oleh

Krisisnya Legitimasi Lembaga Kemahasiswaan dan Regenerasi Kepemimpinan

-Berita, Opini-153 views
Rasmin Jaya Mahasiswa Fisip UHO, Jurusan Sosiologi. 📷Foto: Ist

Oleh: Rasmin Jaya Ketua DPK GMNI FISIP UHO

Faktual.Net, Kendari, Sultra –Kampus merupakan ladang kepemimpinan masa depan yang sangat subur. Kuncup-kuncup pemimpin itu bernama pemuda dan mahasiswa. Maka biarkanlah kuncup dan bibit itu mekar menjadi bunga dan pada saatnya menjadi buah yang bermanfaat dan berguna untuk semesta alam yang membutuhkan di segala lini sektor.

Itulah saatnya ketika negeri ini panen raya para pemimpin yang akan memandu bangsa besar ini menuju kejayaannya sebagai guru peradaban, Itulah apa yang menjadi harapan dan cita -cita founding father kita dahulu. (Ustadziyyatul ‘alam)

Para aktivis pergerakan kemerdekaan indonesia dahulu hanya beberapa orang yang mampu menempuh pendidikan lebih tinggi karena masalah ekonomi dan cengkraman kolonialisme, imperialisme yang menjajah indonesia terus menerus selama 3.5 abad lamanya. Meski kondisi masyarakat sangat terkantung kantung dalam memperjuangkan hak hidupnya tetapi kaum terpelajar yang menempuh pendidikan mampu membangun kesadaran dan kebangkitan nasional untuk bersatu.

Dengan hadir dan terbentuknya organisasai daerah budi utomo 1908 yang di pelopori oleh doktor wahidin dan organisasi serikat dagang islam yang di pelopori cokroaminoto guru bangsa sebagai asal muasal terbentuknya kesadaran masyarakat untuk berkumpul, diskusi dan berjuang. Namun tampaknya organisasi yang terbangun dari setiap daerah tak mampu membendung kekuataan penjajah sehingga kita dengan mudah di propaganda dan di hasut untuk bentur satu sama lain, sehingga atas hal itulah kita harus bersatu dalam kelompok yang besar, terbentuklah deklarasi sumpah pemuda 28 Oktober 1928.

Di Indonesias partisipasi politik pergerakan mahasiswa sebagai kelompok penekan yang mampu mengintervensi kebijakan dari luar sistem yang tidak pro terhadap rakyat dan memiliki posisi strategis setidaknya karena tiga alasan: peran sejarahnya dalam membebaskan bangsa Indonesia dari imperialis dan imperialis serta kepeloporannya dalam menggerakkan perubahan sosial (Agent Of social Change) menyebabkan ia memiliki tanggungjawab besar sejarah yang harus selalu ditunaikan dari setiap generasi dan bangsanya.

Sistem politik di Indonesia dan negara berkembang lainnya, biasanya belum cukup mapan dan belum cukup efektif untuk mengakomodasi aspirasi masyarakat. Karena itu mahasiswa sering kali dijadikan sebagai benteng pertahanan terakhir dalam pembaharuan suatu bangsa dalam setiap aksi parlemen jalanan.

Jembatan nurani dan masyarakat, tingkat pendidikan masyarakat Indonesia pada umumnya masih relatif rendah pada era sebelum kemerdekaan bangsa indonesia sehingga mereka kurang mampu mengartikulasikan kepentingannya untuk kehidupan sehari hari akibat cengkraman penjajahan.

Mahasiswa sendiri merupakan kelas menengah yang mudah masuk langsung ke masyarakat, maka mereka sering dipercaya untuk menjadikonseptor dan eksekutorr harapan dan aspirasi-aspirasi rakyat.

Olehnya itu para aktifis pergerakan mahasiswa hari hendaknya memikirkan konsep regenerasi kepemimpinan pergerakan mahasiswa ke depan guna melanjutkan apa yang menjadi visi-misi menuju tatanan masyarakat yang adil dan makmur.

Keberhasilan sebuah gerakan pada hakikatnya tidak diukur hanya pada satu periode saja, tapi juga dilihat dari daya tahan pergerakan pada masa-masa selanjutnya apakah terjadi kemunduran atau kemajuan supaya terus menjadi evaluasi dan pembelajaran.

Diantara faktor yang menentukan kelanggengan pergerakan adalah kepemimpinan gerakan itu sendiri olehnya itu sangat di butuhkan penggeblengan di dalam organisasi dan kaderisasi yang matang.

Itulah dengan krisisnya kepercayaan mahasiswa dari masyarakat hari ini menjadi imbas dari pada lemahanya organisasi internal maupun eksternal untuk membawa kontribusi lebih besar di tengah-tengah masyarakat sebagai orientasi dari pada tangung jawab sebagai mahasiswa, Apa lagi masalah bangsa yang begitu banyak dari tataran nasional maupun lokal.

Olehnya itu perlu disusun alur kaderisasi yang baik dan matang untuk kepemimpinan pergerakan mahasiswa di kampus yang integral dan komprehensif. Kaderisasi ini dilakukan secara terus menerus sehingga ia menjadi kawah candradimuka yang melahirkan para pemimpin pergerakan yang tangguh dan mempunyai idealisme tinggi.

Idealnya para pemimpin lembaga kampus dan pergerakan mahasiswa muncul melalui sebuah proses yang panjang yang banyak benturan-benturan hingga sampai terbentuk dan bukan pemimpin karbitan pragmatis yang muncul tiba-tiba tanpa penguasaan konsep, tempaan masalah dan pengalaman yang mumpuni. Olehnya itu pentingya kaderisasi dalam sebuah organisasi untuk menciptakan dan membentuk karakter kepemimpinan yang berkepribadian.

Pimpinan pergerakan mahasiswa harus menjadi icon dalam percaturan bangsa ini baik dari kelompok kelembagaan mahasiswa intra maupun ektra kampus. Ia merupakan pengambil keputusan dan leader tertinggi di lembaganya yang harus mempertanggungjawabkan pengelolaan lembaga kemahasiswaan tersebut kepada mahasiswa lainnya karena dia mewakili seluruh mahasiswa yang dia pimpinnya.

Baca Juga :  Manivestasi Kepemimpinan Yang Loyal dan Berintegritas, Hippmasangia Gelar Mubes ke-IX

Seorang pimpinan pergerakan mahasiswa idealnya memang seorang pemimpin mahasiswa yang memiliki tugas dan wewenang contohnya: Mengkomunikasikan wacana pergerakan mahasiswa dan strategi umumnya kepada tim intinya dengan diskusi yang mendalam, Melakukan rencana penggalangan dan kordinasi untuk mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan tetapi faktanya sangat minim dan krisis sekali untuk melakukan penyatuan gerakan.

Pengurus lembaga kemahasiswaan fakultas sampai di tataran bawah HMJ perlu mambangun kordinasi yang baik sebagai jantung dan konstituen pergerakan untuk menggalang kekuatan massa sebanyak -banyaknya dan tak hanya itu organ internal kampus juga harus mampus menggandeng lembaga pergerakan mahasiswa lainnya untuk membentuk sebuah aliansi dalam perjuangan sehingga wacana pergerakan mahasiswa yang digulirkan dapat menjadi konsumsi dan sorotan publik untuk menarik simpati dan empati, mengelola dan mengendalikan pengurus lembaga kemahasiswaan sebagai bentuk konsolidasi institusional. Bersama pengurus yang lain melakukan upaya penguasaan opini dengan melakukan propaganda dan agitasi di dalam kampus maupun di luar kampus melalui berbagai sarana dan instrumen komunikasi pergerakan yang ada. Itu sala satu alternatif cara dan strategi merespon isu lokal dan nasional dengan cepat dengan banyaknya kebijakan pemerintah yang simpang siur dan tidak pro terhadap rakyat.

Apa lagi di dalam satu kampus terdapat berbagai elemen pergerakan mahasiswa yang berkompetisi untuk mengelola Lembaga Pergerakan Mahasiswa intra kampus.

Dalam kondisi seperti itu, maka mekanisme regenerasi kepemimpinan pergerakan ini bisa melalui dua proses, yaitu proses internal komunitas aktifis pergerakan dan proses eksternal aktifis pergerakan.

Peran dan strategi kelompok mahasiswa sangat di butuhkan dan solusi di tengah kekeroposan yang menggerogoti tubuh bangsa ini , KKN , Kemiskinan, Kurangnya akses pendidikan dan lain sebagainya. Pergerakan mahasiswa merupakan intrumen yang dapat melakukan advokasi masyarakat dan bangsa yang masih seringkali menjadi korban dari kebijakan yang tidak berpihak kepada mereka. Partisipasi rakyat dalam pergerakan mahasiswa ini dilakukan dalam rangka mempengaruhi pemerintah dalam pengambilan keputusan.

