Example floating
Example floating
HiburanInspirasi

Perjamuan Malam di La Familia, Akhir Sebuah Kisah

×

Perjamuan Malam di La Familia, Akhir Sebuah Kisah

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

faktual.net, Sulawesi Tenggara. Siang yang begitu terik, grup kelas kami ramai dengan kata kata, “share lokasinya”, OTW, dimana kumpulnya, sebentar menyusul. Tujuan kami Villa La Familia Tapulaga, perencanaannya singkat tapi terwujud dengan maksimal. Awalnya kami rencanakan tanggal 9 Agustus 2025 tapi pertimbangan teman teman bahwa Konkep ada acara Devile, maka kami majukan ke tanggal 2-3 Agustus 2025. Itu keputusan final, keputusan yang didasarkan atas nama kelas.

Sekitar pukul 02.15 Wita, menggunakan motor, saya tiba di La Familia disusul dengan Tety beserta anak dan sopirnya. Tety membawa bakso sesuai dengan janjinya bahwa dia akan bertanggungjawab untuk menyediakan bakso, saya pun membantu menurunkan barang bawaan dari dalam mobilnya. Di Villa sudah ada grup Bombana, mereka memang selalu Solid dalam urusan kelas, Ikan dan Udang tidak pernah ketinggalan. Tiga kali kami Family Gathering, Ikan dan Udang selalu didrop oleh grup Bombana, entah siapa pemimpin pasukan ini, yang pastinya Kano, Syamsumarlin, Sapriadi, Inka dan Ani selalu Solid, kayak kader partai berwarna merah yang Ketumnya selalu teriak solid.

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

Bersama grup Bombana, di Villa juga sudah ada Erni dan Putu. Dua insan yang tidak pernah terpisahkan dalam setiap kegiatan kelas dan selalu hadir. Kehadiran Erni sangat kami harapkan sebab waktu rapat dirinya yang mengambil tanggungjawab untuk membawa beras. Kalau Erni tidak datang, maka puasa kami makan nasi, walaupun ada Ikan, ada Udang, ada Sagu, ada Ubi, ada pisang, ada sayur kalau nasi tidak ada maka tak lengkaplah, biasa Indo tanpa makan nasi dianggap belum makan.

Disamping Erni selalu ada Putu, siang itu Putu bertugas mengurus sayur, petik petik sayur. Mandiri hidup dikos, jauh dari orang tua dan keluarga membuat Putu mahir memetik sayur. Tampak dari kejauhan saya lihat Putu begitu semangat memetik sayur, kayaknya bakat alam karena atau pernah ikut kursus persayuran yang pasti kami menaruh harapan atas skill Putu siang itu.

Selang berapa lama Makson tiba disusul oleh Arum. Makson janjian dengan Arum untuk saling tunggu dijembatan Bahteramas, Makson menunggu Arum dan Arum berpesan ke Makson agar menunggu dijembatan bukan melompat di jembatan. Menjelang Ashar suasana semakin ramai di Villa, teman teman sudah mulai bermunculan satu persatu tapi tidak dengan Daud, Saprul dan Erawati. Daud melalui pesan WA nya mengatakan bahwa dia akan terlambat, agak sorean mungkin tiba soalnya ada kegiatan yang tiba tiba harus dilakukan. Begitu juga dengan Saprul dan Erawati, Ayam Tawaloho yang diamanahkan kepada mereka masih kekurangan Bumbu sehingga mereka harus berputar putar dipasar terlebih dahulu. Kami sih tidak masalah Saprul dan Erawati terlambat yang penting Ayam Tawalohonya hadir, kalau tidak maka Syamsumarlin akan ngambek sebab dia sangat harapkan kehadiran masakan tersebut.

