Example floating
BeritaHeadline

Nyawa Anggota Polisi di Ujung Senioritas? Kasus Bripda Dirja Pratama Uji Integritas Polda Sulsel

×

Nyawa Anggota Polisi di Ujung Senioritas? Kasus Bripda Dirja Pratama Uji Integritas Polda Sulsel

Sebarkan artikel ini

Faktual.net, Makassar – Kematian anggota polisi muda asal Pinrang, Bripda Dirja Pratama, angkatan 53, di lingkungan Direktorat Samapta Polda Sulawesi Selatan memicu sorotan dan tekanan publik. Almarhum dilaporkan meninggal dunia dan diduga menjadi korban kekerasan oleh seniornya.

Kerabat korban berinisial BHR menyampaikan kepada media ini bahwa pihak keluarga sangat terpukul dan mendesak agar kasus tersebut diusut tanpa kompromi.

“Kami tidak ingin ada yang ditutup-tutupi. Jika benar ada penganiayaan, siapapun yang terlibat harus diproses secara hukum. Kami minta keadilan ditegakkan,” tegasnya.

Jenazah almarhum telah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk pemeriksaan medis menyeluruh guna memastikan penyebab kematian secara objektif.

Sementara itu, Kabid Propam Polda Sulawesi Selatan, Zulhan Efendi, membenarkan bahwa pemeriksaan internal sedang berlangsung. Beberapa anggota telah dimintai keterangan.

“Kalau nanti terbukti ada penganiayaan, pasti akan kita proses sesuai aturan yang berlaku. Pemeriksaan masih berjalan dan kita belum bisa menyimpulkan,” ujarnya.

Namun hingga berita ini diterbitkan, Kapolda Sulawesi Selatan, Djuhandhani Rahardjo Puro, belum memberikan keterangan resmi. Sikap tersebut memicu pertanyaan publik terkait komitmen keterbukaan dalam menangani dugaan kekerasan internal.

Baca Juga :  BPK Temukan Masalah Rp2,9 Miliar di Dinas Pendidikan Bantaeng, FKR Desak Pengembalian ke Kasda dan Tindakan Tegas Jika Terbukti Melanggar

Sejumlah elemen masyarakat menilai, kasus ini menjadi ujian serius bagi institusi Polda Sulawesi Selatan dalam membuktikan komitmen reformasi dan transparansi. Jika benar terjadi kekerasan dalam lingkungan internal, maka hal tersebut dinilai mencederai prinsip profesionalitas dan pembinaan di tubuh kepolisian.

Publik mendesak agar:
Proses autopsi dilakukan secara transparan dan hasilnya diumumkan ke publik.

Oknum yang terbukti terlibat diproses pidana maupun etik tanpa pandang bulu.

Evaluasi menyeluruh dilakukan terhadap sistem pembinaan dan pengawasan internal.

Kasus ini menjadi perhatian luas karena menyangkut keselamatan anggota di dalam institusi sendiri.

Masyarakat berharap tidak ada praktik kekerasan yang dibungkus pembinaan atau senioritas.

Media Faktual.net menegaskan akan terus mengawal perkembangan kasus ini hingga tuntas dan memastikan proses berjalan secara terbuka serta akuntabel.

Reporter : Saenal Abidin

Tanggapi Berita Ini