
Maka Mark tak pernah membayangkan bahwa dia menciptakan Facebook sebagai ruang untuk orang-orang berumpun tanpa harus bertemu langsung, dan secara otomatis Mark melewatinya, ia tak hanya mendekap semua dalam satu aplikasi, tapi bermata rantai banyak hingga mengakar dimana-mana.
Mark Zuckerberg di Amerika mungkin tak peduli itu. Pesta politik ramai bergumam di facebook, dan di Indonesia seluruh ruang maya tak jauh bicara soal itu.
Mengutip dari We Are Social mengungkapkan bahwa total populasi Indonesia mencapai 265,4 juta jiwa, sedangkan pengguna internetnya setengah dari populasi, yakni sebesar 132,7 juta. Jumlah yang tak sedikit.
Bila dilihat dari jumlah pengguna internetnya, maka bisa dibilang seluruh pengguna internet di Indonesia sudah mengakses medsos. We Are Social mengatakan 132,7 juta pengguna internet, 130 juta diantaranya pengguna aktif di medsos dalam titik penetrasi 49%.
Sedangkan dari jumlah perangkat, We Are Social mengatakan unique mobile users menyentuh angka 177,9 juta dengan penetrasi 67%. Internet bertahap menjadi ladang konsumsi di Indonesia.
Bahkan penggunaan wifi terus meningkat, dari warung kopi, warung makan, halte hingga bus kota semua tersedia di sana dengan sandi yang berbagai rupa.
Platform medsos yang paling digandrungi oleh orang Indonesia, di antaranya YouTube 43%, Facebook 41%, WhatsApp 40%, Instagram 38%, Line 33%, BBM 28%, Twitter 27%, Google+ 25%, FB Messenger 24%, LinkedIn 16%, Skype 15%, dan WeChat 14%.
Terlepas dari data itu, realitas di beberapa smartphone anak muda pun tergambar jelas, bahkan Arena Of Valor, Pro Evolution Soccer, Mobile Legend, Clas Royal, dan Haertstone lewat telepon genggam diperlombahkan dalam pentas olahraga mancanegara sekelas Asian games.
Persinggungan media sosial akhirnya beranak pinang masuk di tahun politik. Masing-masing politisi melahirkan media dan penulis yang handal,seakan akan medianya mengutip semua yang baik tentang dirinya dan dipasarkan lah di ruang-ruang media.
Persinggungan berlanjut hingga adu mulut, tak cuma itu kualitas kecepatan jempol bermain kata juga harus diperhatikan. Maka tak jarang fitnah dan sumpah serapah melebar dimana-mana.
Dirjen Informasi dan Komunikasi (IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Niken Widiastuti, mensinyalir penyebaran hoax sangat tinggi di mana angkanya bisa mencapai 800 ribu konten per tahun. Penyebaran hoax semakin meningkat menjelang pesta demokrasi. Hoax di media sosial jenisnya bermacam-macam seperti provokasi, hate speech, termasuk bumbu SARA.
Hingga pada akhir narasi ini, saya sampaikan bahwa persinggungan media sosial adalah personalisasi diri. Tak ada yang bisa mengubah jika tidak lahir dari diri sendiri. Fanatisme boleh asal tak keluar dari nalar akal sehat. Ujungnya bukan kemanangan bahagia dan kekalahan terhormat tapi jalan buntu yang berakhir pertikaian.
Politik adalah kelokan yang tajam, di era saat ini smartphone kita jadi penentu ketajaman itu, semua bisa terjadi dan kita semua butuh kehati-hatian. Percayalah.
Gusdur menitipkan pesan pada kita semua yang bersetubuh di politik bahwa yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.
Penulis: Ahmad Takbir Abadi (Pelapak Baca)















