
Oleh: Al Mujaeb Magister Antropologi UGM
Faktual.Net, Buton — Di sejumlah kampung pesisir di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, kehidupan sehari-hari masyarakat memperlihatkan bagaimana modal sosial bekerja sebagai infrastruktur yang tak kasatmata, yang menjaga relasi antar kelompok tetap hangat di tengah masyarakat yang multietnis dan multiagama.
Di tempat-tempat berkumpul, sampai kerja gotong royong memperbaiki perahu atau membersihkan lingkungan, masyarakat membangun kepercayaan lewat perjumpaan yang berulang, saling bantu saat susah satu sama lain, serta norma “jangan bikin malu kampung” yang menekan potensi gesekan.
Pola ini tampak menguat ketika ruang-ruang budaya dan keagamaan dijadikan titik temu, seperti halnya ritual adat Bongka’a Tau di Buton Tengah yang dalam pemberitaan lokal diposisikan sebagai wujud kerukunan sosial sekaligus ruang publik tempat warga lintas latar belakang berkumpul, saling menghormati, dan menegaskan identitas bersama sebagai “orang kampung” sebelum identitas lain yang lebih sempit (RR1, 2025).
Dalam hal yang serupa, pemerintah daerah dan tokoh lintas agama juga pernah mendorong pembentukan “kampung moderasi beragama” serta deklarasi damai yang menekankan agama sebagai perekat sosial. Akan tetapi, sebagai upaya yang sifatnya formal, langkah ini di tingkat komunitas baru benar-benar terasa manfaatnya jika bertemu dengan jejaring sehari-hari warga pesisir yang memang sudah terbiasa saling bekerja sama.
Menjelang momen politik dan keputusan institusi negara yang sering memicu tensi di banyak daerah, seruan dari organisasi kerukunan etnis di Buton Tengah untuk menjaga kondusifitas dan tidak mudah terprovokasi memperlihatkan bahwa jaringan sosial lintas komunitas juga berfungsi sebagai pengaman konflik, karena pesan stabilitas disebarkan melalui figur yang dipercaya oleh anggotanya.
Dari sisi kajian ilmiah, temuan penelitian tentang kepercayaan pada komunitas nelayan di Kapontori, Buton, menegaskan bahwa kepercayaan merupakan elemen kunci yang membuat kerja kolektif, seperti saling berbagi informasi, bantuan, dan koordinasi aktivitas lebih mungkin terjadi.
Hal serupa juga tampak pada studi tentang penguatan modal sosial komunitas nelayan di Pulau Makasar, Kota Baubau, yang merumuskan unsur modal sosial kepercayaan, norma, dan jejaring sebagai fondasi penguatan komunitas pesisir (Tanzil, 2021).
Jika diamati dengan mengguakan kerangka Putnam (2000), praktik-praktik tersebut menunjukkan gabungan bonding social capital, yang mengartikan kerekatan di dalam kelompok dan solidaritas membantu warga bertahan secara ekonomi dan emosional, serta bridging social capital yang menjaga agar perbedaan etnis dan agama tidak otomatis berubah menjadi jarak sosial (Tanzil et al., 2022).
Namun hal ini menemukan tantangan bahwa warga pesisir tetap rentan terhadap isu identitas yang datang dari luar terutama lewat arus informasi cepat sehingga penguatan modal sosial tidak cukup hanya berupa seremonial semata, melainkan perlu dirawat melalui ruang temu yang rutin, literasi informasi komunitas, dan tata kelola lokal yang adil agar semua kelompok merasa diakui (Rizal et al. 2025).
Berita baik dari pesisir Buton adalah harmoni sering kali bukan lahir dari slogan besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang diulang yaitu saling menyapa, membantu satu sama lain, bermusyawarah, dan berbagi risiko hidup di laut yang perlahan menumpuk menjadi kepercayaan sosial.
DAFTAR PUSTAKA
RRI. (2025). Ritual Adat Bongka’a Tau di Buton Tengah.
Tanzil, Sarmadan, Moita, S., Juhaepa, & Anggraini, D. (2022). Analisis keberadaan trust dalam komunitas nelayan di Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton. Dalam Proceedings of the 1st Conference on Social, Politics, and Culture (IACS-CSPC 2022), Indonesian Annual Conference Series, Vol. 1. Universitas Halu Oleo.
Tanzil. (2021). Model penguatan modal sosial pada komunitas nelayan di Pulau Makasar Kota Bau-Bau Provinsi Sulawesi Tenggara. Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Halu Oleo.
Putnam, Robert D. 2000. Bowling Alone. Simon & Schuster.
Rizal, Edwin, Yunus Winoto, Toto Sugito, Catur Nugroho, and Falih I. Septian. 2025. “Disaster Communication in the Digital Age: A Community-Based Case Study of Media, Education, and Local Knowledge in Pangandaran, Indonesia.” Frontiers in Communication 10 (October): 1–14. https://doi.org/10.3389/fcomm.2025.1632436.













