oleh

Peringati HUT RI, Begini Harapan Ketua Demisioner KPMM Dalam Dialog Kebangsaan

📷Foto: Istimewa Rasmin Jaya Ketua Demisioner KPMM. Jangan sekali-sekali melupakan sejarah.

Oleh: Rasmin Jaya, Pemuda Muna Barat

Faktual.Net, Muna Barat, Sultra – Kesatuan Pemuda Mahasiswa Maperaha menggelar kegiatan dialog kebangsaan memperingati semarak kemerdekaan 17 Agustus 2021 untuk yang kesekian kalinya dengan takjub Tema “Memupuk Semangat Persaudaraan Dan Gotong Royong Di Tengah Masyarakat Di Era Covid 19” Sabtu 28 Agustus 2021.

Refleksi sejarah dan apa arti kemerdekaan untuk kita semua sebagai masyarakat yang berbangsa dan bernegara. Pada dasarnya ini adalah upaya kita bersama dalam membangun generasi Sumber Daya Manusia (SDM) sekaligus membangun Ingatan Sosial masyarakat akan pentingnya sebuah Kemerdekaan untuk bebas dari belenggu penjajahan, kemiskinan dan segala persoalan yang masih saat ini menghantui kehidupan masyarakat yang tak punya pendidikan lebih.

Jauh dari itu, Ini adalah sebuah harapan memperpanjang tali silaturahmi bersama masyarakat dan sebagai momentum bersejarah di mana banyak kejadian dan peristiwa besar yang mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia ini yang di pelopori Oleh generasi muda.

Berbagai pergelokan itulah yang kemudian mengisi ruang dan nilai – nilai kemerdekaan perjuangan menuju cita – cita Revolusi bangsa Indonesia yang berdaulat di bidang politik , berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam berbudaya ( Trisakti Bung Karno ).

Pada tanggal 17 Agustus 1945 di bacakan lah Teks Proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia oleh Founding Father kita Bung Karno Dan Bung Hatta atas desakan pemuda pada saat itu yang kita kenal sebagai peristiwa Rengasdengklok, Pertentangan dan pergolakan antara golongan muda dan golongan tua untuk segera membacakan proklamasi dengan segala macam pertimbangan, di perhadapkan dengan berbagai keputusan sulit, sangat sulit sekali.

Oleh karena itu Kesatuan Pemuda Mahasiswa Maperaha ( KPMM) dalam kesempatan dan momentum 17 Agustus melakukan sebuah kegiatan Dialog Kebangsaan semarak memperingati Hari bersejarah. Jangan sekali kali Melupakan sejarah, 17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2021 sebagai Hari di kumandangkan nya Proklamasi dan ulang tahun bangsa Indonesia.

Dalam momentum hari yang bersejarah 17 Agustus 2021 sebagai hari kemerdekaan bangsa Indonesia untuk yang kesekian kalinya kita harus ambil bagian dalam mengisi kemerdekaan sebagai proses refleksi untuk membangun kesadaran masyarakat terkait dengan pentingnya nasionalisme dan patriotisme serta membangun masyarakat dengan kesadaran dan gotong Royong yang selalu di pupuk sebagai bukti Kita mencintai NKRI.

Apa lagi di tengah kondisi bangsa yang di Landa dengan banyak persoalan. Tergerusnya nilai – nilia kebudayaan lokal dan nasional membuat kita tidak menutup mata akan hal itu. Nilai – nilai yang terkandung dalam filosofi bangsa indonesia sangat banyak menyimpan Akan makna dan hakikat. Olehnya itu kita harus melanjutkan cita – cita dan semangat perjuangan seperti Founding Father bangsa Indonesia.

Karena jika tak demikian akan selalu muncul permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia. Dewasa ini sala satunya memudarnya semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan generasi muda khususnya mahasiswa, Apa lagi semangat gotong royong semakin terpolarisasi.

Baca Juga :  Polres Serang Kota Pastikan Pilkades Aman dan Kondusif Melakukan Patroli di Perbatasan

Jika di lihat dari partisipasi dan Keikut sertaan dalam merefleksi hari – hari besar itu sangat minim sekali, Hal ini disebabkan banyaknya pengaruh budaya asing yang masuk di negara kita sehingga merong rong dari pada kebudayaan kolektif dan gotong royong seperti apa yang telah di sepakati bersama.

Akibatnya, banyak generasi muda dan masyarakat yang melupakan budaya sendiri karena menganggap bahwa budaya asing merupakan budaya yang lebih modern dan Tren di masa kini.

Hal tersebut termaksud pada nilai-nilai luhur bangsa yang banyak diabaikan bahkan sejarah pun tak banyak di ketahui di kalangan pemuda dan mahasiswa, Rasa apatis hampir terjadi di sebagian besar generasi muda. Sejak dahulu dan sekarang ini serta masa yang akan datang , peranan pemuda atau generasi muda sebagai pilar, penggerak, dan pengawal jalannya pembangunan nasional sangat diharapkan.

Olehnya itu di butuhkan kesadaran nasional untuk kembali kepada cita-cita Revolusi 1945 sebagai jalan menuju sosialisme Indonesia yang adil dan makmur dalam Praktek.

Olehnya itu dari Kesatuan Pemuda Mahasiswa Maperaha ( KPMM ) akan terus memperingati momentum hari besar dan bersejarah setiap tahunnnya sebagai bukti dan komitmen kami menjaga semangat keberagamanan Gotong Royong.

