu kanannya memar.

Baca Juga :  BNNP Sultra – Kwarda Pramuka Jajaki Pembentukan Saka Anti Narkoba

“Hingga saat ini punggung mereka masih terasa sakit, kemungkinan terkena tendangan. Elen juga sempat sesak nafas dan pingsan, namun sekarang kondisinya mulai membaik,” ungkap Faat.

Lebih lanjut, Faat mengatakan bahwa para korban telah memasukkan laporan di Polresta Kendari. Untuk selanjutnya Faat berharap agar para pelaku dapat dihukum secara etik dan pidana.

“Kita sudah kantongi satu nama pelaku, semoga bisa dikembangkan. Berdasarkan keterangan saksi-saksi, aparat kepolisian yang berada di lokasi berasal dari Satuan Brimob, Satuan Sabhara, dan Satuan 65 Polresta Kendari,” terang Faat.

Terakhir, Faat menambahkan bahwa kultur kekerasan masih melekat pada institusi Polri. Kerangka hukum tidak lagi di perdulikan.

“Polanya masih sama, pendekatan kekerasan terus terjadi secara berulang. Evaluasi dibutuhkan, namun yang terpenting adalah di internal kepolisian butuh leader,” pungkas Faat.

Reporter: Kariadi

Tanggapi Berita Ini