Example floating
Example floating
Headline

Tantangan Pendidikan Kristen di Era Digital, STT Apollos Gelar Kuliah Umum Nasional

×

Tantangan Pendidikan Kristen di Era Digital, STT Apollos Gelar Kuliah Umum Nasional

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Faktual.net – Jakarta –   Ketua STT Apollos Jakarta, Dr. Daud Alfons Pandie, M.Th., M.Mis., menyoroti tantangan serius yang dihadapi pendidikan Kristen di era digital, khususnya di tingkat perguruan tinggi. Dalam sambutan pembuka kuliah umum di STT Apollos Jakarta, ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi informasi membawa implikasi besar terhadap perubahan regulasi, kurikulum, serta tuntutan peningkatan mutu pendidikan.

“Kita hidup di era perkembangan digital informasi yang membawa tantangan tersendiri bagi penyelenggaraan pendidikan Kristen. Tidak mudah menyelenggarakan pendidikan di tengah perubahan regulasi dan tuntutan kualitas dalam mewujudkan Amanat Agung Tuhan Yesus,” ujarnya.

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

 

Kuliah umum ini mengangkat tema “Arah Baru Pendidikan Kristen Indonesia: Integrasi Iman, Ilmu dan Kebijakan Nasional” dan diikuti lebih dari 100 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, staf, serta mitra lembaga. Kegiatan berlangsung secara luring dan daring, menunjukkan tingginya antusiasme terhadap isu transformasi pendidikan Kristen.

Acara ini menghadirkan Dr. Suwarsono S.PAK., M.M sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, ia menjelaskan arah kebijakan pendidikan keagamaan Kristen yang terintegrasi dengan visi nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Perwakilan dari Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen tersebut menegaskan bahwa kebijakan pendidikan Kristen sejalan dengan visi Kementerian Agama 2025–2029, yakni mewujudkan masyarakat yang rukun, maslahat, dan cerdas, serta mendukung agenda Asta Cita dalam memperkuat kerukunan umat beragama.

Baca Juga :  Kejadian Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, KAI Lakukan Evakuasi dan Minta Maaf Kepada Pelanggan

Suwarsono mengungkapkan, terdapat sekitar 398 Sekolah Tinggi Teologi (STT) di Indonesia, dengan hanya 8 perguruan tinggi negeri. Menurutnya, kondisi ini menjadi peluang besar yang harus diimbangi dengan peningkatan mutu dan daya saing lulusan.

Mengacu pada RPJMN 2025–2029, pemerintah menetapkan strategi peningkatan akses dan kualitas pendidikan melalui enam langkah utama, termasuk wajib belajar 13 tahun, penguatan STEAM, peningkatan kualitas pembelajaran, serta penguatan kompetensi pendidik dan tata kelola pendidikan.

Di tingkat perguruan tinggi keagamaan Kristen, kebijakan diarahkan pada peningkatan kompetensi dosen melalui sertifikasi, penguatan riset, serta pengembangan institusi menuju standar global. Lulusan diharapkan memiliki daya saing tinggi dan mampu terserap lebih cepat di dunia kerja.

Kegiatan ini dipandu oleh Gustaf Kase sebagai moderator. Turut hadir  Ketua Umum Yayasan, Pdt. Dr. Rudolf Johan Lumenta, M.Th., M.BA., M.Mis.,  bersama jajaran pimpinan dan tamu undangan.

Menutup paparannya, Suwarsono menegaskan bahwa pendidikan keagamaan Kristen harus menjadi bagian dari solusi bangsa dengan melahirkan generasi yang beriman, berilmu, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia. (Red/JN/JS)

 

Tanggapi Berita Ini
https://faktual.net/wp-admin/post.php?post=199474&action=edit