Membangun sikap persatuan dan toleransi melalui organisasi dan jejaring sosial yang luas, pemuda dan generasi muda dapat memainkan peran yang lebih besar dan penting untuk mengawal jalannya pembangunan nasional serta mendedikasikan dirinya dalam berbagai persoalan masyarakat.

Berbagai permasalahan yang timbul akibat rasa nasionalisme dan kebangsaan yang memudar banyak terjadi belakangan ini. Banyak generasi muda atau pemuda yang mengalami disorientasi, krisis mentalitas, krisis moralitas, krisis Legitimasi dan terlibat pada suatu kepentingan yang hanya mementingkan diri pribadi atau sekelompok tertentu dengan mengatasnamakan rakyat sebagai alasan dalam kegiatanya.

Di Era globalisasi dan modernisasi ini peran generasi muda yang mewakili hati dan pikiran Masyarakat menurut Moh. Hatta dan sebagai pelajar yang tercerahkan tentulah sangat penting untuk tetap menjaga eksistensi kepribadian bangsa Indonesia dan Trisakti bung Karno berdikari di bidang ekonomi, berdaulat dalam bidang politik dan berkepribadian dalam berbudaya .

Sehubungan hal tersebut , generasi muda harus menjadi ujung tombak dalam setiap persoalan yang mengancam keutuhan, sebagai pilar bangsa diharapkan memiliki jiwa patriotisme dan nasionalisme dengan tetap bertahan pada nilai-nilai budaya bangsa Indonesia meskipun banyak budaya asing masuk di negara Indonesia.

Dengan berlandaskan kecintaan kita terhadap bangsa Indonesia diharapkan pengaruh budaya asing bisa disaring sehingga generasi muda bisa menjadi generasi yang benar-benar cinta pada tanah air Indonesia apa pun keadaannya.

Sebagai barisan pemuda dan pemudi Maperaha kita berkomitmen bahwa nasionalisme yang kita bangun adalah bukanlah nasionalisme sempit atau nasionalisme Civinis yang di adopsi oleh Adolf Hitler melainkan lebih mencerminkan humanisme ( kemanusiaan ), Gotong Royong, kebersamaan dan kemandirian untuk maju.

Baca Juga :  26 Unit Kendaraan Terjaring Razia di Depan Mapolres Serang Kota

Sebenarnya ada banyak yang ingin saya curahkan dari berbagai keresahan pikir saya sebagai anak yang lahir dari desa tentang pentingnya belajar sejarah bangsa atau apapun. Dari sana kita akan banyak menemukan jendela dunia guna menambah wawasan ilmu dan pengetahuan kita.

Tak hanya itu, dari sana kita akan menemukan pejuang – pejuang yang seumuran generasi sekarang yang di culik , di kecam bahkan di bunuh yang mengorbankan kemerdekaan diri demi kemerdekaan orang sekitar.

Banyak lembaran sejarah yang menghiasi luka – luka tentang kemanusiaan dan genosida yang sampai saat ini belum kita temukan proses penyelesaian nya. Itu adalah lembaran Hitam dan dosa pemerintah pada saat itu yang membiarkan hal tersebut terus berlarut larut bahkan sejarah harus di plintir dan politisasi untuk kepentingan kekuasaan.

Kita harus sadar dan tau bahwa sejarah adalah Milik seorang pemenang untuk penguasa yang punya kepentingan tapi dalam Sejarah anak muda yang lahir sebagai Generasi baru adalah bahwa sejarah milik orang – orang yang berjuang dan mengorbankan kebebasan dirinya demi kebebasan pribadinya. Rela berkorban untuk kemaslahatan umat meski perjuangan yang di lakukan tak selalu di hargai bahkan tak di mengerti oleh orang – orang sekitar.

Sekali lagi ingin aku curahkan meski amat berkontradiksi dengan tulisan di awal bahwa apa sebenarnya arti dan makna kemerdekaan untuk kita semua masyarakat khususnya kelas bawah ?

Bagi saya di momentum sekarang ini kita harus jauh melihat kebelakang , tak perlu ajari rakyat tentang bagaimana mencintai tanah air dan bangsanya karena dalam rentetan sejarah nenek moyang kita, mereka mampu menunjukan perlawanan dan kekuatan mereka untuk mempertahankan tanah dan airnya agar tidak di kuasi oleh bangsa penjajah.

Para petani, buruh atau apapun itu tidak butuh doktrin negara sebab mereka hanya butuh di hargai sebagai kehormatan harkat dan martabat kemanusiaan yang di rampas hak – haknya atas tetes keringat dan darah yang bercucuran dan kita tidak butuh di barisankan seperti institusi negara yang sering melakukan tindakan represif dan pembungkaman yang mendengarkan kamuflase penguasa.

Sementara mereka dengan mudahnya seperti binatang buas yang memperebutkan kue kekuasaan dalam pemerintahan. Dan tidak perlu ajari mereka tentang apa itu cinta sebab pemerintah tidak pernah hadir di atas jeritan dan kemiskinan yang hadir melanda rakyat itu sendiri.

Sejarah adalah pelajaran yang berharga. Masa lalu dan masa kini merupakan modal utama bagaimana masa depan terbentuk. berharap kita semua bagian dari pada pelaku sejarah bukan penikmat sejarah bangsa ini.

#KPMMBisa

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :