oleh

Peneliti Bencana Paparkan Analisis Potensi Akibat Pembangunan Perkemahaan Tahura Abd Latief Sinjai.

Faktual.Net, Sinjai, Sulsel. Muhlis Salfat, S.TP.,MP. Peneliti Bencana sekaligus Dosen di Salah satu kampus Swasta naungan LLDIKTI 9 Wilayah Sulawesi dan Gorontalo, paparkan potensi bencana Alam di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Rabu, 18/11/2020.

Kawasan Tahura Abdul Latif berada pada kawasan lindung, yaitu kawasan rawan dan berpotensi terjadinya longsor.

Berita terkait:
https://faktual.net/peneliti-asal-palangka-ungkap-titik-rawan-bencana-di-sinjai/

“bahwa itu Perlu dipertegas bahwa didalam kawasan hutan lindung tidak boleh menebang pohon, jangankan satu hektar satu pohon pun dilarang dan itu diatur dalam UU serta berkekuatan hukum, kejadian Tahura menjadi salah satu bentuk pelanggaran berat terhadap lingkungan dan seharusnya ada langkah Hukum”. Katanya.

Muhlis salfat selama melakukan penelitian dan menentukan wilayah Khusus Tahura Abd Latif Desa Batubulerang, Kecamatan Sinjai Borong Kabupaten Sinjai, Sulsel.

“Akibat terjadinya rawan longsor, di akibatkan berbagai faktor, terjadi secara alam yakni, kemiringan, jenis tanah, curah Hujan penggunaan Lahan”.ungkapnya

Berikut Analisisnya:

1. kemiringan
Lereng atau ketinggian suatu tempat merupakan salah satu factor yang dapat menyebabkan longsor, kemiringan lereng berpengaruh dan merupakan dasar penentu terjadinya potensi kelongsoran sautu wilayah, untuk wilayah tahura yang terletak di desa Batu Belereng berada pada kordinat ( 120.01548, – 5.18320). kemiringan wilayah ini berada pada kisaran diatas (>40%).

Baca Juga :  Anjangsana Persit KCK Cabang XXIV, Berikan Santunan Anggota Dan Keluarga TNI

2. Jenis tanah
Jenis tanah juga berpengaruh akan terjadinya longsor. Jenis tanah sedimen merupakan jenis tanah yang sangat berpengaruh, sebab jenis tanah tidak dapat mengikat air yang datang dan berpotensi menimbulkan terjadinya longsor. Untuk wilayah tahura berdasarkan interpretasi peta dapat diketahui jenis tanah berupa andesit, basalt, tephra, dan berbutir halus

3. curah hujan
Curah hujan berpengaruh dan merupakan dasar yang harus dimiliki karena curah hujan di setiap lokasi juga berbeda-beda. Di lain sisi hujan juga berpengaruh terhadap longsor dari faktor jenis tanah dengan skor tertinggi dan dengan skor curah hujan tertinggi juga, maka dapat dapat diperkirakan daerah tersebut merupapakan daerah rawan longsor. Untuk wilayah tahura yang berada di Desa Batubelerang berada pada wilayah dengan curah hujan 2500-3000 mm/tahun.

4. Penggunaan lahan
berfungsi sebagai pusat informasi penggunaan lahan yang ada didaerah yang akan dipetakan, supaya peneliti dapat mengetahui kawasan apa saja yang mungkin terkena longsor. Kawasan yang dapat terkena longsor dapat berupa kawasan permukiman, kawasan lindung dan sebagainya.

Baca Juga :  Sinergi TNI Polri dan Pemkab Batang Siapkan Makanan Untuk Warga Terdampak COVID-19

Bagaimana hasil kajian penelitian pemerintah dan pihak terkait sampai di ijink di keluarkan.?

Di kutip. QS al-A’raaf ayat 56 dan QS Ar-Rahman ayat 1-13.

QS al-A’raaf ayat 56.“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (diciptakan) dengan baik.

Q.S Ar.Rahman (1-13)
(Allah) Yang Maha Pengasih,Yang telah mengajarkan Al-Qur’an,Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai Berbicara, Matahari dan bulan perhitungan menurut perhitungan, dan tetumbuhan dan pepohonan, penuh tunduk (kepada-Nya). Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan, agar kamu jangan merusak keseimbangan itu, dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah mengurangi keseimbangan, Dan bumi telah dibentangkan-Nya untuk makhluk (-Nya), di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang, dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya, Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?.
(dzul)
Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :

Tajuk Berita