Para gadis, eh para ibu sibuk menyiapkan menu, bakso yang dibawa oleh Tety jadi menu utama siang menjelang sore. Beberapa cake yang dibawa oleh Yuli menjadi santapan awal sambil menunggu bakso yang sebentar lagi tersedia. Duet maut adu suara antara Makson dan Putu mengalahkan duet Ami Search dan Inka CriSty pada zamannya. Makson ternyata menyimpan talenta, suaranya lumayan menghibur dipadukan dengan suara Putu membuat sejenak angin laut berhenti berhembus saking syahdunya sampai sampai Arum terdiam karena tidak menyangka Makson yang selama ini lebih banyak diam ternyata menyimpan bakat terpendam. Bukan hanya Makson, Lintar juga turut menyumbangkan lagu, sebuah lagu yang mengingatkan diri pada seseorang yang sedang lanjut sekolah di Surabaya. Lintar memang sedang Jomblo sebab istrinya sedang diluar Sulawesi untuk bersekolah.

Bukan hanya Makson dan Putu, siang menjelang sore bermunculan lagi talenta berbakat, Iwan ternyata juga bersuara emas walaupun emasnya 20 karat yang penting emaslah. Awalnya sih konser dimulai oleh Kano menggunakan kemeja ala Ska, Kano membawakan lagu lagu yang menggambarkan curhatan hatinya. Apa sekedar ingin menghibur diri atau menghibur pujaan hatinya yang lagi sibuk sibuk didapur bersama ibu ibu lainnya. Dikenal dengan omelan omelannya digrup kelas, tapi Kano tetap seorang yang setia, setia menjaga Inka, dengar kabar cinta mereka mengalahkan cinta Galih dan Ratna, kisah cinta jadul yang diperankan oleh Rano Karno waktu muda.

Ani mulai berteriak dari dalam Villa, memanggil kami semua untuk makan bakso, dan ini yang paling kami tunggu, sesuai semboyan yang tidak tertulis “Tidak Ada Kata Terindah Selain Kata Mari Makan”. Setelah kami sholat Ashar, Daud kemudian datang beserta istri dan anak anaknya, disusul Saprul dan Erawati beserta anak anak mereka yang sebelumnya telah tiba Yuli beserta anak anaknya juga, membuat Villa ramai dengan kehadiran anak anak.

Paling bungsu dikelas kami, Mirna datang menggunakan motor bersama Irsyad, Ditha dan Mirwan. Mirwan adalah suami Ditha yang selalu setia mengawal istrinya disetiap kegiatan. Melihat Daud yang berjalan dengan semangat, Arum bilang “Aman Lagi Gas”, sambil tertawa, wajar sih Arum ucap demikian, sebab Daud ini setiap Sabtu sore selalu buru buru meninggalkan kelas alasannya lagi urus gas.

Kalau saya melihatnya, senyuman Daud bukan karena Gas tapi karena honor melatih paduan suara sudah cair. Sore hari, kami menuju anjungan Villa : Saya, Arum, Lintar dan Makson. Kami melantai dianjungan sambil menikmati air laut yang sedang pasang. Di anjungan kami diskusi banyak hal tentang kampus, tentang seminar proposal, seminar hasil, ujian tutup. Tidak lama Daud bergabung hendak meminjam kunci motor kesaya, katanya sih mau keluar Villa membeli teh, soalnya dia lupa membelinya. Saya bilang ke Daud yang di amini oleh Arum dan Lintar. “Daud, kan kita lagi nikmati liburan ini, coba janganmi dulu ko urus teh, kasimi junior junior yang urus teh, kenapa lagi kau kah?”, ucapanku membuat Arum tertawa. Lantas Daud menjawab “bukan begitu bro, jangan sampai lagi kalian bilang saya tidak bertanggung jawab, sebentar ada yang mau minum teh, tidak ada teh”. Kami tidak meragukan Daud, dirinya yang terbiasa berurusan dengan artefak artefak kuno dimuseum memang sangat bertanggungjawab dan selalu menepati janjinya. Dia berjanji membawa kopi dan teh, dia merasa berat jika janji itu tidak terpenuhi.

