Example floating
Example floating
Headline

Mengenang Perjuangan Raja Sijorat VIII: Pahlawan dari Toba Habinsaran

×

Mengenang Perjuangan Raja Sijorat VIII: Pahlawan dari Toba Habinsaran

Sebarkan artikel ini

Faktual.net – Jakarta Barat – DKI Jakarta – Minggu (6/10/2025) –  Raja Sijorat VIII adalah sosok pahlawan yang gigih memperjuangkan tanah leluhur dan budaya Batak di Toba Habinsaran, Tapanuli. Untuk mengenang dan mengkaji lebih dalam perjuangannya, Tarnama Institut dan Forum Jurnalis Batak (FORJUBA) mengadakan Forum Group Discussion (FGD) pada 6 Oktober 2025 di Universitas Mpu Tantular. Diskusi ini bertujuan untuk menggali lebih dalam peran Raja Sijorat VIII dalam sejarah perjuangan bangsa, yang hasilnya akan digunakan sebagai bahan untuk seminar pada 28 Oktober 2025 di tempat yang sama.

Latar Belakang Perjuangan Raja Sijorat VIII

Raja Sijorat VIII dikenal sebagai pemimpin yang berani dan memiliki semangat juang yang tak tergoyahkan. Ia memimpin rakyatnya dalam mempertahankan tanah leluhur, adat istiadat, dan budaya Batak yang luhur. Perjuangannya dimulai pada 24 Agustus 1878, ketika ia memimpin pasukannya dari Sitorang untuk melawan penjajahan Belanda.

Tahapan Perlawanan

Perlawanan Raja Sijorat VIII dan pasukannya terdiri dari dua tahap penting:

– Tahun 1878: Raja Sijorat VIII memimpin pasukannya melawan Belanda, menunjukkan keberanian dan keteguhan hati dalam menghadapi musuh.
– Tahun 1883: Meskipun Balige jatuh ke tangan Belanda, perjuangan mereka tidak sia-sia. Semangat mempertahankan tanah air dan budaya tetap membara.

Pada tanggal 8 Agustus 1883, Raja Sijorat VIII memimpin sekitar 2000 personil, termasuk 20 pejuang suku Aceh sebagai penasihat militer, dalam serangan terhadap benteng Belanda di Simanangking Laguboti.

Maklumat Perang

Pada tanggal 24 Agustus 1883, Raja Sijorat VIII mengirimkan “Oorlogsverklaring” atau maklumat perang kepada Belanda di Simanangking Laguboti. Maklumat ini ditulis dalam bahasa Batak di sekerat bambu dan digantungkan di pohon dekat tangsi Belanda, menyatakan kesiapan Raja Sijorat VIII untuk perang habis-habisan melawan Belanda.

Reaksi Belanda

Maklumat perang ini tidak diabaikan oleh Belanda. Pada malam yang sama, seorang prajurit penjaga tangsi Belanda bernama Kertodongso tertembak dan menderita luka berat, memicu reaksi keras dari Belanda. Pada tanggal 26 Agustus 1883, pasukan Belanda di bawah komando Kapten Haver Droeze bergerak ke Sitorang dengan pasukan sekitar 2000 orang, lengkap dengan persenjataan berat dan artileri.

Baca Juga :  ORI Sultra Perkuat Sinergi Penyelenggara Layanan Melalui Entry Meeting Penilaian Maladministrasi Tahun 2026 

Pertempuran di Sitorang

Pasukan Belanda melewati berbagai wilayah, termasuk sungai Aek Simare-mare, Laguboti, Pintubosi, Sigumpar, Pintubatu, dan Silaen. Banyak huta yang dilalui oleh pasukan Belanda tidak melakukan perlawanan dan malah menaikkan bendera putih sebagai tanda menyerah. Namun, ketika pasukan Belanda tiba di Sitorang, mereka dihadapi oleh perlawanan sengit dari pejuang Batak. Meskipun berjuang dengan gigih, pejuang Batak akhirnya kalah karena persenjataan yang tidak seimbang. Hampir semua huta-huta di Sitorang dibakar habis, termasuk padi dan ternak.

Setelah tiga hari tiga malam dikepung, huta Raja Sijorat VIII di Lumbantor, Sitorang, akhirnya jatuh ke tangan serdadu Belanda. Rumah kesaktiannya dibakar setelah dijarah, dan harta bendanya dibawa oleh Belanda. Meskipun Raja Sijorat VIII sempat ditawan, dia berhasil melarikan diri dan melanjutkan perjuangannya melalui perang gerilya di daerah Habinsaran.

Strategi Perjuangan

Raja Sijorat VIII juga menggunakan strategi baru dengan memanfaatkan agama Parmalim sebagai sarana untuk melakukan gerakan bawah tanah. Perjuangannya tidak hanya terbatas pada pertempuran fisik, tetapi juga melibatkan strategi politik dan sosial untuk memobilisasi dukungan rakyat.

Kesimpulan

Perjuangan heroik Raja Sijorat VIII dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda dan masyarakat luas. Melalui seminar ini, kita dapat lebih menghargai dan menghormati perjuangan para pahlawan yang telah berkorban demi kemerdekaan dan keutuhan bangsa. Diharapkan seminar ini dapat menjadi platform untuk mengkaji lebih lanjut tentang peran Raja Sijorat VIII dan kontribusinya dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda, serta meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap sejarah dan budaya Batak.

Dengan demikian, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap sejarah dan budaya Batak. Mengingat pentingnya menghormati dan mengenang tokoh-tokoh perjuangan, kita perlu melakukan upaya untuk mengenal dan mendengungkan kembali tokoh-tokoh tersebut agar tetap dikenang dan tertanam dalam hati masyarakat Batak. Horas Bangso Batak!

Reporter: Johan Sopaheluwakan/B Butarbutar

Dari berbagai sumber

Tanggapi Berita Ini