Example floating
Example floating
Edukasi

Mengapa Tuhan Mengijinkan Kemiskinan di Dunia Ini?

×

Mengapa Tuhan Mengijinkan Kemiskinan di Dunia Ini?

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Johan Sopaheluwakan, S..Pd., C.EJ., C.BJ., CLA-D

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

Faktual.net – Jakarta Barat, DKI Jakarta – Minggu (23/11/2025) – Pertanyaan mengapa Tuhan mengijinkan miskin dan kemiskinan selalu menjadi salah satu yang paling mendalam dan menggugah emosi di antara umat beragama?

Sebelum membahas aspek spiritualnya, penting untuk memahami definisi dan realitas kemiskinan secara objektif.

Menurut  Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengembangan (UNDP, Laporan Pengembangan Manusia 2023), sekitar 700 juta orang di dunia — atau 9% dari populasi global — hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem (kurang dari 2,15 dolar AS per hari).

Angka ini menunjukkan bahwa kemiskinan bukan sekadar masalah pribadi, tetapi fenomena global yang membutuhkan pemahaman yang komprehensif.


Makna kemiskinan yang sebenarnya tidak hanya terbatas pada kekurangan uang dan materi. Badan Statistik Indonesia (BPS, Laporan Kemiskinan Multidimensi 2024) mendefinisikan kemiskinan secara multidimensi: meliputi tidak cukup akses ke makanan, air bersih, sanitasi, pendidikan, dan layanan kesehatan. Pada tahun 2024, BPS mencatat bahwa 9,5% penduduk Indonesia hidup dalam kemiskinan multidimensi — artinya, mereka tidak hanya miskin secara ekonomi, tetapi juga kekurangan akses ke layanan dasar yang penting untuk hidup yang layak.

Ini menunjukkan bahwa kemiskinan adalah kondisi yang meliputi seluruh aspek kehidupan, bukan hanya masalah keuangan.

Dari perspektif spiritual, banyak ajaran agama menyatakan bahwa Tuhan tidak menciptakan kemiskinan, tetapi memberikan kebebasan bebas kepada manusia untuk membuat pilihan. Menurut survei Pew Research Center (Laporan Agama dan Masyarakat 2022), 68% umat agama di dunia percaya bahwa kemiskinan terjadi karena pilihan manusia dan ketidakadilan sosial, bukan karena kehendak Tuhan secara langsung. Data ini mencakup umat Kristen (65%), Muslim (71%), Buddha (69%), dan Hindu (67%) — menunjukkan bahwa sebagian besar orang beragama melihat kemiskinan sebagai akibat dari tindakan atau kelalaian manusia, bukan sebagai hukuman atau rencana Tuhan yang tegas.

Salah satu alasan mengapa Tuhan diartikan sebagai “mengizinkan” kemiskinan adalah untuk memberikan kesempatan kepada manusia untuk menunjukkan kasih sayang dan kebaikan. Menurut data dari Organisasi Kemanusiaan Dunia (Oxfam, Laporan Amal Global 2023), lebih dari 2,5 miliar orang di dunia terlibat dalam kegiatan amal atau bantuan kepada orang lain yang miskin. Ajaran Kristen (Matius 25:35), Islam (QS. Al-Baqarah: 177), Buddha (Ajaran Metta), dan Hindu (Konsep Dharma) semuanya menekankan bahwa membantu sesama yang membutuhkan adalah cara untuk mendekati Tuhan/kebenaran dan membangun karakter yang baik — sehingga kemiskinan dapat menjadi wadah untuk menumbuhkan nilai-nilai spiritual yang berharga.

Kemiskinan juga dapat dilihat sebagai peringatan terhadap bahaya keserakahan dan ketergantungan pada materi. Data dari Bank Dunia (Laporan Kekayaan Global 2023) menunjukkan bahwa pada tahun 2023, 1% penduduk terkaya di dunia memegang 38% kekayaan global, sedangkan 50% penduduk termiskin hanya memegang 2,2% kekayaan.

Dari sudut pandang spiritual, kondisi ini menunjukkan bahwa banyak orang yang kaya secara materi seringkali lupa nilai-nilai yang sebenarnya: Kristen mengingatkan tentang bahaya harta benda (Matius 6:19), Muslim tentang pentingnya kesederhanaan (QS. Al-A’raf: 31), Buddha tentang keinginan sebagai sumber penderitaan, dan Hindu tentang ketergantungan pada materi sebagai hal yang sementara.

Makna miskin yang sebenarnya juga termasuk “kemiskinan batin” — kondisi di mana seseorang merasa kosong, tidak punya tujuan, atau terpisah dari Tuhan dan sesama. Survei yang dilakukan oleh Yayasan Penelitian Agama Indonesia (Laporan Kesejahteraan Batin 2024) menemukan bahwa 32% orang yang hidup di atas garis kemiskinan ekonomi merasa puas dengan hidupnya, sedangkan 27% orang yang kaya secara materi merasa kosong dan tidak bahagia. Data ini sejalan dengan ajaran Buddha tentang “kemiskinan jiwa” akibat kurangnya pemahaman, dan ajaran Kristen tentang “kebutuhan akan Tuhan” yang tidak dapat dipenuhi oleh materi.

