Example floating
Example floating
Opini

Kiat-kiat Jurnalis Hindari Kekerasan dalam Laksanakan Tugas

×

Kiat-kiat Jurnalis Hindari Kekerasan dalam Laksanakan Tugas

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh Johan Sopaheluwakan, S.Pd., C.EJ., C.BJ., CLA.

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

Faktual.net – Jakarta Barat, DKI Jakarta – Di tengah dinamika informasi yang semakin cepat dan tuntutan publik yang tinggi, jurnalis seringkali berada di garis depan pemberitaan, terutama dalam situasi sensitif seperti aksi demo, konflik sosial, atau peristiwa yang melibatkan kekerasan.

Bukan hanya bertugas memberitakan kebenaran, jurnalis juga harus menjaga keamanan diri sendiri dan tidak menjadi bagian dari kekerasan yang dilaporkannya.

Berdasarkan pengalaman dan pedoman etika jurnalistik, ada beberapa kiat penting yang dapat diikuti untuk menjalankan tugas tanpa terlibat atau terkena dampak kekerasan.

 

Pertama, siap-siap dengan pengetahuan dan persiapan yang matang sebelum mendekati lokasi peristiwa. Cari informasi mendalam tentang latar belakang peristiwa, pihak-pihak yang terlibat, dan potensi risiko yang mungkin terjadi. Ketahui aturan dan peraturan yang berlaku di lokasi tersebut, serta hubungi pihak berwenang (seperti polisi atau petugas keamanan) untuk mendapatkan panduan tentang akses dan keamanan. Contohnya, saat meliput aksi demo di Jakarta tahun 2024 yang berpotensi memanas, beberapa jurnalis telah menghubungi komando polisi terlebih dahulu untuk mengetahui rute demo dan titik aman yang disediakan. Hal ini membuat mereka bisa bergerak lebih bebas tanpa terjebak dalam situasi konflik. Persiapan ini membantu jurnalis membuat keputusan cerdas dan menghindari situasi berbahaya yang bisa dihindari.

Kedua, gunakan identitas yang jelas dan profesional. Kenakan seragam atau lencana jurnalis yang terlihat jelas, sehingga pihak-pihak yang terlibat tahu bahwa Anda berada di sana untuk memberitakan, bukan untuk ikut terlibat dalam konflik. Hindari mengenakan pakaian yang dapat dianggap sebagai tanda dukungan terhadap salah satu pihak, karena hal ini dapat menimbulkan kesalahpahaman dan menempatkan Anda dalam posisi yang berbahaya. Juga, hindari berpartisipasi dalam aksi atau perdebatan yang bisa memicu kekerasan—tetap netral dan fokus pada tugas pemberitaan. Kasusnya, seorang jurnalis di Surabaya pernah tersesat dalam aksi konflik karena mengenakan jaket berwarna yang sama dengan salah satu kelompok. Setelah dia segera menunjukkan lencana jurnalis, pihak-pihak yang terlibat langsung membiarkannya melewati dan bahkan membantu dia menemukan lokasi aman.

Ketiga, jaga jarak yang aman dan gunakan alat yang tepat. Saat meliput peristiwa yang memicu, jaga jarak yang cukup dari area inti konflik. Gunakan alat perekam (kamera, ponsel, atau mikropon) yang memiliki jangkauan jauh sehingga Anda tidak perlu mendekat terlalu dekat. Hindari menggunakan alat yang berisikan cahaya atau suara keras yang bisa menarik perhatian dan menimbulkan provokasi. Jika memungkinkan, kerjasama dengan rekan jurnalis lain untuk saling memantau dan memberikan bantuan jika salah satu mengalami kesulitan. Seperti yang terjadi saat meliput peristiwa kerusuhan di sebuah kota di Sumatera Barat, beberapa tim jurnalis bekerja sama dengan menggunakan kamera dengan lensa tele untuk merekam peristiwa dari jarak aman, sehingga mereka tidak terpapar risiko langsung tetapi masih bisa mendapatkan data yang jelas.

