Faktual.Net, Jakarta. Bertempat di Taman Literasi Christina Martha Tiahahu Jl. Sisingamangaraja Blok M, Jakarta Selatan. PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ) selaku pengelola Taman Literasi Martha Christina Tiahahu merayakan Akhir Pekan bersama Ragam Komunitas dan Ritel dengan mengundang warga Jakarta, Jabotabek untuk hadir dalam hajatan “Pesta di Taman”. Pesta di Taman berlangsung pada hari Sabtu,17 Desember 2022 pukul 07.00-20.00 wib. Melalui hajatan ini, PT Integrasi Transit Jakarta juga merayakan kolaborasi bersama berbagai tenants yang akan beroperasi di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu.
Gerai yang berkolaborasi untuk memeriahkan Pesta di Taman antara lain: BTM by Bang Udin, Cortes Monet Cafe, D’Lanier, ISMAYA, Moss Life Coffee Shop, dan Paparyo – Pasta by the Park.
Selain itu, pesta ini dihadiri sejumlah komunitas dan musisi untuk memeriahkan acara. Pesta di Taman dimulai dengan “Angklungan di Taman” oleh Komunitas Angklung-Pelangi yang beranggotakan para lansia yang terlihat sangat piawai memainkan ragam nada dan memberi semangat di pagi hari.
Sambil mendengarkan lantunan angklung, pengunjung dapat mengikuti “Piknik di Taman” bersama komunitas Ayo ke Taman mulai dari pagi hingga sore hari. Kemudian, dilanjutkan dengan mendengarkan berbagai dongeng dan cerita yang menarik dengan “Carita di Taman” yang berkolaborasi dengan Jakarta Book Hive di Ruang Baca Taman Literasi.
Selanjutnya, pengunjung mengikuti “Baca Bareng di Taman” yang berkolaborasi dengan Kompas Gramedia yang menyediakan berbagai koleksi buku-buku yang menarik.
Acara masih terus berlanjut, sebagian pengunjung melakukan aktivitas bertukar buku bekas layak baca atau “Book Blind Date” bersama Jakarta Book Hive, dimana partisipan beruntung berkesempatan mendapat pembatas buku menarik. Pesta di Taman dilanjutkan siang hari dengan acara “Sketching di Taman”.
Bagi pengunjung yang memiliki minat dan bakat seni melukis dan menggambar, mengikuti kegiatan ini yang berkolaborasi dengan bartega.people dari bartega.studio. Yayasan 17.000 Pulau Imaji juga turut memeriahkan acara dengan membawakan dongeng menarik di sesi acara “Dongeng di Taman”.
Di sore hari, berbagai musisi memeriahkan Pesta di Taman. Mulai dari sesi “Akustikan di Taman” berkolaborasi dengan iRadio Jakarta, “Gambang Kromong di Taman” berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, “Cerita Fatmawati” tentang cerita kemerdekaan Indonesia yang dibawakan oleh MusiCarter.
Tidak berhenti disitu, kolaborasi antara Fathin Shidqia dan Jesenn menutup Pesta di Taman di sesi “Indokustik di Taman”.
Para pengunjung tampak antusias merayakan kebahagiaan di ruang publik Taman Literasi Martha Christina Tiahahu. Menuju ke lokasi para pengunjung sangat dipermudah dengan adanya transportasi publik seperti Transjakarta atau MRT Jakarta. Tidak lupa saat acara Pesta di Taman tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan.
Direktur Utama PT ITJ Ferdiansyah Roestam yang hadir pada Pesta di Taman menuturkan awalnya taman ini dibangun bertemakan literasi lantaran Jakarta termasuk salah satu kota pertama di dunia yang terpilih sebagai “city of literature”.
“Dengan adanya penambahan tenant ini diharapkan pengunjung yang ke sini bisa nyaman dengan melakukan banyak kegiatan positif lainnya untuk mendukung Jakarta sebagai kota baca,” kata Ferdiansyah di Jakarta.
Ferdiansyah berharap kegiatan ini mampu membangkitkan minat membaca masyarakat didukung dengan fasilitas yang tersedia seperti kafe, kumpul komunitas, hingga kesenian yang bekerjasama dengan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Selatan.
Sehingga, kata dia, masyarakat bisa lebih banyak menghabiskan waktu di Taman Literasi Christina Martha Tiahahu yang diciptakan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) sekaligus tempat berinteraksi. “Selain itu ke depannya di taman akan ada kegiatan tematik yang reguler yang menarik untuk meningkatkan literatur membaca terutama anak-anak,” ujarnya pula.
Ferdiansyah menyebutkan, pihaknya akan membangun empat taman di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat pada tahun 2023. Taman tersebut akan dibangun dengan tema yang berbeda-beda. Ada taman literasi yang nantinya bisa sebagai taman budaya atau teknologi.
”Kami sedang merumuskan tidak harus membaca semua. Masing-masing taman harus punya ciri masing-masing harus punya ikon,” katanya.
Semua taman, kata Ferdi, nantinya akan terintegrasi dengan transportasi publik karena ada dalam zona transit oriented development (TOD). Saat ini pihaknya sedang merampungkan Taman Kudus dan Taman Blora.
”Zonasinya taman, tapi sudah lama sekali tidak terawat akhirnya kami bongkar ulang dan kami kembangkan. Akan ada tempat pertunjukan juga dan akan tersambung dengan stasiun MRT Lebak Bulus dibagian selatan,” katanya.
Di taman yang akan di bangun tetap ada tempat bermain anak. Semua teman juga diberi fasilitas untuk mengakses internet. ”Kami ingin setiap orang yang datang juga bisa memanfaatkan semua fasilitas. Orangtuanya bekerja, anaknya bermain di taman,” ucapnya mengakhiri sesi wawancara.
Reporter: Lili
















