Faktual.net, Gowa, Sulsel– Proyek rehabilitasi Sekolah Dasar (SD) Sarroangin di Desa Bonto Manai, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa, terus menuai sorotan tajam. Pasalnya, material berupa besi holo yang ditemukan di lokasi diduga terlalu tipis dan dinilai tidak memenuhi standar konstruksi bangunan sekolah.
Sejumlah foto material yang beredar di masyarakat memperlihatkan besi dengan ketebalan minim. Warga khawatir, jika material tersebut tetap dipakai, keselamatan ratusan siswa maupun guru yang setiap hari beraktivitas di sekolah itu akan dipertaruhkan.
“Menurut saya, besi holo ini sangat tipis dan tidak cocok digunakan untuk rehab bangunan sekolah. Kami mendesak Dinas Pendidikan Gowa turun langsung ke lokasi untuk memastikan kualitas material sebelum dipasang,” ungkap salah seorang warga, Sabtu (30/8/2025).
Menanggapi temuan tersebut, awak media kamis (4/9/2025) berupaya mengonfirmasi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gowa. Kadisdik menyatakan bahwa pihaknya sudah meneruskan persoalan ini ke tim teknis untuk dilakukan pemeriksaan.
“Tidak bisa kami menilai spesifikasi teknis hanya berdasarkan foto. Harus ada pengamatan, pengukuran, dan perbandingan sesuai spek dalam RAB. Dan yang menilai pun harus tenaga teknis agar objektif,” tegasnya.
Saat dikonfirmasi kembali, Kadisdik menambahkan bahwa persoalan ini sudah disampaikan ke Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Bahkan, PPK disebut sudah mengingatkan pihak ketiga atau kontraktor agar memastikan material sesuai dengan spesifikasi.
Meski demikian, warga tetap menilai pengawasan proyek di lapangan masih lemah. Mereka menegaskan, mutu material tidak boleh diabaikan, apalagi menyangkut bangunan sekolah yang menampung banyak siswa.
“Keselamatan anak-anak kita tidak bisa ditukar dengan keuntungan pihak kontraktor. Kalau benar ada material tipis yang dipakai, itu bentuk kelalaian serius,” tegas seorang warga lainnya.
Kasus dugaan penggunaan material tipis dalam proyek rehabilitasi SD Sarroangin ini semakin menambah sorotan terhadap kualitas proyek pendidikan di Kabupaten Gowa. Publik kini menunggu langkah tegas dari Dinas Pendidikan maupun aparat terkait agar tidak ada lagi praktik asal jadi dalam pembangunan fasilitas pendidikan.
Reporter Sattu













