Oleh: Johan Sopaheluwakan, S.Pd., C.EJ, C.BJ.

Jakarta Barat, DKI Jakarta – Senin (8/9/2025) – Di tengah hiruk pikuk Jakarta yang modern, sebuah oase budaya kembali bersemi di Tugu. Inisiatif pembelajaran Bahasa Portugis oleh Ikatan Keluarga Besar Quiko yang kini dinahkodia Thomas Quiko.
Bukan sekadar kursus bahasa biasa, melainkan sebuah perjalanan spiritual mendalam untuk merajut kembali benang-benang sejarah yang terputus.
Quiko Familia, dengan akar yang diduga kuat berasal dari nama Fransisco (Keyko), seorang tokoh misterius dari masa lalu, kini tampil sebagai lokomotif pelestarian warisan leluhur. Nama “Keyko,” meski belum terkonfirmasi dalam catatan sejarah Portugal, menyimpan aura eksotisme yang memantik rasa ingin tahu.

Senhora Clara Carvalho de Nunos, sang maestro bahasa, hadir sebagai jembatan penghubung antara masa lalu dan masa kini.
Pengalamannya sebagai ASN di Pemda DKI memberikan sentuhan lokal yang relevan, memastikan bahwa pembelajaran ini tidak hanya teoritis, tetapi juga aplikatif dalam konteks Indonesia.
Bahasa Portugis, dalam konteks ini, bukan sekadar alat komunikasi, melainkan kunci pembuka tabir sejarah. Setiap kata, setiap frasa, adalah artefak budaya yang membawa kita kembali ke era kolonial, ketika Tugu menjadi saksi bisu percampuran budaya antara Portugis dan Nusantara.
Lagu “Cafrinho (Bate-bate Porta),” dengan lirik yang sederhana namun sarat makna, menjadi soundtrack perjalanan ini. “Ketuk-ketuk pintu,” sebuah metafora yang menggambarkan bagaimana leluhur Quiko mengetuk pintu hati masyarakat Melayu di Batavia, Tugu, memohon kasih dan penerimaan.

Pembelajaran Bahasa Portugis ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan. Ini adalah upaya untuk memperkokoh jati diri sebagai bagian dari dunia yang multikultural, sekaligus menegaskan identitas sebagai warga Nusantara yang bangga akan warisan leluhurnya.
Zoom meeting menjadi gerbang pertama menuju petualangan linguistik ini. Antusiasme warga Tugu, terutama keturunan Familia Quiko, membuktikan bahwa api sejarah masih berkobar dalam dada mereka.

Inisiatif ini adalah bukti nyata bahwa sejarah tidak pernah mati. Ia hanya tidur sejenak, menunggu untuk dibangunkan oleh generasi penerus yang peduli. Quiko Familia telah mengambil langkah berani untuk menghidupkan kembali sejarah mereka, dan kita semua patut memberikan apresiasi.
Lebih dari sekadar pembelajaran bahasa, ini adalah gerakan kebudayaan yang patut didukung. Ini adalah investasi untuk masa depan, di mana generasi muda Tugu akan tumbuh menjadi individu yang berwawasan global, namun tetap berakar kuat pada identitas lokal mereka.
Semoga inisiatif Quiko Familia ini menjadi inspirasi bagi komunitas lain di seluruh Indonesia untuk menggali dan melestarikan warisan budaya mereka masing-masing. Karena hanya dengan mengenal sejarah, kita dapat membangun masa depan yang lebih baik.
Tugu telah membuka lembaran baru dalam sejarahnya. Bahasa Portugis bukan lagi bahasa asing, melainkan bahasa persatuan, bahasa yang menghubungkan kita dengan akar leluhur dan dengan dunia yang lebih luas.
Penulis adalah Direktur Lembaga Kajian Sejarah dan Budaya TuguDesign Institute dan Mahasiswa Ilmu Hukum Fakultas Ilmu Hukum dan Ilmu Politik UPBJJ Jakarta
Pendiri Perhimpunan Penulis dan Editor Indonesia (PENA)
Ketua PEWARNA Indonesia (Peraturan Wartawan Nasrani Indonesia) Provinsi DKI Jakarta Masa Bakti 2025-2030.
Tinggal di Jakarta.
.



















