Example floating
Headline

SURAT TERBUKA KEPADA BAPAK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

×

SURAT TERBUKA KEPADA BAPAK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Sebarkan artikel ini

Faktual.net – Garut, JAwa Barat – Senin (20/10/2025) – Yang Terhormat,
Bapak Presiden Republik Indonesia,
di
Jakarta.

Dengan segala kerendahan hati, izinkan saya, seorang rakyat biasa yang peduli akan kecemerlangan dan kemuliaan bangsa, menuliskan surat ini.

Adapun maksud surat ini bukan dalam rangka menuntut apalagi mencela akan tetapi sekadar mengingatkan kita semua, dengan tulus ikhlas dari lubuk hati yang paling dalam, bahwa di balik gedung-gedung tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang membanggakan, ada satu pilar bangsa yang masih mengkhawatirkan yakni “Pendidikan.” Pendidikan bukan hanya harus berdampak, akan tetapi harus dibuat kokoh sehingga mampu duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan negara-negara maju.

Pendidikan bukan sekadar program kerja atau angka dalam laporan tahunan. Ia adalah jantung dari peradaban, akar dari segala kemajuan, dan cermin sejati dari bangsa yang ingin berdiri tegak di hadapan dunia. Namun, sebagaimana jantung tak akan berdetak tanpa darah, pendidikan tak akan bergerak tanpa guru. Guru adalah energi jiwa yang menyala dalam kehidupan orang lain. Ia pembimbing manusia dari kegelapan menuju terang.

Bapak Presiden yang dimuliakan Tuhan Yang Maha Esa,
Sebagai pembimbing jiwa, penuntun akal, penyulut semangat hidup, dan penanam nilai dan karakter, guru bukanlah sekadar profesi. Ia adalah panggilan jiwa, pengabdian seumur hidup. Dalam diam dan peluhnya, ia menyalakan cahaya di tengah gelapnya ketidaktahuan. Yang ia bangun bukan gedung, tapi manusia. Dan, dari manusia yang tercerahkanlah, bangsa ini akan bangkit, tumbuh, dan bermartabat.

Namun kenyataan di lapangan kerap mencemaskan. Masih banyak guru yang hidup dalam keterbatasan, dihimpit oleh sistem yang kaku, digerogoti semangatnya oleh birokrasi yang tak memahami hakikat mendidik. Apakah kita ingin membangun bangsa yang kuat, namun melupakan mereka yang membangun manusianya? Tentu, tidak.

Bapak Presiden yang kami banggakan,
Kami tidak meminta pujian untuk guru. Kami tidak memohon kemewahan. Kami hanya memohon pengakuan yang nyata bahwa di setiap visi pembangunan, pendidikan menjadi poros utamanya. Dan, bahwa dalam setiap pidato kebangsaan, ada ruang untuk menyebut mereka yang berjasa tanpa tanda jasa.

Sejarah peradaban manusia telah mengajarkan kepada kita bahwa: “Bangsa yang besar bukan bangsa yang kaya sumber daya alam, tetapi bangsa yang menghargai mereka yang mencerdaskan anak-anak bangsa.”

Akhir kata, izinkan saya menitipkan kepada Bapak Presiden bahwa masa depan Indonesia ada di ruang-ruang kelas yang mungkin sunyi, tapi penuh cahaya.

Demikianlah surat terbuka ini saya sampaikan dengan penuh hormat dan penuh harapan. Semoga Bapak Presiden senantiasa diberi keselamatan dan kebijaksanaan dalam memimpin, diberi usia yang panjang dengan kesehatan yang prima, dan pada setiap langkah dibimbing oleh Tuhan Yang Maha Esa. Aamiin.

Dengan hormat dan harapan,
Maman A. Djauhari
Seorang pensiunan Guru Besar ITB, tinggal di Garut, yang percaya bahwa: “Pendidikan adalah jalan terbaik menuju kemuliaan bangsa.”

Red

Tanggapi Berita Ini