oleh

Tabung Melon, Entahlah Apa Merasukimu di Bumi Panrita Kitta

Faktual. Net, Sinjai, Sulsel. Cerita penyaluran Tabung Gas elpiji atau tabung melon menuai polemik, mulai harga hingga kelangkaan di Bumi Panrita kitta, Kabupaten Sinjai.

Harga eceran tertinggi gas elpiji 3 Kg yang ditetapkan oleh Pemkab Sinjai adalah sebesar Rp16.000 untuk pangkalan di Kabupaten Sinjai.

Ditemui secara terpisah Dinas Perdagangan Dan Perindustrian (Disprindak) dan Pedagan Kaki Lima.(Penjual Bakso).

Melaui Disprindak Kabupaten Sinjai Membidangi BPSK (Badan Perlindungan Sengketa Konsumen), Muliati S.sos, Menyatakan bahwa, “gas elipiji Di Sinjai tidak langkah dan harga normal” Singkatnya.

Berita Terkait Baca :

Sedangkan, di tempat lain menemui pedangan kaki lima (Penjual Bakso), di Lapnas, Pedagan Tersebut tidak bersedia disebut namanya menyatakan “Tabung gas elpiji berat 3 kg, harganya Mulai 18 ribu hingga 30 ribu dan berharap harga elpiji normal dan tidak Langkah”. Jelasnya.

Tabung gas di Kabupaten Sinjai, Darwis Maros Ketua tim badan penelitian aset negara, Aliansi Indonesia(BPAN AI ), dan Andi Baso Lolo Sufu S.Sos, ketua aliansi pemantauan kinerja Aparatur Negara (APKAN) RI, mendatangi kantor dinas perdagangan dan Perindustrian (Disperindag), Kabupaten Sinjai, Kamis.22/10/2020.

Darwis Maros ,Ketua selaku tim
Badan penelitian aset negara aliansi Indonesia, Merasa kecewa, karena masih jam kantor tapi ruangan yg membidangi perdagangan sudah kosong

Baca Juga :  Garojou Komitmen Menangkan AMAN

“Saya sangat perihatin lantaran kantor yang kami kunjungi dengan niat ingin konfirmasi masalah kelangkaan tabung gas 3 kg dan juga harga yg melonjak sampai 26 ribu/tabung di beberapa desa tapi tdk ada satu orang pun yang ada di tempat “ucapnya.

Di tempat yang sama, ketua APKAN RI DPD Sinjai Andi Baso Lolo Sufu S.sos, menuturkan hal serupa, “Lalu kemana lagi kami harus mengkofirmasi jika pihak terkait tidak ada yang bisa ditemui hal ini sangat di sayangkan, Bukan hanya langkah tetapi harga juga melonjat Tinggi, “katanya.

Andi Baso Lolo Sufu, S.sos, menambahkan, Bahwa “kelangkaan ini sebabkan banyak yang menggunakan tabung gas 3kg di luar peruntukannya Seharusnya, para ASN, dan pengusaha termasuk Londri dan Resto yang ada di Sinjai juga banyak menggunakan tabung gas 3 kg ini sudah menyalahi karena, di tabung tersebut tertulis untuk orang miskin dan subsidi yang seharusnya mereka gunakan tabung 5 kg atau tabung 12 kg non subsidi hal ini butuh perhatian khusus dari dinas terkait dan DPRD untuk melakukan sidak, “tutupnya.

Baca Juga :  Geram, Lidik Pro: Ada Apa Dengan Kube dan Kemana Dana Kube Selama Ini?

Sekedar di ketahui Alur penyaluran gas Elpiji, di “kutip” berbagai Sumber Peraturan dan Jalur distribusi,

Dasar:

  1. UU RI No. 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah,
  2. Perpres RI No. 104 Tahun 2007 Tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Penetapan Harga Liquefied Petroleum Gas Tabung 3 Kilogram,
  3. Permen ESDM No. 021 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Penyediaan dan Pendistribusian Liquefied Petroleum Gas Tabung 3 Kilogram,
  4. Permen ESDM No. 26 Tahun 2009 Tentang Penyediaan dan Pendistribusian Liquefied Petroleum Gas.
  5. UU No 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen,

Sedangkan, Alur distribusi LPG 3 Kg.

  • LPG 3 Kg diisi di SPPBE oleh Pertamina. Selanjutnya LPG dikirim ke agen/penyalur LPG PSO yang selanjutnya didistribusikan ke Sub Penyalur/Pangkalan LPG PSO,
  • Harga di pangkalan adalah HET dan ditetapkan oleh Pemda. Inilah batas rentang tanggung jawab pengawasan Pertamina.
  • prakteknya di pasar, para pengecer melakukan pembelian di sub penyalur/pangkalan LPG PSO. Praktek ini merupakan jalur distribusi non formal. Konsumen pun kerap melakukan pembelian di pengecer.
  • Pengawasan Pertamina untuk distribusi LPG 3Kg setiap tahunnya diaudit oleh BPK RI.

Laporan: dzul

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :

Tajuk Berita