oleh

Simalakama Pembelajaran Daring Dibalik Pandemi Covid 19

Faktual.Net, Opini – Ponsel Mawar berdering. Sebuah notifikasi masuk di aplikasi WhatsApp-nya. Pesan dari wali kelas putranya. Katanya, anaknya sudah beberapa kali tak masuk di beberapa mata pelajaran.

Mawar heran. Pasalnya, beberapa kali dosen itu menginspeksi sebelum berangkat bekerja sebagai dosen, dia mendapati putranya serius mengikuti mata pelajaran.

Dia pun mengonfirmasi ke putranya yang duduk di kelas 3 SMP. “Saya tertidur ma saat absen,” ujar bocah yang sudah beranjak remaja itu.

Dia tertidur. Pasalnya saat belajar daring dia berbaring. Gurunya mungkin juga tak acuh dengan posisi siswanya saat belajar.

Sebab, para siswa bebas akan mengaktifkan video atau tidak saat belajar daring. Tak ada penegasan dari gurunya.

Dari kasus ini, ada dua hal yang bisa dikritisi. Kurangnya pengawasan orang tua terhadap anaknya saat daring, dikarenakan mereka sibuk dengan profesinya masing-masing. Faktor lainnya.

Seperti longgarnya aturan pembelajaran daring yang diterapkan guru mata pelajaran.

Baca Juga :  Jalan Sunyi Mimpi Asa Untuk Literasi Sinjai

Jika ini terus dibiarkan, maka tentu dampaknya pada menurunnya kualitas pendidikan. Pasalnya, berbagai manipulasi bisa dilakukan.

Apalagi jika siswa dan guru, sama-sama tak memiliki integritas yang baik. Tak punya kemauan untuk melakukan proses belajar mengajar yang benar. Hanya sekadar menggugurkan kewajiban.

Sementara salah satu partai politik melakukan survei di Jabodetabek, Hasilnya, banyak anak-anak yang putus sekolah selama pandemi.

Ada yang karena nikah muda. Ada yang karena tak punya uang lagi untuk bayar SPP.

Ada pula karena sibuk membantu orang tua. Yang lainnya, karena kecanduan game online.

Daring memang secara psikososial akan menciptakan masalah sebab terbatasnya interaksi antara guru dengan siswa, juga antara siswa dengan siswa. Ini kemudian menjadi faktor penghambat komunikasi.

Lalu jadi pemicu menurunnya semangat belajar anak, tidak adanya keceriaan di ruang kelas, sehingga belajar mengajar tak lagi menjadi menarik. Bahkan terkesan sangat menjemukan.

Baca Juga :  Seorang Satpam Gagalkan Pencurian, Aksinya Terekam CCTV

Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim menyadari itu. Namun mau bagaimana lagi. Ini bagai simalakama.

Memberlakukan tatap muka, justru lebih berbahaya sementara makhluk kerdil bernama coronavirus disease 2019 (Covid-19) mengintai jiwa.

Beberapa kali wacana belajar offline atau tatap muka mengemuka.

Hanya saja, Nadiem tak mau ambil risiko.

Apalagi di tengah munculnya varian Delta Covid-19 yang mengintai dan penularannya lebih cepat.

Maka, pilihan terbaik tentu saja tetap belajar dari rumah.

Demi menyelamatkan nyawa siswa yang merupakan generasi harapan masa depan bangsa, mungkin tinggal teknisnya yang diperbaiki.

Bagaimana menciptakan ruang belajar daring yang nyaman dan menyenangkan.

Sehingga, siswa betah berlama-lama di dalamnya. Mungkin para guru perlu belajar dari game online, kenapa siswa lebih tertarik main game daring ketimbang belajar daring. (Dzul)

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :