Faktual.net, Jakarta Barat, DKI Jakarta – Budaya adalah jati diri bangsa, kata budaya sendiri berasal dari bahasa Sansekerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi dan daya.
Buddhi memiliki arti budi atau akal atau akal pikiran. Budaya adalah keseluruhan sikap dan pola perilaku serta pengetahuan yang merupakan suatu kebiasaan yang diwariskan dan dimiliki oleh suatu anggota masyarakat tertentu.
Budaya memengaruhi banyak aspek kehidupan, di antaranya agama, adat istiadat, politik, bahasa, pakaian, bangunan, hingga karya seni. Menarik untuk dibedah arti budaya yang mampu mempengaruhi baik politik dan agama ini, saat ini justru terbalik.
Bagaimana tidak budaya yang kita miliki justru tergerus dengan budaya yang bernuansa agama.
Semisal bagaimana dahulu salam seseorang yang bertamu atau bertemu yang dulu sangat kental budaya lokal semisal Orang Jawa dengan istilah kulonuwun, Sunda dengan campurasun, Batak dengan Horas dan sebagainya kini berubah dengan istilah dengan digantikan bahasa Arab.
Dan ini ada juga kelompok tertentu yang sama dengan memakai bahasa Alkitab dalam ucapan salam di depan umum.
Belum lagi cara berpakaian tradisi Jawa dan Sunda bahkan beberapa daerah lainnya identik dengan baju Kebaya, saat ini sudah berubah bahkan ada yang menganggap memakai kebaya tidak sesuai dengan kaidah agama.
Malah ada yang beranggapan bahwa berkebaya dapat dikatakan murtad.
Diakui Yenny Wahid puttri Gus Dur yang notabene tokoh NU ini, menurutnya, “Saat ini sedang menghadapi situasi gelombang kelompok yang berpikir sangat sempit bahwa agama itu hanya berciri fisik tertentu saja, termasuk cara pakaian tertentu saja,” kata Yenny Wahid dalam acara Rumpi Kebaya di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (8/10).Sumber: https://mediaindonesia.com/humaniora/264139/yenny-wahid-pakai-kebaya-tidak-murtad.
Kondisi ini tentu sangat memperihatinkan warisan budaya yang adi luhung sebagai jati diri bangsa yang berdasar sikap cinta bangsa, cinta kesatuan, bahasa, dan dasar dari budaya nasional, ini tergerus.
Herannya lagi penggerusan budaya ini tanpa disadari masyarakat karena berdalih agama dan berjalan masiv dan terstruktur karena kadang peran pemerintah turut campur di dalamnya. Misalnya adanya peraturan dengan memakai agama tertentu di sekolah negeri, ini bukan rahasia lagi.
Perempuan Jawa dengan kebayanya yang anggun, dengan sanggul yang indah pelan mulai sirna, dengan diganti budaya manca negara dengan alasan agama, sementara Negara asal agama tersebut justru perempuannya mulai bersolek diri tanpa dikungkung dengan embel-embel menjalankan ajaran agama dan sebagainya.
Mustafa Husin Baabad seorang keturunan Arab yang aktif menulis di media sosial terkait keresahan adanya paham suatu agama yang gencar diperjuangkan oleh sekelompok orang yang ingin menggantikan ideologi bangsa ini.
Mustafa dalam facebook justru wanita yang lebih giat menyebarkan hal-hal yang akan dijadikan mereka tertindas nasib, lebih semangat untuk jadi korban.
Bisa diartikan bahwa kenapa justru kaum perempuan yang getol mengkampanyekan sistem agama di Indonesia, sementara negara-negara yang menganut sistem tersebut pihak perempuanlah yang paling dikorbankan.
Tentu ini PR besar bagi bangsa untuk mempertahankan budaya bangsa termasuk perempuan , agar kaum perempuan yang telah diperjuangkan hak-haknya oleh R.A. Kartini itu kembali ke jalan yang lurus, dengan kembali menyadari bahwa dengan sistem saat ini sudah paling tepat bukan pakai sistem agama yang membelenggu perempuan kembali ke jaman ribuan tahun yang lalu.
Tergerusnya budaya oleh adanya pemahaman dangkal terhadap agama atau sebaliknya adanya kepentingan politik kekuasaan dengan dalih agama, kita saksikan sekarang ini pelan tapi pasti. Dimana banyak tradisi adi lihung sebagai warisan budaya coba dibenturkan misalnya upacara bersih desa, ziarah kepada leluhur dan sebagainya dianggap musrik dan sinkretisme.
Padahal itulah warisan sebagai jati diri yang harusnya perlu dilestarikan seperti cesar Chavez tegas mengetakan bahwa, “Pelestarian budaya tidak berarti menghina atau tidak menghormati budaya lain,” ujarnya.
Perlu memang budaya ada pembaharuan karena saat ini globalisasi tidak bisa dihindarkan, akibatnya banyak budaya yang saling mempengaruhi dalam kehidupan manusia dunia, namun demikian bukan berarti dengan pengaruh pergaulan dunia itu lantas meninggalkan budaya leluhur apalagi dengan cara menghina bahkan mematikan budaya yang ada dengan mengatakan sinkristisme dan musrik yang harus dibasmi.
Bangsa Jepang dengan kemajuan tehnologinya masih tetap memelihara budaya leluhurnya, Negara Tiongkok juga demikian.
Prof Dedy Mulyana mengatakan bahwa, “Budaya kita secara praktis mempengaruhi kita semenjak dalam kandungan hingga mati, bahkan setelah mati pun kita dikuburkan dengan cara-cara yang sesuai dengan budaya kita,
artinya bisa dikatakan sebagai manusia kita terikat dengan kebudayaan yang kita anut,” ujarnya.
Berangkat dari hal inilah maka menjadi penting perlu kesadaran akan memilihara budaya yang ada. Sehingga perilaku dan tatanan yang ada sebagai ciri khas bangsa Indonesia tetap terjaga.
Kekayaaan dan keberagaman yang merupakan modal besar bagi bangsa ini jangan sampai habis karena adanya gerakan penyeragaman baik cara busana maupun berbahasa dengan dalih agama.
Penulis: Yusuf Mujiono Ketua Umum PEWARNA Indonesia.













