Example floating
Example floating
BudayaTokoh

Kabid Kebudayaan WBN DKI Frans Hence Raranta Pentaskan Musik Sambrah di Monas

×

Kabid Kebudayaan WBN DKI Frans Hence Raranta Pentaskan Musik Sambrah di Monas

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Faktual.net, Jakarta Pusat, DKI Jakarta –  Kepala Bidang Kebudayaan Majalah Warisan Budaya Nusantara DKI Jakarta,  Frans Hence Raranta melakukan performa perdana di Monumen Nasional (Monas) pada Minggu (28/8/2022) dengan menampilkan Musik Sambrah Betawi Nagrak.

Sejumlah reportoar lagu-lagu Melayu, Betawi, dangdut dan pop ditampilkan dalam kesempatan tersebut.

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

Penampilan tersebut atas inisiasi Pengelola Monas bersama Event Organizer yang dipimpin oleh Dadi.

Dadi menyampaikan bahwa, “Pihak Pengelola Monas di tahun 2022 akan menampilkan 55 penampilan pentas seni yang telah diawali beberapa minggu yang lalu, diawali dengan pentas Band Nusantara dilanjutkan dengan Keroncong, Gambang Keromong dan ada siang ini dari pukul 13.00 sampai dengan 16.00 WIB adalah Musik Sambrah Betawi, yang menampilkan Sambrah Betawi pimpinan Frans Hence Raranta.

Niken Vokalis Musik Sambrah Betawi Nagrak

Niken Metiya Nelly dan Rizal secara bergantian melantunkan lagu-lagu yang telah dipersiapkan.

Masyarakat pengunjung Monas yang menikmati hari libur bersama keluarga dan handai taulan merasa terhibur. Sambil duduk bercenkrama dengan keluarga atau handai taulan mereka menikmati suguhan musik Sambrah Betawi tentu menambah kemeriahan suasana liburan mereka. Bahkan beberapa pengunjung pun turut berjoget bersama diiringi musik Sambrah bahkan ada juga yang berjoget bersama.

Pada penampilan Sambrah Betawi siang tersebut didukung oleh para pemain musik dan vokal yaitu: Niken pada Vokal dan Klapa Balap,  Rizal pada Vokal dan Gitar, Frans Hence Raranta pada Accordeon,  Johan pada Biola, Yudi pada Gendang Dibilang/Gendang Lontong, Ori  pada Cello/Bass Betot.

Dalam kesempatan tersebut Frans Hence Raranta yang adalah Kepala Bidang Kebudayaan Majalah WBN  (Warisan Budaya Nusantara) DKI Jakarta dengan Neni Rossa selaku Pimpinan Redaksi mengungkapkan, “Kita mengharapkan sekali pementasan-pementasan seperti ini harus sering diadakan, karena Sambrah merupakan musik langka  yang harus dilestarikan. Banyak musisi tradisional yang sepi order atau job mungkin perlu ada kemasan baru. Masyarakat sekarang masyarakat milenial. Jika kita masih pada pakem masa lalu tidak ada sentuhan-sentuhan mereka akan meninggalkan dan mereka perlu tahu ada pakem Sambrah,” ujarnya.

Baca Juga :  Baretha Siburian FWJ Indonesia Korwil Jakarta Utara: Usai Pelantikan Akan Gelar Roadshow Audiensi ke Seluruh Pemangku Kepentingan
Frans Hence Raranta (accordeon) sejak tahun 1998 telah berkiprah di dunia musik Sambrah

Frans Hence Raranta telah membentuk musik Sambrah sejak tahun 1998 sudah dibentuk  yang berasal dari Musik Sambrah Baladewa.

Yudi pemain Gendang Lontong atau Gendang Doblang  mengisahkan kenangan bermusik sejak masih ada ayahnya. “Grup Sambrah Baladewa itu dulu grup orang tua saya, saya tertarik pegang Gendang Lontong karena tiap latihan di rumah. Akhirnya saya pun mau melestarikan Sambrah, untuk diangkat kembali. Dengan kesempatan pengelola Monas mengajak Sambrah tampil, ini merupakan hal yang bagus untuk melestarikan Sambrah,” ujarnya

Menyoal pementasan Seni Sambrah Betawi  beberapa personil menyampaikan kesan pesan atau harapan mereka.

Niken yang vokalis dan memegang alat musik Klapa Balap menyatakan dalam dirinya mengalir darah  suku Padang tetapi lahir dan besar di tanah Betawi.

Nikenenyampaikan, “Musik itu berkembang,  yang perlu diperhatikan adalah agar lirik-lirik lagu ada unsur  mendidik.  Harapan saya walau di masa covid seyogyanya para seniman tetap dapat berkarya,” ujar Niken dengan senyum manisnya.

Frans Hence Raranta juga mengungkapkan bahwa Senhor Ritchie seorang Pegiat Budaya dari Macau yang dwi berkewarganegaraan Macau dan Portugis  juga telah berkomunikasi melalui telepon WhatsApp dengannya.  Dan Senhor Ritchie  bersedia  agar usai covid-19 Sambrah Betawi ini dapat ditampilkan di Macau.

Tentu hal tersebut perlu dikondisikan misalnya dengan Dinas Kebudayaan maupun Pariwisata Provinsi DKI Jakarta. Maka  upaya dukungan dari berbagai pihak dalam rangka upaya pelestarian seni budaya Sambrah perlu secara konsisten dan terintegrasi dengan program-programnya perlu dilakukan demi kemajuan budaya Indonesia yang pada gilirannya dapat mendukung suksesnya pembangunan di bidang budaya dan pariwisata.

Frans juga berharap  agar seni tradisional Sambrah mendapat dukungan dari semua pihak termasuk para marketing place dengan pemanfaatan teknologi.

Reporter: Sarwini

 

Tanggapi Berita Ini