Faktual.Net, Pekalongan, Jateng – Proyek Rehabilitasi Daerah Irigasi (D.I.) Kupang Krompeng yang membentang di wilayah Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Batang, Jawa Tengah, akhirnya memasuki tahap pekerjaan fisik.
Proyek senilai Rp51.427.300.000 yang dibiayai melalui APBN Tahun Anggaran 2026 tersebut diharapkan mampu mengatasi persoalan kebocoran tanggul dan luapan air yang sempat terjadi pada tahun sebelumnya.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Sabtu (18/7/2026), aktivitas pekerjaan terus berlangsung. Meski demikian, pekerjaan fisik baru dimulai sekitar satu bulan terakhir, padahal kontrak proyek telah ditandatangani pada 5 Mei 2026. Kondisi tersebut terjadi karena adanya tahapan penyusunan shop drawing serta beberapa kali revisi desain sebelum konstruksi dapat dilaksanakan.
Kontraktor Pelaksana, Rahmat, menjelaskan bahwa perusahaan telah memenangkan tender pada Mei 2026, namun pekerjaan lapangan belum bisa langsung dilakukan lantaran harus menyelesaikan dokumen teknis terlebih dahulu.
“Kami memenangkan tender pada bulan Mei. Namun sebelum pekerjaan fisik dimulai, kami harus menyelesaikan tahapan shop drawing terlebih dahulu. Untuk pekerjaan di lapangan sendiri sudah berjalan sekitar satu bulan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu pekerjaan utama dalam proyek ini adalah pembangunan dinding penahan tanah (DPT) menggunakan beton siklop, yakni kombinasi beton dan batu belah yang dirancang memiliki daya tahan tinggi terhadap tekanan tanah maupun aliran air.
Menurutnya, pembangunan DPT menjadi langkah penting untuk memperkuat tanggul agar tidak kembali mengalami kebocoran maupun luapan air seperti yang terjadi akibat bencana pada tahun lalu.
“Tujuan utama pembangunan DPT ini untuk mengantisipasi kebocoran dan luapan air yang pernah terjadi. Karena itu BBWS Pamali Juana membuat paket pekerjaan ini agar tanggul lebih kuat dan aman,” jelas Rahmat.
Untuk pekerjaan struktur utama, pengecoran akan menggunakan beton siap pakai (ready mix), sementara pekerjaan lantai kerja masih dilakukan secara manual.
Sementara itu, Konsultan Pengawas dari PT Brahmaseta Indonesia, Roma, mengungkapkan bahwa pekerjaan galian untuk pembangunan DPT baru berlangsung sekitar satu hingga dua minggu terakhir.
“Untuk pekerjaan galian baru sekitar satu mingguan. Selanjutnya akan dilaksanakan pembangunan dinding penahan tanah menggunakan beton siklop,” katanya.
Roma menyebut secara keseluruhan proyek telah berjalan sekitar dua bulan sejak tahap awal dimulai. Namun, sebagian waktu tersita untuk penyempurnaan desain karena terdapat sejumlah perubahan gambar kerja yang harus disesuaikan sebelum pekerjaan konstruksi dilaksanakan.
“Kalau dihitung sejak awal proyek, sudah sekitar dua bulan berjalan. Waktu itu cukup banyak digunakan untuk penyempurnaan desain karena ada beberapa perubahan. Masa kontrak berlangsung hingga Desember 2026,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa rehabilitasi tidak hanya dilakukan di satu lokasi, melainkan tersebar di sejumlah titik mulai dari Desa Pandansari, Desa Pesaren hingga sepanjang saluran primer dan sekunder menuju bendung.
Dalam pelaksanaannya, konsultan pengawas mengaku terus memantau kualitas pekerjaan sekaligus penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) oleh pekerja disebut masih menjadi perhatian serius.
“Kami hampir setiap hari mengeluarkan surat teguran terkait penggunaan APD karena masih ada pekerja yang kurang disiplin. Aspek keselamatan tidak boleh diabaikan,” tegas Roma.
Meski demikian, hingga saat ini pihak pengawas menyatakan belum menemukan pelanggaran teknis yang bersifat fatal dalam pelaksanaan proyek.
Diketahui, proyek Rehabilitasi D.I. Kupang Krompeng merupakan pekerjaan Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pamali Juana.
Proyek dengan nilai kontrak Rp51,427 miliar tersebut dikerjakan oleh PT Minarta Dutahutama dengan masa pelaksanaan selama 233 hari kalender, sementara pengawasan dilakukan oleh PT Brahmaseta Indonesia–Manggalakarya–Tata Guna Patria KSO.
Besarnya nilai anggaran yang dikucurkan membuat publik menaruh harapan agar proyek ini benar-benar menghasilkan konstruksi berkualitas, tepat waktu, dan mampu menjadi solusi permanen terhadap persoalan kebocoran tanggul yang selama ini merugikan masyarakat dan lahan pertanian di kawasan irigasi Kupang Krompeng.
Tim/Red