Kami berempat, Daud sendiri, akhirnya kami berhasil mencegah Daud untuk berurusan dengan teh. Daud tinggalkan kami, muncul Irsyad. Tidak berapa lama Irsyad bergabung dengan kami, Erni mendekat, angin laut membuat saya tidak mendengar apa yang diucapkan Erni dari kejauhan, saya lantas berdiri mendekat kearahnya ternyata urusan teh belum tuntas. Erni katakan “Keting, kunci motor mau beli teh, saya semakin mendekat ke Erni dengan maksud memberikan kunci motor, tapi Irsyad mendahului saya dan berkata “nanti saya yang pergi beli teh”, akhirnya urusan teh sore itu tuntas.

Duduk di bangku kecil tepian anjungan, datang Risal, Rexy dan Sohib serta Ditha menghampiri kami. Risal agak telat datang sebab dia harus menemani bosnya di Kesbangpol untuk membeli persiapan Paskibra, maklum negara kami sebentar lagi akan merayakan HUT nya yang ke 80. Risal menjadi salah satu orang yang harus ikut sibuk dengan urusan Paskibra. Pasukan Pengibar Bendera, tentu yang akan dikibarkan bendera merah putih bukan bendera bajak laut. Risal harus memastikan bahwa urusan kibar kibaran bendera harus berjalan sesuai aturan.

Arum menegur Ditha, bertanya “mana suamimu? Kenapa kotinggalkan”? Ditha kemana mana selalu dikawal oleh suaminya, bahkan ketika kami Stupus ke Malaysia dan Thailand pun suaminya ikut. Mirwan memang begitu sayang dengan Ditha, dan dia harus memastikan istrinya terjaga dengan baik. Diskusi kami semakin meriah, ada sedikit candaan terkhusus kepada Sohib yang lama tidak jumpa. Sohib duluan selesai dari kami sebab dia adalah mahasiswa integrasi dari kampus lain. Dikelas kami saat semester 2 dia bergabung hanya untuk menyelesaikan mata kuliahnya, setelah itu dia langsung seminar proposal, hasil dan tutup jadi memang dia selesai duluan. Walaupun demikian dia tetap keluarga besar kami dan kehadirannya adalah bukti bahwa dia adalah bagian dari kelas kami. Sore itu Sohib tampil santai terlepas dari dirinya punya posisi penting disalah satu instansi vertikal milik pemerintah dinegeri ini.

Sohib membaur bersama kami, walaupun ditengah tengah kami ada anak buahnya dikantor yang juga kuliah bersama kami, dia adalah Rexy, tiga kali kami Family Gathering baru kali ini dia hadir. Menggunakan Jersey warna kuning katanya sih Jersey kantor untuk olahraga Badminton walaupun kata Rexy dia tidak pernah secara langsung main badminton untuk kantor hanya sekedar menggunakan Jersey nya saja. Di acara tersebut Rexy datang bersama Chintya sama sama staf Sohib dikantor yang bergerak mengurus masalah tanah.

Berharap melihat Sunset disore hari tapi tidak kesampaian sebab La Familia bukan menghadap laut lepas, hari mulai gelap, lampu anjungan mulai menyala, kami meninggalkan anjungan untuk persiapan sholat magrib. Suara adzan dari masjid terdengar sayup sayup. Liburan oke tapi ibadah jangan lupa, kewajiban kepada sang pencipta selalu kami dahulukan disetiap aktivitas kami.

Seperti biasa ketua tingkat selalu jadi imam sholat, Alhamdulillah dipercaya untuk memimpin sholat. Sejak sore persiapan untuk bakar membakar telah dimulai, bukan bakar ban tapi bakar ikan dan udang. Saya menemukan Ani sedang kerja ikan tidak jauh dari areal pembakaran didampingi Sapriadi. Sosialita Bombana ini Low Profile, jarang lho orang seperti Ani, dia punya jabatan strategis dikantornya, tapi dikelas dia tanggalkan ego dan jabatannya untuk menyatu dengan kelas, mengerjakan ikan yang siap bakar. Ani adalah Ani, bukan Ani yang diperankan oleh Yati Octavia berpartner dengan Rhoma Irama tapi Ani Husain yang selalu ada buat kelas kami.

