oleh

PEWARNA Indonesia Gelar Diskusi Online tentang Peluang Partai Kristen di Pemilu 2024

FAKTUAL.NET – JAKARTA – Pada masa orde lama, Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan Partai Katolik sempat meramaikan Pemilu 1955. Masuk ke Era Reformas, Pemilu 1999 ada PDKB yang meraih 5 kursi DPR RI, dilanjutkan kiprah Partai Damai Sejahtera yang menyumbang 12 wakilnya di DPR RI pada Pemilu 2004. Pemilu 2019 dan 2019 tak ada satupun Partai Kristen. Mengapa parta-partai Kristen tak lolos persyaratan sehingga absen dari pemilu legislatif tersebut?

Dan bagaimana peluang Partai Kristen dalam Pemilu 2024? Menjawab ini, Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA Indonesia) menggelar diskusi bertajuk “Peluang Partai Kristen dalam Pemilu 2024”, Hari Selasa (05/05/2024).

Dalam diskusi daring kali ini, Pewarna Indonesia menggandeng delapan orang dari berbagai latar belakang profesi dan organisasi, mereka adalah; Sahat Sinaga (Sekjen PNPS GMKI, mantan Sekjen PDS), Albert Siagian (Wasekjen HIPAKAD, Ketua Umum Forkarisma), Usman Ponco (Praktisi Hukum, Ketua GERKINDO Jabar), Henny Lawrence (Pengusaha), Antonius Natan (Sekum PGLII DKI, Waket I STT LETS), Tertius Agus (Penggerak UKMK Solo), Herry Saragih (Ketua OKK API), dan Yusuf Mujiono (Ketua Umum PEWARNA Indonesia).

Peserta Diskusi

Peluang dan tantangan partai Kristen di Pemilu 2024 dikupas secara jelas dan gamblang oleh para narasumber dalam diskusi yang berlangsung dua jam dan dipandu moderator Ricardo Marbun jurnalis PEWARNA Indonesia.

Berdasarkan pengalamannya sebagai politisi, Sahat Sinaga memaparkan tiga tantangan parpol Kristen dalam kontestasi Pemilu di Indonesia. Mulai dari hambatan undang-undang, daya dan dana serta ambang batas parlemen (parliamentary treshold) diurai mantan Sekjen Partai Damai Sejahtera (PDS) ini. Namun menurutnya, partai Kristen tetap memiliki peluang sekalipun menghadapi sejumlah persyaratan yang terbilang sulit untuk direalisasikan oleh partai Kristen.

“Ada tiga hal yang menjadi tantangan parpol Kristen. Mulai dari undang-undang, daya dan dana serta ambang batas parlemen atau parlementer treshold. Namun bukan berarti tidak ada peluang, Peluang itu ada!”, tegas Sahat Sinaga.

 

Lain lagi Antonius Natan yang menyoroti tentang masih adanya anggapan dari kalangan Kristiani bahwa Politik itu kotor dan jahat. Padahal menurutnya ada mandat Ilahi yang membuat warga Kristiani ikut dalam perjuangan politik praktis melalui partai politik. Mandat Ilahi tersebut antara lain bagaimana memperjuangkan nilai-nilai Kekristenan dalam suatu partai.

“Sekalipun tanpa lambang salib, tanpa lambang pohon pinus, tetapi kita bisa berjuang melalui partai politik dengan memperjuangkan nilai-nilai Kekristenan didalam suatu partai politik”, tutur Waket I STT LETS.

Untuk itu, dikatakannya partai politik butuh orang-orang yang kompeten dan berintegritas untuk menyuarakan suara kenabian. Namun menurutnya seorang Pendeta dalam hal ini gembala jemaat wajib menanggalkan penggembalaannya bila akan terjun ke dunia politik praktis.

“Sebagai warga negara Indonesia dengan iman Kristiani tentunya memiliki mandat ilahi untuk meneruskan perjuangan para pendahulu dalam upaya mewujudkan kesejahteraan rakyat, maka setiap Kristiani turut bertanggung jawab dan ikut berpolitik. Namun Lembaga Kekristenan seperti PGLII tidak berpolitik atau memiliki afiliasi politik,” tegas Sekum PGLII DKI ini.

