Example floating
Example floating
Headline

Ibadah Hari Kenaikan Yesus Kristus GPIB Agape, Pdt. Pinkan Rey – Cornelis : Jadilah Saksi yang Bertekun dan Percaya pada Waktu Tuhan

×

Ibadah Hari Kenaikan Yesus Kristus GPIB Agape, Pdt. Pinkan Rey – Cornelis : Jadilah Saksi yang Bertekun dan Percaya pada Waktu Tuhan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Faktual.net – Jakarta Timur, DKI Jakarta – Minggu, 14 Mei 2026 — Jemaat GPIB Agape di Jalan Kelapa Dua Wetan, Cibubur Jakarta Timur, melaksanakan ibadah raya khusus memperingati Hari Kenaikan Yesus Kristus ke Sorga pada hari ini. Ibadah dipimpin oleh Pendeta Pinkan Rey-Cornelis selaku Pelayan Firman, dengan iringan pujian dan kesaksian rohani yang disampaikan oleh VG Narwastu GPIB Agape Sektor 11, mengangkat tema besar berdasarkan Kitab Kisah Para Rasul 1:1–16

Dalam khotbahnya, Pendeta Pinkan Rey-Cornelis menyampaikan bahwa Kitab Kisah Para Rasul merupakan kitab gereja yang menjadi pedoman utama bagi pelayanan, dimulai dari Yerusalem, Yudea, Galilea, hingga menjangkau ujung bumi. Melalui ayat 6–11 dan 12–16, beliau mengajak jemaat untuk menyadari bahwa meskipun manusia berusaha merencanakan masa depan — mulai dari berinvestasi, membangun kesejahteraan, hingga menempuh pendidikan — kenyataan sering kali menghadirkan tantangan berat: tubuh yang lemah, rasa sakit, frustasi, hingga keputusasaan akibat beban pergumulan yang tidak semuanya dapat dikendalikan sepenuhnya.

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

“Kita sering diliputi kekhawatiran dan rasa takut, terjebak pada kepentingan diri sendiri, bahkan cenderung mengatur dan menguasai sesama, sehingga yang kuat menindas yang lemah. Padahal kendali sepenuhnya ada di tangan Tuhan,” tegas Pendeta Pinkan.

Karya Keselamatan Berlanjut, Fokus Menjadi Saksi

Membahas Kisah Para Rasul 1:6–11, pendeta menjelaskan bahwa peristiwa kenaikan Yesus ke sorga bukanlah akhir dari karya keselamatan, melainkan awal persiapan bagi murid-murid untuk menerima pencurahan Kuasa Roh Kudus. Ketika murid bertanya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kembali kerajaan Israel?”, pertanyaan itu mencerminkan pemahaman mereka yang masih terbatas, mengharapkan Yesus memulihkan kerajaan Daud secara duniawi.

Namun jawaban Yesus sangat tegas: “Kamu tidak berhak mengetahui masa atau waktu yang ditetapkan Bapa dengan kuasa kekuasaan-Nya” (ayat 7). Hal ini menjadi pengingat bahwa manusia tidak perlu pusing memikirkan kapan pemulihan terjadi, karena itu adalah hak mutlak Tuhan. Yang terpenting adalah janji dalam ayat 8: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Menurutnya, banyak ahli tafsir yang sibuk memperdebatkan kapan kedatangan Kristus yang kedua kali, namun lupa melaksanakan tugas utama: melayani dan bersaksi. “Pertanyaan penting bukanlah ‘kapan Dia datang’, melainkan ‘apakah kita sudah menerima Roh Kudus dalam hidup kita secara pribadi agar benar-benar bisa menjadi saksi Kristus?’,” ujarnya.

Baca Juga :  Dukungan Penuh DPRD Maluku untuk “Big Fight 2026” Pattimura: Perebutan 4 Sabuk Kehormatan Digelar 29 Mei di Jakarta

Pendeta Pinkan mengingatkan bahwa ambisi dan kepentingan diri sendiri, jika tidak dikendalikan, hanya akan menjerumuskan manusia pada kesombongan. Itulah sebabnya Yesus mengarahkan murid untuk fokus pada tugas pokok, bukan pada hal-hal yang berada di luar kendali manusia. Saat naik ke sorga, Yesus yang semula merendahkan diri seperti hamba saat di dunia, kembali kepada kemuliaan-Nya untuk mempersiapkan tempat bagi orang percaya. Peristiwa itu disertai awan kemuliaan, dan janji melalui dua malaikat: “Yesus ini, yang terangkat ke sorga dari padamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”

Pelayanan Yesus di dunia ditandai dengan kedekatan yang akrab dengan murid-muridnya, dan setelah naik ke sorga, kehadiran-Nya tetap nyata melalui kuasa Roh Kudus yang akan melimpah.

Bertekun Berdoa, Pulihkan Relasi dan Tujuan Gereja

Melanjutkan pembahasan ayat 12–16, Pendeta Pinkan menekankan pentingnya perubahan cara pandang dan perilaku. Murid-murid Yesus setelah menyaksikan kenaikan-Nya, kembali ke Yerusalem, tinggal di sebuah rumah dan “bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama”.

“Inilah pertanyaan mendalam bagi kita: Sudahkah kita menjadi pendoa sejati? Apakah dalam keluarga, suami dan istri, orang tua dan anak, kita rukun dan meluangkan waktu berdoa bersama? Doa harus tetap menyala, tidak boleh dingin. Ketika kita mendengar dan mau diajar oleh Sang Guru Agung, pasti akan ada perubahan positif dalam hidup kita,” ungkapnya.

Pendeta Pinkan  menyayangkan kondisi yang sering terjadi: relasi menjadi dingin karena mementingkan diri sendiri; gereja lebih sibuk menjaga citra diri agar dipuji manusia, melupakan Yesus sebagai Kepala Gereja, hingga lupa melayani dan hadir di tengah kesengsaraan serta kemiskinan masyarakat. “Ingatlah, apa yang kita kerjakan hendaknya untuk Tuhan, bukan untuk manusia. Jika Tuhan menghendaki kita sakit, kita terima dengan pasrah, karena hidup kita pun berada di dalam kendali-Nya semata,” tegasnya.

Pendeta juga mengapresiasi komitmen GPIB yang secara konsisten mengajak jemaat membangun ibadah keluarga dan hidup bertekun dalam doa. Hal ini selaras dengan Tri Dharma Gereja: bersekutu, bersaksi, dan melayani, yang semuanya akan diperlengkapi oleh kuasa Roh Kudus.

Di penghujung khotbah, perayaan Hari Kenaikan Yesus Kristus ditegaskan sebagai hari kemenangan sekaligus hari pengharapan. Semangatnya adalah agar jemaat terus maju bersama, memelihara Injil dengan pimpinan Roh Kudus, serta membangun kehidupan yang saling menghormati, saling mengampuni, dan setia menjadi saksi Kristus di mana pun ditempatkan.

Reporter: Johan Sopaheluwakan – Pattinasarany 

Tanggapi Berita Ini
https://faktual.net/wp-admin/post.php?post=199474&action=edit