Bakar bakar yang dipimpin oleh Iwan semakin meriah dengan alunan lagu Syamsumarlin yang asik membawakan setiap syair syair lagu dengan penuh penghayatan ditemani oleh Dilla yang hampir tersesat tiba dilokasi sebab tak tahu jalan. Menjelang magrib saya lihat Saprul sibuk menelpon. Saya tanya siapa yang dia telpon, ternyata dia sedang mengarahkan Dilla yang mengendarai mobil sendiri menuju Villa. Saprul harus memastikan bahwa Dilla tidak salah jalan dan akhirnya Dilla sampai di Villa dengan selamat tanpa kurang satu apapun.

Kehadiran Dilla dengan suara manjanya membuat Makson semangat. Saking semangatnya akhirnya Makson menyumbangkan lagu bukan hanya satu lagu tetapi banyak lagu dengan penuh penghayatan disertai goyangan tangan. Sampai sampai Arum mengatakan bahwa bukan Makson yang lagi menyanyi itu, jangan sampai sesuatu? Tapi itu hanya candaan Arum yang memang suka mencadai Makson.

Iwan begitu asik membakar ikan, dari awal sampai akhir tidak pernah meninggalkan tempat pembakaran ditemani Mirwan, Ditha dan Mirna juga ada Lintar yang turut cubit cubit habis ikan yang dibakar. Mirna tampak begitu semangat mengoleskan minyak ke ikan yang berada dipanggangan, bukan hanya ikan yang dioles Mirna tapi terong juga dioles Mirna, saya bilang ke dia, “keluarkan skillmu Mirna”.

Sapriadi juga turut membantu Iwan tapi sesekali meninggalkan dan menjauh dari meja pembakaran, katanya matanya sedang sakit. Saya melihat memang matanya kayak kurang sehat, kurang tau apa penyebabnya apakah karena habis mengintip atau mungkin alergi debu, pokoknya malam itu Sapriadi yang menggunakan outfit basket lagi tidak maksimal urusan bakar bakaran.

Kumpul disekitaran pembakaran, ada Vickid yang selalu senyum kecil. Vickid tampak kebapakaan dengan tampilan rambut tertata rapi. Malam itu dirinya tampil agak diam, tidak banyak bicara, seolah sedang mengawasi sesuatu. Feeling saya Vickid sedang memantau gerak gerik Daud, karena Daud berada dalam kebimbangan antara mau bakar ikan atau mau konser.

Keisengan Ani muncul, dia mendekat ke Kano dan disiramkannya Kano air ikan, waduh apa apaan ini, biasanya kelakuan begini saat saat S1 dulu pas kegiatan sukses tapi kali oleh ibu ibu. Tanpa merasa bersalah ke Kano, Ani tertawa, Kano juga ikut tertawa walaupun mungkin batinnya teriris dan merenung “mimpi apa semalam”, pokoknya Inka langsung bereaksi menyuruh suaminya mandi dan ganti baju sebab Kano sudah bau ikan tak ada yang mendekat padanya. Kano pun menuruti istrinya, untuk bersih bersih mengganti bajunya dengan sepasang pakaian berwarna merah, sesuai dugaan saya warna kader partai yang pimpinannya suka teriak “Solid”.

Bukan hanya Ani yang iseng, Iwan juga iseng, iseng menyentuhkan jari manis Aris dengan jepit pembakaran yang panas. Sontak Aris teriak tapi tidak sekeras Rara kalau teriak. Aris ngomel ke Iwan, ko kira tanganku ikan kah, mendengar itu malah Iwan tertawa. Kelas kami memang selalu ada keisengan. Begitulah kelas tempat berkumpulnya orang orang yang hidup di dua zaman, zaman kolonial berlanjut zaman milenial. Kadang kelakuannya seperti penjajah kolonial, kadang juga seperti anak Milenial yang manja seperti Dilla.