“Pendeta kalau berpolitik, tanggalkan penggembalaannya, karna di dalam gereja ada berbagai-bagai pilihan yang berbeda,”  tegas Antonius Natan lagi.

Sementara itu, Albert Siagian (Wasekjen HIPAKAD, Ketua Umum Forkarisma) menyampaikan soal sulitnya merealisasikan peluang karena faktor kurangnya leader, pembiayaan dan integritas kepemimpinan.

“Dilihat dari jumlah orang Kristen, harusnya kita punya peluang dari parlemen treshold, namun tidak mudah merealisasikan karena banyak kendala dari soal nama, logo yang tidak mudah untuk menyatukan persepsi, kekuarangan leader dan soal integritas yang banyak disoroti,” tukasnya.

“Ada anggapan sama saja! Ujung-ujungnya duit!” tukasnya lagi singkat.

Hal yang sama disampaikan Usman Ponco. Menurutnya saat ini diperlukan sosok pemimpin Kristen berintegritas yang  sanggup memberi solusi.

“Partai Kristen akan berjalan mulus, akan didukung kalau pemimpinnya yang muncul berintegritas dan sanggup memberi solusi dari persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat dan bangsa,” tutur Usman Ponco.

Senada dengan Usman Ponco, Tertius Agus (Penggerak UKMK Solo) menyatakan perlunya ketokohan nasional yang memiliki dana dan lobi.

“Perlu ketokohan nasional. Siapa yang pegang gerbong ini? Tentunya orang-orang yang punya dana dan lobi,”  sebutnya.

Narasumber berikutnya, Herry Saragih (Ketua OKK API) membeberkan belum ada gebrakan yang dirasakan oleh masyarakat Kristen karena peran partai Kristen.

Sementara Henny Lawrence, memaparkan berbagai kendala yang dihadapinya saat menjadi pengurus partai politik di Provinsi Banten. Walau mengalami banyak kendala, dengan tegas Pengusaha ini menyatakan perlunya partai bernuansa Kristen. 

“Partai bernuansa Kristen harus ada! Karena orang-orang Kristen yang ada di partai nasionalis kurang memperjuangkan aspirasi kaum minoritas,” terangnya.

Narasumber terakhir, Yusuf Mujiono menyoroti soal toleransi yang setara yang perlu diperjuangkan partai Kristen serta bagaimana kehadiran partai Kristen untuk memperkuat partai nasionalis. Ia juga menyampaikan perlu secara bersama-sama dimunculkan figur yang kompeten dan berintegritas. 

“Figur, mari kita munculkan, mari kita dorong bersama-sama,” pungkasnya.

Sesi tanya tanya jawab mewarnai Diskusi yang menarik ini. Berbagai usul dan saran serta tanggapan dari peserta membuat diskusi yang berlangsung dari Pukul 11.30 sampai 13.30 Wib terasa cepat.

Di antaranya Mawardin Zega, Sekjen MUKI menyampaikan beberapa pokok pikirannya, antara lain; Perlu ada kajian ulang yang bisa diukur soal keterlibatan umat dan kebutuhan partai Kristen, memperkuat ormas-ormas yang ada baik yang berafiliasi ataupun tidak, dan dibutuhkan dana dengan pertanggungjawaban yang baik.

Ada juga masukan dan saran peserta dari Papua Barat dan Bali. Sementara itu, sekitar 70 sampai 80 persen peserta Diskusi Online ini mendorong lahirnya partai Kristen untuk ikut dalam kontestasi Pemilu 2024.

“Partai Kristen ini perlu! Kita sama-sama memunculkan tokoh yang mewakili gereja, mewakili umat Kristen dan bangsa,” ujar Usman Ponco.

Pada bagian akhir diskusi, Moderator memberikan kesempatan para narasumber menyampaikan closing statement. Mewakili Pewarna Indonesia, Yususf Mujiono pun menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kesediaan para narasumber dalam Diskusi Online yang baru pertama kali di gelar Persatuan Wartawan nasrani Indonesia. (Johan Sopaheluwakan)

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :