Faktual.Net, Batang, Jateng – Wacana kedepan pemerintah akan membangun Giant Sea Wall (GSW) di Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah mendapat penolakan dari berbagai aktivis lingkungan.
Salah satunya organisasi pegiat lingkungan Sahabat Hijau Indonesia (SHI) juga ikut bersuara untuk menolak pembangunan GSW di Pantai Utara Jawa Tengah.
Edy Kenzo SHI saat di temui, Sabtu (13/12024) menyampaikan bahwa pemerintah seharusnya mempertimbangkan kembali wacana untuk membangun GSW karena dampak negatif terhadap lingkungan akan lebih banyak dan juga yang perlu di lakukan oleh pemerintah untuk memperbanyak hutan mangrove sebagai safety belt bukan membangun beton.
“Adanya penurunan tanah di wilayah pantai di akibatkan adanya pemakaian air tanah yang berlebihan oleh industri2 yg berdiri di daerah pesisir pantai,” katanya.
Sebelumnya, pemerintah mengklaim giant sea wall sebagai solusi banjir rob dan tenggelamnya kawasan Pantura Jawa. Bahkan, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto; Menko Perekonomian Airlangga Hartarto; dan beberapa menteri Kabinet Indonesia Kerja membentuk gugus tugas untuk membangun infrastruktur tersebut.
Lebih lanjut menurut Edy Kenzo (Kepala riset and development SHI) mengatakan, adanya tembok raksasa ini akan berakibat nelayan akan mengalami kesulitan dalam menangkap ikan, rusaknya ekosistem laut, dan secara otomatis akan berpengaruh terhadap ekonomi nelayan.
Berbagai permasalahan harus diselesaikan seperti mengurus tata kelola di hulu, restorasi mangrove di pesisir, dan mengurangi aktivitas pembangunan di pesisir.
Menurutnya, masalah kenaikan muka air laut dan ancaman tenggelamnya kawasan pesisir harus dibenahi secara ekologis dan alamiah.
Niko















