faktual.net, Kendari, Sultra. Teknik Mesin Universitas Halu Oleo (UHO) tidak henti-hentinya berkiprah ditengah masyarakat melalui program pengabdian masyarakat. Berangkat dari sebuah ide agar pengrajin bambu di Kota Kendari bisa lebih produktif dalam menghasilkan produk-produk berbahan dasar bambu, Aminur dan kawan-kawan berinisiatif membuat sebuah teknologi sederhana untuk membelah Bambu.
Bertempat di Jalan La Ode Hadi By Pass, Pasar Panjang, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Aminur bersama 4 orang rekannya menginisiasi “Pelatihan Teknologi Tepat Guna Bagi Kelompok Usaha Pengrajin Bambu di Kota Kendari”. Kegiatan tersebut berlangsung pada Rabu, 5 Oktober 2022.
Implementasi dari salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi ini dilakukan oleh 5 orang Akademisi dari Fakultas Teknik dan Vokasi UHO. Mereka adalah La Hasanuddin, S.ST.,M.Eng (Ketua), Aminur, ST., M.Eng (Anggota), Ir. Ridway Balaka, M.Eng (Anggota), Ir. Samhuddin, MT (Anggota), Citra Yurnidarsyah, ST.,MT (Anggota).
Kepada faktual.net, Aminur mengutarakan ide dasar lahirnya Teknologi Tepat Guna berupa “Pembelah Bambu” tersebut berasal dari keprihatinan dirinya melihat para pengrajin bambu yang masih menggunakan parang saat membelah. Penggunaan parang secara manual, disamping membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkan belahan bambu yang banyak, juga bisa menimbulkan resiko tangan cedera terkena parang.
“Kami melihat pengrajin bambu disekitaran Pasar Panjang sangat produktif membuat kerajinan yang berbahan dasar bambu. Mulai dari kurungan ayam, tirai bambu, bosara bambu, tikar bambu, kandang ayam, gagang sapu dan masih banyak lagi. Kekurangannya adalah mereka masih menggunakan peralatan yang masih sangat sederhana yakni parang”. terang Aminur pada Sabtu, 8 Oktober 2022.
“Penggunaan parang membutuhkan waktu yang lama guna membelah bambu, sebab parang hanya menghasilkan satu buah belahan bambu setiap kali membelah”, terangnya lagi.
Alumni Stara II Universitas Gajah Mada (UGM) tersebut menyebut bahwa Tektologi Tepat Guna (TTG) yang dibuatnya, walaupun sederhana tetapi bisa menghasilkan jumlah belahan bambu yang banyak dalam sekali belah. Pisaunya bisa dirancang menghasilkan 6 buah belahan, 8 buah belahan, 10 buah belahan bahkan 12 buah belahan disesuaikan dengan kebutuhan.
La Hasanuddin selaku Ketua Tim juga menjelaskan bahwa teknologi yang dihadirkan oleh Teknik Mesin UHO walaupun penggunaannya masih manual dan sederhana tetapi hasil yang diperoleh akan jauh lebih banyak dibanding masih menggunakan parang.
“Kami melihat bahwa selama ini pengrajin masih membelah bambu dengan parang, maka kami berfikir bahwa parang ini bisa digantikan oleh sebuah alat sederhana tetapi hasil pembelahan akan lebih banyak. Dengan menggunakan bahan-bahan yang sederhana dari besi yang berada di Laboratorium Teknik Mesin UHO kami membuat sebuah alat sederhana pembelah bambu dengan 6 mata pisau, 8 mata pisau, 10 mata pisau bahkan 12 mata pisau” jelas La Hasanuddin, S.ST.,M.Eng.
La Hasanuddin yang akrab di sapa Acang menyebut bahwa kelebihanan dari alat yang dibuat timnya adalah sistem pembelahannya secara serentak, misal ; membelah bambu dengan menggunakan 6 mata pisau, maka dalam sekali tarikan alat akan menghasilkan 6 belah bambu, begitupun dengan 8, 10 dan 12 mata pisau.
Pria yang menjabat Asisten Direktur Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Program Vokasi UHO ini menyebut jika target dari program ini adalah menunjukkan kepada masyarakat bahwa mereka mampu merasakan jiwa Korps pengabdian perguruan tinggi ditengah-tengah masyarakat.
“Sebagai akademisi tentunya kita ingin membuat alat-alat sederhana dan mudah yang bisa langsung dimanfaatkan oleh masyarakat. Spiritnya adalah dengan tektologi yang sederhana bisa membuat para pengrajin lebih produktif”, tutup Acang.
Untuk menjadi informasi bahwa sumber pendanaan dari kegiatan tersebut berasal BLU Universitas Halu Oleo. Dan uniknya dari alat pemecah bambu ini adalah bisa dibuat dari bahan-bahan bekas sehingga biaya produksi lebih murah.
Reporter : Aco RI
















