Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini

Palapa dan Pemuda, Sumpah yang Hampir Terkoyak

×

Palapa dan Pemuda, Sumpah yang Hampir Terkoyak

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

faktual.net, Kendari, Sultra. Seorang Patih dari sebuah kerajaan besar di zamannya yakni kerajaan Majapahit yang bernama Patih Gajah Mada. Saat itu Majapahit merupakan sebuah kerajaan besar di Jawa Timur yang dipimpin oleh Raja Hayam Wuruk. Bersamaan dengan itu, masih banyak kerajaan – kerajaan kecil yang bukan merupakan bagian dari Majapahit tersebar mulai dari Bali, Sumatera, Tumasek (Singapura) bahkan sebagian wilayah Asia Tenggara. Maka, Gajah Mada kemudian bersumpah untuk mempersatukan seluruh kerajaan – kerajaan tersebut di bawah pemerintahan satu kerajaan yakni kerajaan Majapahit.

Keyakinan seorang Patih saat itu, Patih pada abad ke XIV bahwa Majapahit akan kuat dan tak terkalahkan apabila seluruh kerajaan – kerajaan yang ada di Nusantara bersatu. Nusantara yang bukan hanya meliputi wilayah Indonesia saat ini, tetapi Nusantara yang wilayahnya sampai ke Malaysia, Singapura bahkan sebagian Thailand. Cita – cita mulia dari seorang Gajah Mada, cita – cita untuk menjaga Nusantara dalam sebuah persatuan yang kuat. Sebuah pemikiran yang sangat maju di Zamannya bahwa persatuan dan kesatuan akan membuat sebuah bangsa menjadi sangat kuat dan disegani. Sumpah yang hari ini dikenal dan akan selalu dikenang dengan nama “Sumpah Palapa”.

Pasang Iklanmu
iklan 468x60
Pasang Iklanmu

Abad ke XIX kembali bangsa ini menggaungkan sebuah sumpah. Bukan lagi oleh seorang Patih, tetapi oleh sekelompok pemuda yang sadar bahwa bangsa Indonesia akan kuat dan mampu mengusir penjajah apabila para pemudanya mengikrarkan diri dalam sebuah ikatan persatuan dan kesatuan. Sebuah kesadaran kolektif bahwa bangsa yang besar, yang terdiri dari beragam bahasa dan suku bangsa akan mampu mencapai kemerdekaannya apabila berikrar untuk bersatu. Menyatukan ide dan pemikiran untuk mencapai mimpi besar meraih kemerdekaan.

27 – 28 Oktober 1928, pemuda – pemuda Indonesia dari berbagai suku berkumpul di Batavia (Jakarta saat ini) dalam sebuah kegiatan yang bernama Kongres Pemuda II. Kegiatan yang dimotori oleh beberapa tokoh yakni Muhammad Yamin dan Wage Rudolf Supratman akhirnya memfinalkan Kongres dengan pembacaan sebuah sumpah yang hari ini kita semua mengenalnya dengan sebutan “Sumpah Pemuda”. Pemuda Jawa, Pemuda Celebes (Sulawesi), Pemuda Ambon, Pemuda Sumatera dan pemuda – pemuda lainnya mengikrarkan diri pada sebuah tekad bahwa penjajah akan bisa terusir dari Bumi Indonesia, terusir dari Nusantara manakala rakyat Indonesia bersatu pada sebuah ikatan kuat yang bernama tali persatuan dan kesatuan.

Sumpah Palapa dan Sumpah Pemuda adalah dua sumpah yang pernah terikrarkan di Bumi Indonesia saat negara ini belum merdeka. Sumpah Palapa adalah cita – cita besar dari Patih dari sebuah kerajaan besar yang pernah ada di Nusantara untuk mempersatukan seluruh Nusantara. Sumpah Pemuda adalah cita – cita mulia dari sekelompok pemuda yang sadar akan pentingnya persatuan dan kesatuan diatas segalanya untuk bisa merdeka menjadi sebuah bangsa yang besar.

