oleh

Peneliti Asal Palangka Ungkap Titik Rawan Bencana di Sinjai.

Faktual.Net, Sinjai, Sulsel. Muhlis Salfat, S.TP.,MP. Peneliti Bencana sekaligus Dosen di Salah satu kampus Swasta naungan LLDIKTI 9 Wilayah Sulawesi dan Gorontalo, paparkan potensi bencana Alam di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Sabtu, 17 Oktober 2020.

Muhlis Salfat yang juga sekaligus penulis yang telah menorehkan jurnal nasional, Prosiding internasional HAKI dan Buku ajar berISBN ini lahir di Palangka, Kecamatan Sinjai Selatan, Kabupaten Sinjai, dan masa kecilnya dihabiskan di Palangka, menempuh pendidikan mulai SD hingga SMA di di Sinjai Selatan, Pendidikan S1 di Unhas Jurusan Teknik Pertanian Konsentrasi Evaluasi Lahan dan Remote Sensing, S2 di UNHAS Pertanian Konsetrasi Pembangunan Pertanian Berkelanjutan dan Konservasi Lingkungan (Aplikasi GIS).

Selain itu, ia juga peneliti lingkungan. Menurutnya, wilayah yang rawan longsor akibat Ada beberapa faktor secara alam yang perlu diperhatikan selama lakukan Penelitian sejak tahun 2017 silam di Sinjai, Muhlis Salfat mengungkap. Lereng atau ketinggian suatu tempat merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan longsor. Oleh karena itu, lanjut dia, peta kemiringan lereng juga berpengaruh dan dapat dijadikan sebagai dasar penentu terjadinya potensi kelongsoran sautu wilayah.

“Untuk wilayah tahura yang terletak di desa Batu Belereng berada pada kordinat ( 120.01548, – 5.18320). kemiringan wilayah ini berada pada kisaran diatas (>40%). Jenis tanah juga berpengaruh akan terjadinya longsor. Jenis tanah sedimen merupakan jenis tanah yang sangat berpengaruh, dimana jenis tanah ini tidak dapat mengikat air yang datang sehingga berpotensi menimbulkan terjadinya longsor. Untuk wilayah tahura berdasarkan interpretasi peta dapat diketahui jenis tanah berupa andesit, basalt, tephra, berbutir halus” jelasnya.

Baca Juga :  Wakil Bupati Batang Hadiri Pengajian Houl Pertapan Bahurekso - Sulamjono Yang ke-10

Curah hujan di setiap lokasi juga berbeda-beda. Selain itu, tambahnya, hujan juga berpengaruh terhadap longsor sehingga jika jenis tanah dengan skor tertinggi dan dengan skor curah hujan tertinggi juga, maka dapat dapat diperkirakan daerah tersebut merupapakan daerah rawan longsor. Untuk wilayah tahura yang berada di Desa Batubelerang berada pada wilayah dengan curah hujan 2500-3000 mm/tahun.

“Penggunaan lahan yang ada didaerah yang akan dipetakan, supaya peneliti dapat mengetahui kawasan apa saja yang mungkin terkena longsor. Kawasan yang dapat terkena longsor dapat berupa kawasan permukiman, kawasan lindung dan sebagainya. Kawasan Tahura Abdul Latif berada pada kawasan lindung, yaitu kawasan yang rawan dan berpotensi terjadinya longsor. Perlu dipertegas bahwa didalam kawasan hutan lindung tidak boleh menebang pohon, jangankan satu hektar satu pohon pun dilarang dan itu diatur dalam UU serta berkekuatan hukum, kejadian Tahura menjadi salah satu bentuk pelanggaran berat terhadap lingkungan dan seharusnya ada langkah hukum. Merupakan Daerah rawan longsor yang dihasilkan metode WLC dengan pembobotan dengan tiga kelas yaitu bahaya longsor rendah, bahaya longsor sedang, bahaya longsor tinggi, Dasar kriteria masing-masing kelas longsor” bebernya.

Adapun data kemiringan lereng, sambungnya, tekstur tanah dan curah hujan. Sebaran wilayah longsor dengan kategori bahaya longsor tinggi Terdapat tiga kecamatan yang yaitu Kecamatan Sinjai Barat, Kecamatan Sinjai Borong, Sinjai Tengah, Sebagian wilayah Kecamatan Sinjai Selatan meliputi Desa Palangka dan Desa Polewali,

Baca Juga :  Hari Ke-4 Ops Zebra, Sat Lantas Polres Sinjai Bagi Masker

“Untuk wilayah Kecamatan Tellu limpoe meliputi sebagian Desa Samaturue, desa Saotengnga, Desa Lembang Lohe, Desa Sukamaju. Untuk wilayah Sinjai Timur tersebar di Desa Panaikang, Desa Sanjai, Desa Bongki Lengkese. Wilayah-wilayah tersebut merupakan wilayah yang rawan longsor berdasarkan faktor alam dengan pembobotan berdasarkan nilai curah hujan, kemiringan lereng dan tekstur tanah atau sifat tanah. Wilayah yang tersebar di wilayah Sinjai Barat, Sinjai Borong, Sinjai Tengah serta palangka dan Polewali di Sinjai Selatan perlu perhatian yang serius terutama dalam hal alih fungsi lahan. tersebut merupakan wilayah dengan tingkat kelerengan yang rata-rata diatas 45% dan perlu dijadikan sebagai kawasan lindung namun justru banyak dimanfaatkan sebagai arena untuk pertanian dan perkebunan sehingga potensi longsor menjadi tinggi. Kasus terbesar adalah Tahura, tahura merupakan kawasan lindung memiliki potensi kebencanaan yang besar. Namun sangat miris ketika mengunjungi wilayah tersebut karena wilayah tersebut telah dilakukan penebangan oleh pemerintah” terangnya.

Topografi kawasan tersebut, lengkapnya, memiliki kemiringan lebih dari 90 derajat dengan ketinggian ±200m Vegetasi kawasan tersebut merupakan kawasan lindung tetapi di alihfungsikan menjadi bumi perkemahan sehinga berpotensi terjadinya longsor.

Editor: Dzul

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :

Tajuk Berita