faktual.net,Takalar,Sulsel – Situasi Takalar memanas. Enam lembaga kemahasiswaan dan kepemudaan hasil konsolidasi di interview langsung “Mereka akan menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di depan Pemda Takalar dan Kantor DPRD Takalar pada Senin, (14/9/2026)
Salah satu peserta konsolidasi mengungkapkan “Massa diperkirakan mencapai 150 orang itu datang bukan untuk berdiskusi. Mereka datang membawa kemarahan rakyat” Terangnya
“Ini Bukan Demo Biasa. Ini Teriakan Putus Asa” Aksi ini digalang gabungan: HMI Cabang Takalar, PMII CAB Takalar, IMM Cab Takalar, PB Hipermata, Pagora 40, dan Appamalla.
Di bawah komando Kordinator Lapangan Waliyullah, mereka menyebut kondisi saat ini sudah masuk kategori darurat.
“Kami sudah diam terlalu lama. Sekarang rakyat Takalar sedang disiksa 4 krisis sekaligus. Kalau pemerintah masih tutup mata, kami yang akan buka paksa pintunya,” tegas Waliyullah.
4 Tuntutan: Darah Rakyat Sudah di Ujung Tanduk
Dalam orasinya nanti, massa akan menyuarakan 4 tuntutan utama:
1. Kelangkaan BBM
Antrean panjang di SPBU, harga eceran melambung. Petani dan nelayan tercekik. Subsidi katanya ada, tapi di lapangan kosong.
2. Harga Gas Elpiji Melonjak
Gas 3 kg subsidi menghilang dari pasaran. Yang ada hanya gas mahal. Ibu-ibu dipaksa memilih: masak atau tidak makan.
3. Pemadaman Listrik Bergilir
Lampu mati jadi makanan sehari-hari. UMKM gulung tikar, anak sekolah belajar dengan lilin. Janji terang, yang datang gelap.
4. Penentuan Desil Tidak Objektif
Data kemiskinan diobok-obok. Yang kaya masuk bantuan, yang miskin dicoret. Ini bukan salah data, ini pembunuhan hak rakyat miskin secara sistematis.
Titik Kepungan: Pemda dan DPRD Takalar
Aksi akan dipusatkan di 2 titik: Depan Kantor Pemda Takalar dan Kantor DPRD Takalar.
Menurut koordinator, dua lembaga inilah yang paling bertanggung jawab atas amburadulnya pelayanan dasar.
“Kami akan tanya langsung. Ke mana APBD? Ke mana fungsi pengawasan DPRD? Jangan sampai gedungnya megah tapi rakyatnya kelaparan,” kata perwakilan PB Hipermata.
Ancaman Esalasi
Enam lembaga ini mengancam, jika tuntutan tidak dijawab dengan solusi konkret di tempat, aksi akan berlanjut dan massa akan terus bertambah.
“14 September adalah batas kesabaran terakhir. Setelah itu jangan salahkan rakyat kalau turun ke jalan lebih besar lagi,” tutup Waliyullah.
Hingga berita ini diturunkan, Pemda Takalar dan DPRD Takalar belum memberikan keterangan resmi terkait rencana aksi tersebut.
Reporter : Asman