Indonesia Saat Ini

Jauh dimasa lalu, para tokoh sadar bahwa hanya dengan bersatu maka kita akan kuat dan berjaya. Para pendiri bangsa sadar bahwa hanya dengan bersatu maka kita akan disegani oleh bangsa lain, hanya dengan bersatu maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar, berdikari dan berdaya saing. Tapi sayang seribu sayang, negeri yang kita cintai, negeri Indonesia tanah tumpah darah yang kita agungkan dan banggakan, semangat persatuan tampaknya pelan – pelan mulai terkikis bahkan hampir terkoyak. Anak – anak bangsa lebih mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya dibanding kepentingan besar bangsa ini.

Baca Juga :  Peranan Mediasi dalam Penegakkan Hukum di Indonesia

Banyak kita lihat diera kekinian, era digital, era yang katanya menuju Indonesia Emas 2045 hanya karena persoalan sepele membuat anak – anak bangsa begitu mudahnya terprovokasi untuk kemudian melakukan tindakan – tindakan yang mencederai persatuan dan kesatuan bangsa. Hanya karena persoalan beda pilihan politik dalam pilkada, pilcaleg ataupun pilpres maka kita mudah sekali tercerai berai, mudah sekali saling bertolak belakang.

Disaat Indonesia telah merdeka dengan usia yang tidak muda lagi, usia 80 tahun, malah kita kadang dipertontonkan dengan hal – hal yang membuat persatuan dan kesatuan bangsa menjadi sirna. Contoh kongkret, disebuah partai politik, berbeda pilihan calon Ketua Umum partai, maka sesama kader partai saling hujat, tidak cukup dengan hujatan bahkan saling lempar kursi diarena kongres, ini semua adalah kekonyolan yang sering kita saksikan. Lantas dimana persatuan dan kesatuan bangsa yang pernah diikrarkan pada masa lalu.

Masih terngiang diingatan kita, bahwa sekelompok orang atas nama demo dan penyampaian aspirasi begitu mudahnya melakukan aksi anarkisme dengan membakar kantor DPRD dibeberapa daerah di Indonesia. Ini adalah pertanda bahwa persatuan dan kesatuan bangsa mulai pupus. Ketika anak bangsa sudah tega untuk merusak fasilitas publik, fasilitas yang dibangun oleh uang negara, maka ini adalah pertanda bahwa bangsa ini telah terasuki oleh pihak – pihak yang tidak bertanggungjawab, pihak – pihak yang hendak merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

Banyak persoalan yang saat ini menandakan bahwa persatuan dan kekompakan anak – anak bangsa sedang diuji. Persoalan OPM di Papua, persoalan RMS di Maluku dan banyak persoalan – persoalan lainnya yang belum teratasi dan semua berpotensi pada koyaknya persatuan dan kesatuan bangsa. Hendaknya anak – anak bangsa kembali ke cita – cita awal dari dicetuskannya “Sumpah Pemuda”, sebuah cita – cita mulia untuk selalu bersatu.

28 Oktober 2025 kembali kita memperingati Sumpah Pemuda, mari generasi muda Indonesia, mari kita jaga keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa, mari kita berkarya sesuai bidang kita masing – masing untuk menuju Indonesia Emas 2045. Mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan kuat yang tidak bisa diprovokasi oleh pihak – pihak asing. Mari tunjukkan kepada dunia, bangsa semangat Sumpah Pemuda tidak akan lekang termakan waktu, semangat Sumpah Pemuda tidak akan pupus termakan waktu, semangat Sumpah Pemuda akan selalu membara dibenak anak – anak muda Indonesia.

Jangan pernah kecewakan para pendahulu bangsa ini, yang telah menetapkan dasar – dasar persatuan. Sebagai generasi muda saat ini, ada tugas mulia teremban dipundak kita semua yakni tugas untuk selalu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, tugas untuk selalu mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi, kelompok ataupun golongan. Akhirnya, penulis mengucapkan selamat memperingati hari Sumpah Pemuda, Selasa, 28 Oktober 2025.

Penulis Aco Rahman Ismail, ST.,MM adalah Founder dari UD. Ken Food, Owner dari Madu Murni Abu Ken

Tanggapi Berita Ini