faktual.net, Morowali, Sulteng. Bupati Morowali, Iksan Baharudin Abdul Rauf, mengungkapkan bahwa mesin pengolah sampah yang saat ini diuji coba di kawasan pengolahan sampah Labota, Kecamatan Bahodopi, merupakan hasil terobosan yang dirancang khusus sesuai kebutuhan daerah.
Menurut Iksan, salah satu keunggulan mesin tersebut adalah kemampuannya mengurangi kebutuhan tenaga kerja dalam proses pengolahan sampah. Jika sebelumnya pengelolaan sampah membutuhkan sekitar 20 orang pekerja, kini cukup dijalankan oleh maksimal lima orang.
“Jadi salah satu keunggulan mesin pengolah sampah ini adalah tidak terlalu banyak memakai tenaga manusia. Mungkin sebelumnya yang mengurus sampah ini sekitar 20 orang, sekarang paling banyak, hanya lima orang,” ujar Iksan, Sabtu (6/6/2026).
Ia menjelaskan, pembagian tugas operator juga cukup sederhana. Satu orang bertugas mengawasi conveyor agar sampah tidak menumpuk, satu orang mengoperasikan mesin, satu orang mengontrol pergerakan conveyor, dan satu orang lainnya mengatur hasil produksi yang dihasilkan dari proses pengolahan.
Menurut Iksan, efisiensi tenaga kerja tersebut menjadi salah satu alasan utama pengembangan teknologi pengolahan sampah di Morowali. Selain mempercepat proses kerja, sistem tersebut juga dinilai mampu meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah.
Menariknya, mesin pengolah sampah tersebut tidak dibuat berdasarkan rancangan teknis atau blueprint yang lazim digunakan dalam pembangunan mesin. Iksan mengaku seluruh konsep awal lahir dari gagasan yang dikembangkannya sendiri.
“Mesin ini tidak ada blueprint-nya. Waktu itu kami membuat rancangannya hanya dengan menggambar di tanah. Jadi blueprint-nya ada di otak saya,” pungkasnya tertawa.
Ia berharap inovasi tersebut dapat menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi persoalan sampah di Morowali. Selain itu, teknologi yang dikembangkan secara mandiri tersebut diharapkan dapat terus disempurnakan agar mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dan lingkungan.
Redaksi
