Yang paling ditunggu akhirnya tiba. “Tiada Kata Terindah Selain Kata Mari Makan”, makan malam tiba, saatnya menikmati Ikan Bakar karya Iwan beserta terong bakar karya Mirna. Banyak menu malam itu, Ikan Bakar, Udang Bakar, Terong Bakar, Ayam Tawaloho, Sinonggi, Sayur, Buah Semangka, Pisang juga. Pokoknya komplit lah seperti zaman orde baru, 4 Sehat 5 Kenyang. Ada yang kurang, kurang susu sebab Daud hanya menyiapkan kopi dan teh.

Saya mengambil Ikan Bakar dan Ayam Tawaloho. Saprul sedang atraksi menggulung Sinonggi ke piring teman teman, rupanya Saprul punya skill, bolehmi bukan warung makan didesanya, Saprul yang seorang kepala desa bisa buat BUMDES yang fokus pada kuliner lokal berupa Sinonggi dipadukan dengan Ayam Tawaloho racikan Erawati. Ayam sih biasa saja, daun kedondongnya yang luar biasa. Saya yakin Erawati butuh perjuangan untuk mendapatkan Daun Kedondong sebab pohon legend yang satu ini sudah mulai jarang.

Yuli dan Dilla tidak makan, mereka sibuk konser saat semuanya lagi makan, Kayaknya artis C01 ini lagi diet. Tidak lama Rara datang, Rara yang biasanya paling antusias, untuk Famgat kali ini dirinya terlambat, sebab suaminya baru keluar dari rumah sakit, Asam Lambung. Kami maklumlah, sama dengan maklumnya kami kepada Jemi yang tidak hadir, saat sore tadi saya dan Lintar coba menyapanya via ponsel rupanya istrinya sedang sakit sehingga beliau tidak bisa membersamai kami.

Kemeriahan Famgat berlangsung, ini Famgat kami yang ketiga, kalau dibuat film sudah memenuhi syarat “Trilogi Famgat”, kayak film “Lord Of The Ring” yang juga dibuat Famgat. Daud dan Dilla duet dalam konser bertajuk “Angin Malam di La Familia”, sambil nikmati konser yang lain pada main kartu mengingatkan kami saat bersama di Bandara Sultan Hasanuddin saat menunggu seharian ketika hendak ke Malaysia, sedih juga sih ingat kenangan indah, kenangan yang tentunya tidak akan terulang.

Makin makam makin seru lagunya, Syamsumarlin sejak sore tidak mau melepas mike (baca: maik) rupanya kali ini Syamsumarlin benar benar mau memuaskan diri dengan lagu. Lagu yang begitu dihayati. Apalagi dirinya di temani oleh Dilla, gadis C01 bersuara manja. Dilla minta di sawer, Daud mengkode Sohib, adakah yang bisa disawer, gayung bersambut, Sohib mengeluarkan beberapa lembar uang merah yang ada fotonya Soekarno dan Hatta, eh bukan malah Dilla disawer, uang tersebut malah jadi rebutan yang membuat jari lentik Ani terkilir plus salah urat. Tapi itulah hiburan kelas yang penting semua bahagia.

Mirna dan Ditha, termasuk yang paling muda dikelas, memborong cucian piring. Banyak lho cucian piring seperti habis pesta zaman dulu banyak piring yang harus dibersihkan. Mirna dan Ditha mengerjakannya begitu sempurna, piring dan semuanya bersih, mengkilap sesuai dengan iklan Mamanya Lemon yang membuat peralatan dapur bersih dan mengkilap.

Duduk berempat, Saya, Arum, Makson dan Risal, kami memantau Rexy dan Chintya yang pamit kepada Sohib untuk pulang lebih awal. Sohib sendiri masih sibuk memantau teman teman yang sedang bermain kartu. Dilla magrib tadi membawa kacang telur buat cemilan kami malam. Kacang telur tersebut yang menemani kami saat duduk malam. Makan kacang telur sambil memandang Tato Irsyad.

