Faktual.net – Klaten – Sekolah Tinggi Teologi (STT) Apollos Jakarta kembali melaksanakan penelitian lapangan sebagai bagian dari penguatan tradisi akademik dan pengembangan wawasan kontekstual mahasiswa. Penelitian yang berlangsung di kawasan Lereng Merapi, tepatnya di Desa Deles Indah, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (3/6/2026), mengangkat tema “Rekonsiliasi Iman dan Budaya” sebagai upaya membangun pemahaman yang lebih komprehensif mengenai hubungan agama, budaya, dan kehidupan masyarakat Indonesia yang plural.
Penelitian difokuskan pada komunitas penganut tradisi Kejawen dengan menghadirkan dua narasumber utama, yakni Mbah Gito dan Mbah Joko, yang dikenal luas sebagai penjaga tradisi dan kearifan lokal masyarakat setempat. Kegiatan dikemas dalam format talk show akademik dan dialog lintas perspektif, dipandu oleh Dr. Jemrif Nabunome sebagai moderator, sementara pengarahan akademik diberikan oleh Dr. Gustaf Kase.
Dalam pengantarnya, Dr. Gustaf Kase menegaskan bahwa penelitian lapangan bukan sekadar kegiatan kunjungan atau pengamatan biasa, melainkan proses akademik yang menuntut ketelitian, sikap kritis, keterbukaan, serta kemampuan memahami objek penelitian berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan. Karena itu, mahasiswa dituntut untuk mengedepankan pendekatan ilmiah dengan menghindari prasangka, asumsi pribadi, maupun penilaian yang bersifat subjektif.
Tema penelitian dipilih sebagai respons terhadap kecenderungan sebagian kalangan yang masih menempatkan iman dalam posisi superior sehingga kurang memberi ruang bagi budaya sebagai bagian dari kearifan lokal. Padahal, dalam perspektif akademik, budaya merupakan ekspresi pengalaman manusia yang mengandung nilai, simbol, dan kebijaksanaan yang terbentuk melalui perjalanan sejarah suatu komunitas.
Dalam sesi dialog, Mbah Gito dan Mbah Joko menjelaskan berbagai aspek penting mengenai tradisi Kejawen, mulai dari sejarah kemunculannya, filosofi kehidupan, sistem nilai, praktik spiritual, hingga konsep ketuhanan dan kosmologi Jawa. Mereka menjelaskan bahwa Kejawen pada hakikatnya mengajarkan harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Nilai-nilai keseimbangan, keselarasan, dan penghormatan terhadap kehidupan menjadi fondasi yang terus diwariskan dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Diskusi juga mengangkat konsep-konsep penting seperti manunggaling kawula lan Gusti, relasi manusia dengan alam, makna ritual budaya, serta peran leluhur dalam membentuk identitas dan memori kolektif masyarakat. Penjelasan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami Kejawen tidak hanya sebagai tradisi budaya, tetapi juga sebagai sistem pemaknaan hidup yang berkembang dalam konteks sejarah masyarakat Jawa.
Sebanyak 14 mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini tampak aktif melakukan pencatatan, mengajukan pertanyaan, dan berdialog langsung dengan para narasumber. Interaksi yang berlangsung secara terbuka memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan yang konstruktif antara dunia akademik dan masyarakat lokal.
Secara akademik, penelitian ini menjadi ruang integrasi berbagai mata kuliah seperti Teologi Agama-agama, Misi Lintas Budaya, Antropologi Budaya, Sosiologi Agama, dan studi agama-agama lokal. Hasil sementara penelitian menunjukkan adanya sejumlah nilai universal yang dapat menjadi titik temu antara agama dan budaya, seperti penghormatan terhadap kehidupan, tanggung jawab moral, kepedulian sosial, harmoni dengan lingkungan, dan pencarian makna spiritual.
Sejalan dengan orientasi teologi STT Apollos Jakarta yang berfokus pada pendekatan misi holistik, penelitian ini menegaskan bahwa budaya, bahasa, tradisi, dan pengetahuan lokal dapat menjadi ruang dialog yang konstruktif antariman tanpa menghilangkan identitas keyakinan masing-masing. Melalui kegiatan ini, STT Apollos Jakarta berharap mahasiswa tidak hanya memiliki kompetensi akademik yang kuat, tetapi juga sensitivitas sosial, kemampuan dialogis, dan pemahaman yang mendalam terhadap keberagaman budaya sebagai modal penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Red


















