Example floating
Example floating
Headline

Program LKLB Hidupkan Pemikiran Gus Dur dalam Merawat Toleransi dan Kebangsaan

×

Program LKLB Hidupkan Pemikiran Gus Dur dalam Merawat Toleransi dan Kebangsaan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Faktual.net – Jakarta, 11 Juli 2026 – Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang dikembangkan Institut Leimena dinilai mampu menghidupkan pemikiran K.H. Abdurrahman Wahid, atau Gus Dur, dalam merawat nilai-nilai toleransi dan kebangsaan. Program LKLB yang menjangkau lebih dari 11.000 guru dari seluruh Indonesia berhasil menghasilkan berbagai implementasi kolaborasi lintas agama yang bermanfaat untuk menjaga kemajemukan Indonesia.

“Kami sangat menyambut baik sinergi dengan Institut Leimena. Sebagai kampus yang menyandang nama besar K.H. Abdurrahman Wahid, maka komitmen kebangsaan dan toleransi adalah harga mati,” kata Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Jawa Tengah, Prof. Zaenal Mustakim, Sabtu (11/7/2026).

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

UIN K.H. Abdurrahman Wahid, atau dikenal dengan UIN Gus Dur, telah menandatangani kerja sama Program LKLB dengan Institut Leimena secara resmi pada Jumat (10/7/2026). Prof. Zaenal menilai kerja sama tersebut merupakan langkah progresif bagi kampus dalam mendiseminasikan nilai moderasi beragama ke level yang lebih luas.

Menurut Zaenal, mahasiswa dan dosen UIN Gus Dur dituntut tidak hanya jago teori-teori moderasi beragama, namun memiliki kecakapan nyata dalam berelasi lintas agama dan lintas budaya. Program LKLB sendiri melatih para calon guru untuk memiliki tiga kompetensi utama untuk hidup dalam masyarakat majemuk yaitu kompetensi pribadi (memahami agama sendiri dalam hubungan dengan orang lain), kompetensi komparatif (menumbuhkan empati terhadap orang dari agama lain), dan kompetensi kolaborasi (mampu bekerja sama sekalipun berbeda agama).

“Kerja sama UIN Gus Dur dan Institut Leimena adalah investasi berharga untuk merawat keindonesiaan di masa kini dan masa depan,” kata Zaenal.

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan kerja sama Institut Leimena dan UIN Gus Dur menjadi contoh nyata kolaborasi lintas agama. Institut Leimena, yang didirikan untuk mengenang dr. Johannes Leimena yaitu pahlawan nasional sekaligus seorang Kristen dan menteri kesehatan masa Presiden Soekarno, berteman baik dengan K.H. Abdul Wahid Hasyim, ayah dari Gus Dur, yang juga seorang pahlawan nasional dan menteri agama pertama RI.

“Kerja sama dengan UIN Gus Dur menjadi kehormatan tersendiri bagi Institut Leimena, bagaimana inspirasi dari dua tokoh pahlawan nasional, seorang Muslim dan seorang Kristen, walaupun berbeda agama namun punya komitmen sama terhadap kemanusiaan dan mau bekerja sama demi kebaikan,” kata Matius.

Baca Juga :  Ciptakan Rasa Aman, Patroli Gabungan dan Razia stasioner Polres Metro Jakarta Barat Amankan Dua Terduga Penyalahguna Narkoba dan Sajam

Matius juga menyoroti perkembangan teknologi yang pesat dengan kemunculan kecerdasan buatan generatif (Gen-AI) dan algoritma media sosial (medsos) sehingga tanpa disadari bisa menyuburkan prasangka terhadap orang lain yang berbeda. Ia mengatakan algoritma medsos juga telah menciptakan ruang gema (echo chamber) yang bisa menjebak generasi muda kepada konten-konten yang seragam, sehingga perjumpaan dengan perbedaan menjadi semakin terbatas.

“Guru menghadapi tantangan kekinian untuk merawat toleransi di era teknologi saat ini. Itulah mengapa guru harus mau bertransformasi, tidak boleh kalah saing dengan AI, melainkan harus hadir sebagai teladan dan sosok nyata untuk menginspirasi anak didik,” kata Matius.

Menurut Matius, kemampuan berinteraksi dengan mereka yang berbeda tidak bisa dianggap akan lahir dengan sendirinya ketika seseorang hidup dalam masyarakat majemuk. Kemampuan itu diusahakan dan dilatih secara sengaja salah satunya dengan memperbanyak perjumpaan dengan orang yang berbeda.

Matius menceritakan kisah nyata dua guru berbeda agama di Ambon, Maluku, yang berhasil menerapkan Program LKLB melalui kerja sama “Sekolah Gandong”. Kedua guru dari SMA Kristen Rehoboth dan SMA Al-Hilal menjadi contoh nyata bagaimana peran krusial guru di tengah tantangan segregasi sosial di Ambon akibat konflik di masa lalu.

“Dampaknya luar biasa. Sekarang kalau anak murid mereka yang berbeda agama itu bertemu bisa langsung teriak ‘Eh, gandong!’ (Hai saudara kandung!). Bayangkan, mereka itu adalah masa depan Ambon, masa depan Maluku, yang rupanya sempat terluka karena konflik 20 tahun lalu,” kata Matius.

Sebelumnya, UIN Gus Dur dan Institut Leimena juga telah melakukan satu kali pelatihan Program LKLB pada Juni 2026 yang diikuti oleh 360 mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK). Dekan FTIK UIN Gus Dur, Prof. Muhlisin, menyatakan akan mengintegrasikan literasi keagamaan lintas budaya ke dalam praktik pembelajaran dan program kemahasiswaan.

“Kami ingin guru dari UIN Gus Dur tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi memiliki resiliensi sosial yang kuat dalam komitmen kebangsaan di sekolah tempat mereka nanti mengabdi,” kata Muhlisin. (Red/JS)

Tanggapi Berita Ini