Kami tertawakan Risal yang sempat dicandai oleh anak Tety. Pas kami sholat Isya, Risal simpan hp didepannya, anak Tety datang mengambil hp Risal. Tentu Risal bingung antara lanjutkan sholat atau batalkan. Rupanya imannya kuat akhirnya dia lanjutkan sholat. Selesai sholat Risal hampiri anak Tety dan bertanya dimana hp nya, anak Tety hanya diam dan menunjukkan video ke Risal. Akhirnya Tety menghampiri anaknya dan memastikan dimana hp Risal disimpannya. Rupanya hp Risal tersimpan disalah satu kamar di Villa.

Famgat kali ini diagendakan bermalam walaupun tidak semuanya bermalam karena ada beberapa hal yang sifatnya urgent mengharuskan beberapa teman pulang tengah malam. Mendekati jam 11 malam, Iwan masuk kamar mandi rupanya dia hendak mandi malam soalnya lumayan lama berada disekitar pembakaran ikan membuatnya kepanasan. Mandi Malam, Makan Malam, Mondar Mandir sama dengan MM. Konser berjalan, ganti gantian membawakan lagu, Syamsumarlin, Aris, Daud dengan skillnya sebagai pelatih vokal. Mendekati jam 12 malam, muncul Zakram, dia baru saja selesai mengurus keponakannya yang baru nikah. Datang dan duduk disamping kolam, Zakram menanyakan di mana Makson dan Arum. Saya katakan mereka pulang tapi pagi hari akan kembali. Zakram hanya datang untuk menjenguk kami, walaupun dia lelah seharian mengurus pernikahan keponakannya tetapi dia tetap antusias untuk hadir walaupun hanya sebentar. Kami sempat ngobrol bersama sebelum pada akhirnya bubar, Saya, Zakram, Lintar dan Daud.

Pagi hari, suasana cerah sempat gerimis tapi tidak lama. Bersantai diteras villa menikmati kopi dan kue. Ada juga cemilan kacang telur yang dibawah Dilla semalam. Tidak lama Hasma datang, sama dengan Zakram yang terlambat datang, Hasma juga ada agenda keluarga yang tidak bisa ditinggal. Pagi hari dia datang, salutlah buat Hasma. Bapak bapak duduk melingkar diteras Villa sementara ibu ibu asyik diruang tengah dan dapur mempersiapkan makan pagi menjelang siang. Waktu terus berlalu, jam 12 siang kami harus cek out.

Duduk melingkar diteras membahas agenda agenda kelas yang pimpin oleh Aris. Banyak hal yang kami diskusikan tapi tidak dengan Suharto yang sibuk menonton film korea. Saya sempat menengok ke televisi rupanya asik juga yang ditonton oleh Suharto. Film korea bertajuk monster monster. Serius sekali Suharto menonton film. Famgat kali ini harusnya Suharto sudah berada di Gorontalo bersama anaknya yang berulang tahun tapi dia menunda untuk mudik dikarenakan kebersamaan dengan kelas.

Aris memimpin diskusi ringan dengan motivasinya yang membuat Arum terpana. Bukan terpana karena motivasi Aris yang bagus tapi Arum terpana karena tahu bahwa Aris sedang “Winto” kami semua. Sapriadi mengusulkan bagaimana kalau kami agendakan untuk Trip ke Konawe Kepulauan, trip dengan menggunakan motor. Daud menyambut dengan senang hati. Saya sampaikan ke teman teman bagaimana kalau Trip ke Bombana, ke Taman Nasional tempat Aris bekerja. Putar putar bahas Trip kesimpulannya selesaikan dulu ujian hasil baru Trip.