Keempat, terapkan prinsip komunikasi yang baik dan hormat. Saat berinteraksi dengan pihak-pihak yang terlibat (baik pelaku, korban, maupun petugas), gunakan bahasa yang sopan dan hormat. Hindari bertanya pertanyaan yang menyakitkan atau provokatif, terutama kepada korban kekerasan. Dengarkan dengan cermat dan hormati pendapat setiap pihak, tetapi tetap tegas dalam mencari kebenaran. Komunikasi yang baik dapat membangun kepercayaan dan mengurangi risiko konflik yang tidak perlu. Contohnya, seorang jurnalis yang meliput kasus konflik antar warga berhasil mendapatkan wawancara dari kedua pihak setelah dia menghubungi mereka dengan cara yang sopan dan menjelaskan tujuan pemberitaannya. Kedua pihak bahkan bersedia berbicara secara damai di hadapannya karena merasa dipercaya.

Baca Juga :  Banjir di Desa Sambalagi Diduga Kuat Berkaitan dengan Aktivitas Pertambangan, Warga Soroti Kelemahan Implementasi AMDAL

Kelima, ketahui batasan diri dan tahu kapan harus mundur. Tidak ada berita yang lebih penting dari keselamatan diri sendiri. Jika situasi menjadi semakin berbahaya dan tidak dapat dikendalikan, jangan ragu untuk mundur dari lokasi tersebut. Jangan paksa diri untuk tetap ada hanya karena ingin mendapatkan gambar atau wawancara yang “eksklusif, keamanan harus selalu menjadi prioritas pertama. Setelah mundur, lanjutkan pemberitaan dengan mengumpulkan informasi dari sumber yang aman dan dapat dipercaya. Seorang jurnalis di Medan pernah memutuskan untuk mundur dari lokasi demo yang mulai memanas setelah melihat tanda-tanda konflik akan meluas. Meskipun dia tidak mendapatkan gambar “langsung”, dia masih bisa membuat berita yang komprehensif dengan wawancara dari saksi yang sudah keluar dari area dan pihak berwenang.

Keenam, siapkan rencana evakuasi dan tetap terhubung dengan tim. Sebelum berangkat, atur rencana evakuasi bersama rekan kerja atau kantor media—misalnya, titik temu jika terpisah atau cara berkomunikasi saat sinyal buruk. Gunakan perangkat komunikasi yang andal dan pastikan baterainya cukup. Pada peristiwa banjir besar di Semarang tahun 2023, tim jurnalis telah menentukan titik temu aman di daerah tinggi dan menggunakan aplikasi pesan offline untuk tetap terhubung. Hal ini membuat mereka bisa saling memberi tahu jika ada bahaya dan mengatur evakuasi secara cepat.

Ketujuh, manfaatkan dukungan lembaga jurnalistik dan organisasi profesi. Lembaga media harus memberikan pelatihan keamanan bagi jurnalis sebelum mereka meliput peristiwa berbahaya, serta menyediakan perlengkapan keamanan seperti helm atau rompi pelindung jika diperlukan. Organisasi profesi seperti PEWARNA Indonesia, FWJ Indonesia, PWI atau AJI juga berperan dalam melindungi hak-hak jurnalis dan memberikan bantuan jika terjadi insiden kekerasan. Contohnya, ketika seorang jurnalis di Yogyakarta terkena serangan saat meliput konflik pertanahan tahun 2025, AJI segera berintervensi untuk melindungi dirinya dan melaporkan insiden ke pihak berwenang. Lembaga medianya juga memberikan dukungan hukum dan psikologis.

Kedelapan, patuhi etika jurnalistik yang menghindari provokasi. Etika jurnalistik meminta jurnalis untuk memberitakan dengan objektif dan tidak memicu konflik. Hindari menuliskan atau menyampaikan berita yang mengandung ujaran kebencian, kebencian, atau panggilan ke kekerasan. Juga, jangan memutarbalikkan fakta atau mengambil kutipan di luar konteks yang bisa menimbulkan kesalahpahaman dan memicu kekerasan. Contohnya, seorang jurnalis di Bandung pernah menghindari provokasi dengan memeriksa ulang informasi sebelum mempublikasikannya, ia menemukan bahwa sebuah kutipan yang akan dipakai bisa menimbulkan kemarahan, sehingga ia memutuskan untuk menyajikannya dengan konteks yang lengkap agar tidak menimbulkan konflik.

Semoga Allah Yang Maha Kuasa senantiasa menyertai dan melindungi para Jurnalis dalam melaksanakan tugas dalam situasi yang krisis.

Penulis adalah Ketua PEWARNA Indonesia Provinsi DKI Jakarta.

Dan Ketua LBH No Viral No Justice DPD Provinsi DKI Jakarta.

Tanggapi Berita Ini
https://faktual.net/wp-admin/post.php?post=199474&action=edit