Example floating
Example floating
HumanioraInspirasi

Sepotong Pesan Sebelum Hari Kartini

×

Sepotong Pesan Sebelum Hari Kartini

Sebarkan artikel ini
Maya Azeezah dengan latar belakang lukisan R.A. Kartini
Example 468x60

FAKTUAL.NET – JAKARTA, Aku rasa aku bukan perempuan yang mau terhina dengan kata “norak!” hanya karena aku tak suka dengan satu hal, yaitu pelecehan perempuan yang dilakukan kaumnya sendiri! Jangan mentang-mentang sekarang jaman bebas, dengan segala fasilitas kesediaan teknologi bisa menyampaikan bahan candaan dengan merendahkan diri sendiri, bahkan kaum sendiri, tanpa melihat nilai dari isi!

Aku sadar aku pun sering membuat pernyataan lucu-lucuan tetapi itu untuk kebutuhan menulis kisah komedi yang sudah terencana lama, karena aku tidak mampu mewujudkannya sebab membuat satu produksi sinema tidak semudah membalik kata-kata seperti yang kau lakukan mungkin terhadapku, tapi sudahlah, itu juga kesalahanku menjadi terlalu perduli terhadap hal kecil.

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu
Buku Surat-surat R.A. Kartini.

Padahal masih ada masalah besar di kepalaku, yang terus mengganggu apa yang pernah dikatakan R.A Kartini yang tidak semua orang pun menyukainya namun aku tetap mengaguminya. Tulisannya yang menyempal di benak ku adalah “jadilah manusia sepenuhnya dan perempuan seutuhnya!”.

Kau tahu, aku belum dan belum mewujudkan itu, bahkan beliau pun belum. Lalu tugas siapa yang meneruskan pesannya agar terwujud cita-cita dari surat-suratnya itu? Aku sendiri? Itu tidak mungkin!

Baca Juga :  Ukir Prestasi! Kader IMM FAI UM Kendari Berhasil Raih Juara II di MTQ ke-48 Kolaka

Aku hanya melakukan apa yang aku bisa, kemampuanku bak satu batang lidi, mengapa kebisaan tak berkumpul untuk menjadi segenggam sapu? Andai itu bisa terhimpun mungkin cita-cita di setiap suratnya bisa menyapu kebodohan bagi kaumnya yang sekarang sudah lebih pandai dan terpenuhi secara ilmu pengetahuan dan sebagainya, serta kebebasan berekspresi baik secara langsung maupun tidak.

Maka aku menyadari perjuangan perempuan belum selesai kawan, perempuan tidak harus melulu dengan airmata dan semata-mata cantik di luar, tapi tangannya harus melakukan perubahan.

Seharusnya kaum lelaki pun mengingatkan kaum perempuan yang mengarah perempuan pada posisi merendahkan dirinya maupun kaumnya, bukan jadi bahan tertawaan atau asik dengan apa yang berjalan, yang dilakukan perempuan, kaum lelaki harus mendukung kaum perempuan menjadi lebih baik, mewujudkan perubahan dan pembaharuan, barulah upaya menjadi perempuan seutuhnya  tercapai.

Satu pesan seseorang, bahwa “Hanya perubahan yang terus bergerak tak pernah padam.”  Begitulah serapku terhadap Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang), ia sangat layak untuk segala jaman. Selamat Hari Kartini wahai perempuan Indonesia. (Maya Azeezah/16042020)

 

Tanggapi Berita Ini
https://faktual.net/wp-admin/post.php?post=199474&action=edit