Iwan pulang lebih awal sebab dia akan perjalanan dinas ke Kolaka Utara. Begitu pula dengan Yuli yang pulang lebih awal karena ada agenda kantor. Sebelum pulang kami makan pagi menjelang siang terlebih dahulu, masakan kari udang racikan ibu ibu, rasanya Masyaa Allah. Lintar bercanda, makanan ini bisa bikin bengkok maksudnya Udang yang tinggi kolesterol agak rawan kalau banyak memakannya tanpa diimbangi dengan olahraga. Selesai makan, selesai bersih bersih peralatan makan, kami siap siap untuk tinggalkan Villa. Arum memastikan semua barang tidak ada yang tertinggal. Dokumentasi tak kami lupakan. Suami Ditha dan anak Daud yang mengambil gambar. Gaya di Famgat yang terakhir, kami yang paling akhir meninggalkan Famgat :Saya (Aco), Lintar, Arum, Suharto, Aris, Sapriadi, Kano, Syamsumarlin, Irsyad, Daud, Saprul, Inka, Erni, Putu, Ani, Hasma, Mirna, Ditha, Erawati, Istri Daud, Suami Ditha.

Meninggalkan Villa adalah akhir dari Trilogi Famgat yang kami rencanakan. Terima Kasih kepada semua teman teman terbaik yang telah meluangkan Waktu di tiga kali Famgat yang telah kami selenggarakan. Ini bukan tentang kumpul kumpul semata, tapi upaya kita semua untuk menciptakan kenangan indah saat bersama menuju puncak Magister Manajemen. Angin malam La Familia mengiringi kebersamaan indah yang akan berakhir. Perjamuan malam di La Familia adalah perjamuan yang akan selalu kita ingat dalam hayalan hayalan kecil saat duduk sendiri. Teringat ucapan Lintar kegembiraan hari ini membuat kita sejenak melupakan angsuran, Inka lebih ekstrim mengatakan bahwa kegembiraan di La Familia membuat kita lupa akan utang.

Cerita ini saya finiskan di tanggal 9 Agustus 2025, sengaja karena hari ini adalah akhir dari pembelajaran kami dikelas dan akhir semester tiga. Seperti yang pernah saya katakan bahwa akan tiba waktunya kuliah dikelas akan berakhir, dan ketika waktu itu tiba maka tidak akan terulang lagi walaupun kita ingin mengulangnya. Saya dipercaya oleh teman teman sebagai ketua tingkat atau ketua kelas mulai dari kelas A01, B01 sampai C01, ini adalah amanah dari orang orang terbaik yang membuat saya bangga. Hari ini kelas berakhir dengan berakhirnya semester 3, disemester 4 tidak ada lagi kelas sebab kita akan fokus pada Tesis masing masing. Kebersamaan indah dikelas mulai dari diskusi kelompok, makan makan, lucu lucuannya Aris, pantunnya Ani, Teh pocinya Kano untuk Inka, suara manjanya Dilla, teriakan teriakan Rara, makan durian yang ditraktir Sohib dan Chintya, bubur Manado traktiran Bu Erni, Ditha yang lama tak masuk kelas karena melahirkan, Ajeng yang kadang terlambat masuk kelas karena kapal Fery baru sandar, Aripin dengan jagung rebusnya, keromantisan Erawati dan Saprul, Pia Gorintalonya Suharto yang jadi rebutan, iuran kelas yang dititip ke Ferly, tabungan Stupus yang diurus Yuli, Sapriadi, Vickid dan Syamsumarlin yang suka ikut Run, Putu yang setia dampingi Erni, Sari yang pendiam tapi banyak tersenyum, Hasma yang jago Salto di Tapulaga, Mirna yang banyak membantu tugas teman teman, Iwan yang bilangi Rara dan Lintar dangkal tapi berujung gabung ke Trio Begal, Irsyad yang tatonya bikin Ferly penasaran, Arum katanya Rara opa opa Korea, Makson dan Risal paling rajin duduk paling belakang, Daud yang kadang bawa kopi, kekompakan grup BPN Utami, Cintya dan Rexy tak lupa Lintar, Aripin, Erni dan Daud para kakak dikelas. Semua kita akan saling merindukan. Akhirnya kembali ke slogan “Masuk Sama Sama, Keluar Sama Sama dan Sukses Sama Sama”.

Penulis : Ketua Tingkat

Tanggapi Berita Ini
https://faktual.net/wp-admin/post.php?post=199474&action=edit