Selain itu, partisipasi mahasiswa ini pun sebagai sarana pendidikan dan pembelajaran juga bagi kader-kader pergerakan, sekaligus sarana penyebaran pemikiran ideologi, wacana, ide dan gagasan pergerakan mahasiswa dan menciptakan pemimpin-pemimpin bangsa ke depannya.

Tantangan Gerakan.

Dalam hemat penulis dengan perjuangan yang telah kita lalui, kita telah melawam dengan sebaik-baiknya dan sehormat hormatnya. Ungkapan nyai Ontorosoh bahwa nyali sama harganya dengan nyawa. Apa lagi sekarang pusat perjuangan tak seperti yang di alami oleh pendahulu kita , hari ini kita sudah mulai berhadap hadapan dengan bangsa sendiri bahkan sesama anak bangsa itu sendiri saling berbenturan karena berebut kepentingan.

Setiap kali seseorang tampil memperjuangkan sesuatu yang ideal dan bermakna untuk semua orang, menentang ketidakadilan dan penindasan yang menghisap. Maka kita telah menujukan sikap protes dan gelombang untuk suatu pengharapan yang lebih baik meski banyaknya penghianat yang pragmatis dengan mengotori roda gerakan.

Mesin agitasi dan propaganda menjadi penting dalam sebuah seni perjuangan revolusi apa lagi gerakan yang di bangun harus lebih massif terkonsolidasi dan terideologisasi untuk memblokade kekuatan intitusi negara yang siap mematahkan setiap pergerakan.

Mengutip apa yang di sampaikan oleh Jalaludin Rumi bahwa mereka yang tak mempunyai api akan sia-sia hidupnya. ini sebagai alarm dan pertanda bahwa kita tidak boleh duduk diam dan berpangku tangan, menunggu di beri wahyu dan anugrah kemerdekaan, kebebasan oleh orang yang berkuasa di negri kita atau oleh kekuatan asing yang menghisap seluruh kekayaan dan sumber daya alam kita.

Komplit sudah masalah yang menghambat dari pada gerak perjuangan kita, apa lagi kondisi pendemi tak lagi memungkinkan untuk bergerak lebih leluasa menyebarkan serangkaian agitasi dan sikap protes kepada pemerintah sebab mereka punya pendekatan militeristik untuk membungkam segala aktivitas dan suara kritis rakyat itu sendiri.

Masalah Kebangsaan Dalam Sejarah.

Kita pernah terjadi mengalami suatu masa yang amat kelam dan amat keji bahwa selama 32 tahun bangsa Indonesia ini hidup dalam tertatih tatih di bawah cengkraman kekuasaan yang otoritarianisme, diktator, birokrat dengan kekuatan tangan besinya. Berbagai rentetatan peristiwa dan dinamika perjuangan menuju era keterbukaan, reformasi dan demokrasi tetapi sepertinya tidak perduli dengan apa yang terjadi di masa lalu apa lagi proses keadilannya. Penindasan dan kekejaman yang di rasakan oleh korban, rakyat dari berbagai pelanggaran Hak Asasi Manusia cenderung di lupakan begitu saja mulai dari 1965 -1966 pembantaian massal dan genosida di mana memakan korban hampir mencapai 20 ribu nyawa yang melayang yang dituduh simpatisan komunis,1974 peristiwa malaria, pembelengguan kemerdekaan mahasiswa melalui NKK dan BKK 1978 yang harus merenggut kawanan seoarang aktivis dengan suara-suara kritisnya yang menyoroti kebijakan pemerintah. Tahun 1998 aksi Reformasi akibat krisis moneter yang melanda masyarakat indonesia menuntut soeharto untuk mundur dari tahta dan singgasana kursi kepresidenannya dan tragedi semanggi, Munir, Marsinah, Wiji Tukul bahkan pejuang _pejuang keadilan lainnya seperti Novel menjadi sejarah kebanggaan dan kejayaan gerakan mahasiswa yang kadang – kadang memilukan menjadi catatan kelam dan sejarah hitam bangsa Indonesia.

