
Konon biji dengan hitam pekat dan agak kecoklatan itu berasal dari Abyssinia, sebuah daerah yang ada di Ethiopia. Daerah yang hampir dipenuhi oleh daratan kering kerontang, namun sejarahnya kopi berasal dari daerah Ethiopia namun esensi ini masih memiliki tanda tanya.
Budidaya dan perdagangan kopi baru mulai populer pada abad ke-15 oleh pedagang Arab di Yaman. Kopi mencoba mencapai Eropa pada abad ke-17 namun tidak dapat tumbuh baik di sana. Alhasil bangsa-bangsa Eropa lantas menggunakan daerah jajahannya untuk membudidayakan tanaman kopi. Indonesia, yang diduduki Belanda, memiliki andil yang besar dalam sejarah dan persebaran jenis kopi di dunia.
Kopi kemudian berkembang di berbagai daratan di muka bumi,termasuk daratan arab. Bahkan tradisi minum kopi pertama kali di perkenalkan oleh saudagar muslim di arab pada abad 15, Istilah kopi juga lahir dari bahasa Arab, qahwah yang berarti kekuatan, hingga pedagang muslim mulai menyebarluaskan kopi melalui Pelabuhan Mocha, Yaman.
Qahwah ini pun berkembang dari berbagai rupa sampai berubah nama menjadi coffee. Hingga pada masa kekhalifaan. Qahwah tersebar di seluruh penjuru muka bumi termasuk di Indonesia.
Di Indonesia qahwah yang paling pertama dikenal yaitu jenis arabican, robusta, liberika dan masih banyak rupanya. Namun sejarah kopi masuk ke Indonesia merupakan perjalanan panjang dari zaman kolonialisme yang di bawa oleh Belanda.
Dari dulu hingga kini kopi hadir di warung-warung dengan meja dan kursi yang di susun rapi, ditambah asbak untuk abu dari tumpukan tembakau. Kopi juga hadir di kemasan berbotol lalu di jual dari mini hingga supermarket. Kopi juga hadir di kota-kota penuh mewah hingga menjadi penghilang penat di sudut-sudut desa.
Tak salah memang orang-orang arab mengartikan kopi sebagai sebuah kekuatan. Kekuatan yang memberi aura bagi jiwa.
Namun kita tidak terlalu banyak membahas perihal kopi dan sejarahnya, orang-orang akan hanya paham meminum dengan takaran berbagai rasa tanpa mengetahui anomali dan estetika dari secangkir kopi.
Kita menganggap bahwa kopi adalah teman sejati, seperti puisi yang riuh tumpah yang menenangkan hati.
Kopi juga menjadi teman di balik sebuah diskusi yang panjang dan penuh arti, diskusi yang membahas digantinya atau tidak pemimpin negeri. Ramailah orang-orang membahas kubu Jokowi dan kubu Prabowo. Diskusi yang menyangkut siapa yang berhak duduk di kursi nanti.
Kadang lahirlah dialektika sebagai ajang adu narasi, membeberkan visi dan misi, dan mengkaji masalah masing-masing dan mencari solusi. Hiduplah warung kopi sebagai ruang untuk belajar dan berbagi, pembahasan tidak kemana-mana hanya soal Prabowo dan Pak Jokowi.
Ruang seperti ini lebih baik dari pada di dunia maya yang hanya adu gengsi dan sebarkan hoax yang ujung melahirkan serapah dan caci maki.
Negeri ini juga di bangun oleh kopi dengan takaran yang pas, seperti ketika segelas kopi yang menjadi teman Bung Karno dan Bung Hatta menyusun proklamasi, hampir berjam-jam hanya memikir sebuah proklamasi dengan narasi yang baik.
Kopi di antara Jokowi dan Prabowo hanya sebatas proses demokrasi, tak ada permusuhan yang abadi tapi setelah hasil ini kami berharap ada perubahan yang akan lahir. Secara personalisasi mereka berdua adalah putra terbaik bangsa yang ramai di bahas di warung kopi selain Vanessa Angel yang berkasus dengan polisi. Nama Jokowi dan Prabowo seakan menjadi materi inti dari dialektika tentang demokrasi.
Saya semakin yakin, kopi juga memberi sumbangsi besar dari proses demokrasi, paling tidak menjadi ruang imaji, teman di kala sepi, dan minuman yang mengandung banyak filosofi.
Jokowi atau Prabowo yang menang, rasa kopi tetap sama; pahit namun mengandung banyak arti.
Penulis; Ahmad Takbir Abadi (Pelanggan di Warkop Dg Te’ne)











