Faktual.net, Makassar, Sulsel– Ketua DPRD Kabupaten Bone, Andi Tenri Walinonong, SH, menegaskan pentingnya pelestarian aksara lokal sebagai fondasi peradaban dan identitas bangsa dalam kegiatan Kick Off Festival Aksara Lontaraq Volume VII yang dirangkaikan dengan Haul Internasional Syekh Jamaluddin Al Akbar Alhusaini Tosora 2026, Jumat (19/12/2025), di Nipah Mall, Makassar.
Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber di antaranya Prof Nurhayati dan Prof Firdaus Nur. Turut hadir Wakil Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Provinsi Sulsel, Ma’shum, Ketua Yayasan Syekh Jumadil Kubro Al Husaini Tosora, R Dedi Irawan, perwakilan PC NU, Ismail, Wakil Rektor Universitas Islam As’adiyah Sengkang serta perwakilan Kanwil Kementerian Agama.
Kegiatan yang digagas Kabar Grup Indonesia ini menjadi bagian dari upaya strategis menjaga khazanah literasi Nusantara sekaligus memperkuat peradaban aksara lokal sebagai warisan budaya bangsa.
Dalam sambutannya, Andi Tenri Walinonong menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni budaya, melainkan memiliki makna akademik, historis, dan peradaban yang sangat mendalam.
Acara hari ini bukan hanya sekadar ajang berkumpul, melainkan bagian dari upaya kita bersama dalam pelestarian khazanah literasi Nusantara sekaligus memperkuat peradaban aksara lokal sebagai bagian tak terpisah dari warisan budaya bangsa,” ujarnya.
Menurutnya, aksara lokal seperti Lontaraq bukan hanya alat komunikasi masa lalu, tetapi merupakan medium intelektual yang menyimpan nilai sejarah, hukum adat, filosofi hidup, hingga tata pemerintahan masyarakat Bugis-Makassar.
Tanpa kita sadari, aksara Lontaraq bukan sekadar tanda tulis. Ia adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan sejarah, sistem pengetahuan, dan nilai-nilai luhur nenek moyang kita. Di dalamnya tersimpan konsep kepemimpinan, etika sosial, serta kearifan lokal yang relevan hingga hari ini,” jelas Ketua DPRD Bone dari Fraksi Partai Gerindra tersebut.
Secara akademik, Andi Tenri Walinonong menekankan bahwa pelestarian aksara lokal harus dipandang sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia dan penguatan identitas kebudayaan daerah.
Dalam perspektif ilmu sosial dan kebudayaan, aksara lokal merupakan bagian dari intangible cultural heritage yang jika tidak diwariskan secara sistematis akan mengalami kepunahan. Oleh karena itu, negara, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan komunitas literasi harus bersinergi agar aksara Lontaraq tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dikontekstualisasikan dalam kehidupan modern,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi dirangkaikannya festival ini dengan Haul Internasional Syekh Jamaluddin Al Akbar Alhusaini, yang dikenal sebagai Imam Besar dan Guru para Wali, termasuk Wali Songo, dalam penyebaran Islam di Nusantara.
Peringatan haul ini mengajarkan kepada kita bahwa peradaban besar lahir dari ilmu, dakwah yang berakhlak, serta keteladanan. Nilai-nilai tersebut selaras dengan semangat literasi dan kebudayaan yang kita peringati hari ini,” tambahnya.
Dengan penuh kebanggaan, DPRD Kabupaten Bone menyatakan dukungannya terhadap penyelenggaraan Festival Aksara Lontaraq Volume VII sebagai ruang edukasi, dialog kebudayaan, dan transfer pengetahuan lintas generasi.
Festival ini kami harapkan menjadi wadah edukasi, berbagi pengetahuan, dan menumbuhkan semangat cinta terhadap aksara Lontaraq, khususnya bagi generasi muda. Warisan budaya ini harus dijaga agar tidak hilang oleh zaman, tetapi tumbuh dan berkembang seiring kemajuan teknologi,” tutupnya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya literasi budaya dan peran aksara lokal dalam membangun peradaban bangsa yang berakar pada nilai-nilai luhur Nusantara.
(Tahar.).
