Baca Juga :  26 Unit Kendaraan Terjaring Razia di Depan Mapolres Serang Kota

Hal itulah yang tidak pernah di bedah dan di rekontruksi ulang untuk menemukan akar penyebab dan persoalannya serta merumuskan lagi sistem baru yang lebih menghormati dari pada Hak Asasi Manusia (HAM). deretan kekerasan ini menjalar di atas lantai militerisme, pemerintah yang mendirikan kekuaasanya dengan berfondasikan pada jaminan dan keamanan dan ketertibaan dari gerombolan polisi dan tentara.

Masalah kebangsaan yang sampai hari ini menjadi hantu dan momok menakutkan yang menggerogoti kehidupan bermasyarakat adalah sebuah virus dan penindasan yang memarjinal dan mendiskreditkan sebagian dari masyarakat minoritas seperti contoh papua misalnya yang sampai hari ini bergelut dengan ekologi sosial dan lingkunganya yang terus di ancam dengan kekerasan militerisem . Sala satu yang menjadi masalah lahirnya sebuah bentuk penindasan adalah lahirnya bentuk penjajahan baru yanag kita kenal nekolim itu sendiri yang menancapkan kukunya di bumi pertiwi, Bagian wujud dari pada kapitalisme baru itu sendiri.

Tulisan tersebut akan membahas secara khusus bagaimana cara kerja investor dan para elit nasional maupun global yang berkonspirasi untuk membangun tatanan dunia baru , Iluminati dan freemason. dalam penjelasan ini menguraikan beberapa tindakan eksploitasi dan akumulasi para jahanan baru itu.

Memang benar bahwa untuk melihat masalah kebangsaan yang tak kunjung usai hari ini harus di lihat dari peta sejarah sebagai sebab dan akibatnya. ini adalah sala satu hambatan kemajuan manusia dari suatu bangsa dan generasinya di satu sisi adalah kepemilikan pribadi yang saling bertentang dengan masyarakat bawah atau biasa di kenal di negara-negara barat sebagai kaum Proletar. Saat ini Indonesia sendiri terjadi krisis kepemimpinan dan kemunduran berfikir karena di kekang oleh ideology-ideologi besar dunia liberalisme, komunisme dan kapitalisme itu sendiri bahkan kita menjadi sorotan internasional dengan kekayaan dan sumber daya alam yang kita miliki, Bagaikan gadis desa yang siap untuk di pinang siapa saja. Apa lagi peta geopolitik dan ekonomi politik kita bisa di intervensi oleh negara –negara besar, Ini lah masalah kebangsaan sekali lagi sebagai konsekuensi apatisnya para pemimpin kita untuk memulihkan kondisi politik dan ekonomi kita.

Penulis sendiri patut akui benar bahwa bagaimana negara –negara dunia mendominasi dari pada pasar global yang siap menghancurka kita kapan saja dengan sistem ekonomi yang mereka jalanankan. Fenomena itulah yang di gambarkan di abad 21 ini bagaimana globalisasi dan modernisasi menjadi arus utama dalam mempengaruhi kehidupan sosial dan politik masyarakat sala satunya Indonesia itu sendiri. Kontrol ekonomi dan politik itu sendiri sangat berimbas untuk masalah kebangsaan dan nasionalisme kita itu sendiri bagaiaman guncangan dan kekuatan mereka menerpa sendi-sendi kehidupan. Mereka berperilaku seperti kanibal yang siap menerkam dan memakan siapa saja untuk mencari keuntungan sebanyak banyaknya.

Kita semua bersepakat bahwa penindasan dalam bentuk apapun harus kita lawan, penjajahan manusia atas manusia bangsa atas bangsa itu sendiri. Menjelang momentum September yang sebagian besar kalangan aktivis menyebutnya sebagai sedarah, Kita tercengang menyaksikan berbagai pergolakan dan pergerakan aksi demonstrasi yang menghiasi berbagai sekitaran kampus univesitas haluoleo. Ingin ku gambarkan bahwa sosok-sosok seperti marsinah ini masih tumbuh subur di kampus-kampus.

Beberapa hari ini perempuan hadir menunjukan dirinya sebagai gerak emansipasi yang menabur bara perlawanan dan virus perjuangan tak ada lagi yang membatasi ataupun mengekang untuk menyampaikan aspirasi dan pendapat sebagai uakti ketidakpercayan kita terhadap negara dan pemerintah . Berbagai protes dan amukan massa mulai bermunculan di permukaan, Kita nantikan ledakan selanjutnya.

Berikan Komentar Anda Pada Berita Ini
Bagikan :