Baca Juga :  Menjaga Kewarasan di Tengah Rutinitas Kerja: Strategi Pengelolaan Diri untuk Produktivitas Berkelanjutan

Dari sisi realitas duniawi, faktor-faktor seperti ketidakadilan sosial, perang, bencana alam, dan ketidakmampuan pemerintah untuk memberikan layanan dasar juga berkontribusi besar pada kemiskinan. Menurut Lembaga PBB untuk Pengendalian Bencana (UNDRR, Laporan Bencana Global 2023), pada tahun 2023, lebih dari 300 juta orang terkena dampak bencana alam, yang menyebabkan kerugian ekonomi senilai 313 miliar dolar AS dan menambah 26 juta orang ke dalam kemiskinan. Selain itu, Lembaga PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR, 2023) mencatat bahwa perang di 20 negara menyebabkan lebih dari 100 juta orang mengungsi dan menderita kemiskinan — menunjukkan bahwa kemiskinan tidak selalu disebabkan oleh faktor spiritual, tetapi juga oleh kondisi duniawi yang tidak terkontrol atau tidak adil.

Ajaran agama banyak menekankan bahwa Tuhan adalah penyayang dan adil, dan bahwa kemiskinan tidak akan tetap abadi. Menurut Alkitab (Matius 25:35-40) dan Al-Qur’an (QS. Al-Hujurat: 10), Tuhan akan menghakimi manusia berdasarkan bagaimana mereka memperlakukan sesama yang miskin. Ajaran Buddha juga menyatakan bahwa keadilan akan tercapai melalui tindakan manusia, sedangkan ajaran Hindu tentang karma menyatakan bahwa perlakuan terhadap sesama akan mempengaruhi kehidupan mendatang. Data dari UNDP (2023) menunjukkan bahwa sejak tahun 1990, jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem telah menurun dari 1,9 miliar menjadi 700 juta — bukti bahwa perbaikan adalah mungkin ketika manusia bekerja sama untuk mengatasi masalah ini.

Kemiskinan juga dapat menjadi sumber kekuatan dan pertumbuhan pribadi. Survei yang dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada (Penelitian Kemiskinan dan Pertumbuhan Pribadi 2024) menemukan bahwa 65% orang yang pernah mengalami kemiskinan menyatakan bahwa pengalaman itu membuat mereka lebih kuat, lebih bersyukur, dan lebih peduli kepada orang lain. Dari perspektif spiritual, ini adalah bukti bahwa kesulitan dalam hidup dapat menjadi alat untuk membentuk karakter: Kristen menyebutnya “uji cobaan yang memperkuat iman” (Yakobus 1:2-4), Muslim tentang “kesulitan sebagai nikmat tersembunyi”, Buddha tentang “kesulitan sebagai jalan menuju pencerahan”, dan Hindu tentang “kesulitan sebagai bagian dari perjalanan jiwa”.

Jadi, mengapa Tuhan mengijinkan kemiskinan? Jawabannya tidak sederhana, tetapi menggabungkan aspek kebebasan bebas manusia, kesempatan untuk menunjukkan kebaikan, peringatan terhadap keserakahan, dan potensi untuk pertumbuhan spiritual — perspektif yang dianut oleh sebagian besar agama global. Sementara itu, makna kemiskinan yang sebenarnya adalah kondisi multidimensi yang mencakup kekurangan materi, akses ke layanan dasar, dan bahkan kemiskinan batin. Data statistik dari lembaga internasional dan nasional menunjukkan bahwa kemiskinan adalah masalah global yang dapat diatasi, tetapi membutuhkan kerja sama manusia dan pemahaman yang mendalam tentang akar penyebabnya.

Kita tidak boleh hanya bertanya mengapa Tuhan mengijinkan kemiskinan, tetapi juga apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasinya. Dengan melihat kemiskinan sebagai kesempatan untuk membantu sesama, membangun keadilan sosial, dan mengembangkan nilai-nilai spiritual yang diajarkan oleh berbagai agama, kita dapat mengubah pandangan kita terhadap masalah ini. Sebagai manusia, tugas kita adalah untuk bekerja sama untuk mengurangi kemiskinan melalui kebijakan yang adil, bantuan amal, dan pemberdayaan masyarakat, sambil juga menyadari bahwa makna kehidupan tidak hanya terletak pada kekayaan materi, tetapi juga pada kasih sayang, syukur, dan hubungan yang erat dengan Tuhan dan sesama.

Penulis adalah Mahasiswa Magister Pendidikan pada STTI Philadelphia, Banten

Tanggapi Berita Ini
https://faktual.net/wp-admin/post.php?post=199474&action=edit