Example floating
Example floating
Headline

Saatnya Negara-Negara Arab Ciptakan Perdamaian di Gaza

×

Saatnya Negara-Negara Arab Ciptakan Perdamaian di Gaza

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Faktual.net – Jakarta, UMJ – Negara-negara Arab didesak untuk segera mendorong terwujudnya solusi dua negara demi mengakhiri penderitaan rakyat Gaza, Palestina, yang terus-menerus menghadapi kelaparan, ketakutan, dan ancaman pembunuhan dari Israel. Dua tahun pasca-konflik Gaza 7 Oktober 2023, yang telah merenggut lebih dari 65 ribu jiwa, perdamaian harus diupayakan meski Israel masih menunjukkan tanda-tanda tidak menghentikan pemboman dan serangan terhadap masyarakat Palestina.

Seruan ini disampaikan oleh Dr. Asep Setiawan, dosen Magister Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Ia menjadi salah satu pemateri dalam seminar bertajuk “Refleksi Dua Tahun Serangan Israel-Hamas: Membangun Solusi Perdamaian Berkelanjutan” di Pusat Riset Politik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, pada Selasa (7/10).

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu


Dalam makalahnya yang berjudul “Respons Dunia Arab terhadap Upaya Perdamaian Palestina-Israel: Apa yang Telah Dilakukan dan Apa yang Harus Dilakukan?”, Dr. Asep menekankan bahwa dorongan bagi negara-negara Arab semakin kuat karena kedekatan geografis mereka dengan Gaza. Selain itu, negara-negara Arab memiliki kemampuan untuk mendorong perdamaian, apalagi dengan dukungan Deklarasi New York yang disahkan di Majelis Umum PBB pada 12 September lalu.

Deklarasi New York di Majelis Umum PBB disetujui dengan 142 suara mendukung, 10 menolak, dan 12 abstain. Poin pentingnya meliputi: mengakhiri perang di Gaza, mencapai penyelesaian damai konflik Israel-Palestina berdasarkan solusi dua negara, serta membangun masa depan yang lebih baik untuk Palestina, Israel, dan seluruh kawasan.

Butir-butir penting lainnya mencakup pernyataan bahwa perang di Gaza harus segera diakhiri, dukungan untuk upaya mediasi oleh Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat dalam implementasi gencatan senjata, pembebasan semua sandera dan pertukaran tahanan Palestina, serta penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza.

Polarisasi di Dunia Arab

Dr. Asep menjelaskan bahwa dunia Arab mengalami polarisasi dalam merespons konflik dan genosida yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina di Gaza sejak 7 Oktober 2023.

Baca Juga :  Sekum PGIS Kota Depok, Mangaranap Sinaga: Pemimpin Harus Beri Contoh Nyata Cara Bertoleransi

“Respons Arab terhadap konflik ini mencerminkan pergeseran paradigma dari retorika solidaritas menjadi diplomasi pragmatis,” jelas Dr. Asep, yang juga menjabat sebagai Kepala Laboratorium Ilmu Politik FISIP UMJ. Arab Saudi, lanjutnya, berusaha tampil sebagai pusat diplomasi negara-negara Arab dengan pendekatan institusional, membentuk Global Alliance for Two-State Solution dan mengalokasikan miliaran dolar untuk bantuan kemanusiaan. Namun, peran Saudi ini dinilai kalah dengan inisiatif perdamaian Qatar yang berulang kali menjadi mediator, meski sempat diserang oleh Israel. Qatar juga berhasil melakukan upaya pertukaran sandera dengan tahanan, meskipun tidak berlangsung lama.

Lebih lanjut, Dr. Asep menyoroti polarisasi di negara-negara Arab, khususnya di Dewan Kerjasama Teluk (GCC), dalam membantu menciptakan perdamaian di Gaza. “Perbedaan sikap terhadap Hamas menimbulkan fragmentasi internal di GCC. Polarisasi ini menguji batas solidaritas Arab antara idealisme Islamisme dan realitas politik pragmatis,” imbuhnya. Dr. Asep juga menceritakan pengalamannya mengunjungi langsung Gaza dan Tepi Barat, menyaksikan pendudukan Israel dan pengusiran warga Palestina.

Ke depan, Dr. Asep berharap dunia mendukung solusi dua negara melalui kerja sama kawasan dan PBB. Namun, dalam diskusi tersebut, muncul keraguan bahwa Israel akan mengikuti solusi ini karena rekam jejaknya yang tidak bisa dipercaya, bahkan dengan serangan yang masih berlangsung terhadap warga Gaza yang telah menelan lebih dari 65 ribu korban dan kerusakan masif sejak Oktober 2023.

Pembicara lain dalam seminar ini adalah Nostalgiawan Wahyudhi, M.A dari BRIN, yang membawakan makalah tentang respons Indonesia terhadap solusi dua negara, dan Dr. Ryantori dari Universitas Prof. Dr Moestopo (Beragama), yang membahas respons dunia Barat terhadap penyelesaian konflik Palestina-Israel. Seminar yang merupakan kerja sama antara BRIN, Universitas Prof. Dr Moestopo (Beragama), dan The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) ini dimoderatori oleh Sari Amalia Dewi, S.H, LLM dari Universitas Prof. Dr Moestopo (Beragama).

Reporter: Johan Sopaheluwakan

Tanggapi Berita Ini
https://faktual.net/wp-admin/post.php?post=199474&action=edit