faktual.net. Upaya pengendalian hipertensi di wilayah pesisir terus membutuhkan pendekatan yang dekat dengan masyarakat. Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Mandala Waluya melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Kader TENSI: Inisiatif Edukasi dan Pemantauan Hipertensi melalui Buku Kontrol Tekanan Darah Berbasis Masyarakat” di Desa Bajoe, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat kemampuan kader dalam melakukan edukasi, pemantauan tekanan darah, pencatatan hasil pemeriksaan, serta memberikan pengingat mengenai jadwal pemeriksaan dan tindak lanjut. Pendekatan tersebut dirancang agar pemantauan hipertensi dapat dilakukan lebih teratur di tingkat masyarakat dan tetap terhubung dengan fasilitas pelayanan kesehatan.
Tim pengabdian dipimpin Dr. Sartini Risky, MS, SKM., M.Kes., bersama Lodes Hadju, SKM., M.Kes., Ph.D dan Dr. Ari Nofitasari, SKM., MKM. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat. Laporan kegiatan mencatat Desa Bajoe sebagai lokasi pelaksanaan dengan sasaran kader kesehatan masyarakat.
Edukasi dan praktik menjadi bagian utama
Pelaksanaan kegiatan mencakup persiapan dan koordinasi, observasi lapangan, pembentukan kader tensi, penyuluhan mengenai hipertensi, demonstrasi pengukuran tekanan darah, praktik langsung, serta penggunaan buku kontrol tekanan darah. Materi edukasi mencakup pengertian hipertensi, faktor risiko, pentingnya pemeriksaan tekanan darah, kepatuhan pengobatan, pola hidup sehat, pencegahan komplikasi, dan peran kader dalam pemantauan masyarakat.
Dalam sesi praktik, kader mempelajari persiapan alat, posisi peserta, pemasangan manset, teknik pengukuran, pembacaan hasil, dan pencatatan. Tim juga memperkenalkan buku kontrol sebagai media dokumentasi yang mencatat tanggal pemeriksaan dan hasil tekanan darah. Buku tersebut diharapkan membantu kader dan masyarakat menjaga keteraturan pemantauan.
Penguatan kapasitas kader
Laporan kegiatan menunjukkan bahwa rangkaian edukasi, demonstrasi, dan praktik diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan kader. Sebanyak 20 kader tercatat mengikuti rangkaian kegiatan. Laporan juga mencatat bahwa seluruh peserta merupakan perempuan, dengan kelompok usia 41–45 tahun dan 46–50 tahun sebagai kelompok usia terbanyak.
Program ini juga menetapkan 10 kader sebagai kader inti. Kader inti memperoleh pembekalan tambahan mengenai teknik pengukuran, pencatatan hasil, pengingat jadwal kontrol, dan komunikasi kesehatan sederhana. Peran kader diarahkan sebagai pendukung kegiatan promotif dan preventif, bukan sebagai pengganti dokter, perawat, atau tenaga kesehatan lainnya.
Perlu keberlanjutan dan supervisi
Tim pengabdian menekankan bahwa peningkatan kemampuan segera setelah pelatihan belum cukup untuk memastikan keberlanjutan program. Kader membutuhkan pembinaan, supervisi tenaga kesehatan, pencatatan rutin, serta koordinasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan. Pemantauan jangka panjang juga perlu melihat keteraturan pengukuran tekanan darah, kelengkapan buku kontrol, kepatuhan kunjungan, keterhubungan dengan puskesmas, dan perubahan tekanan darah masyarakat yang dipantau.
Melalui Kader TENSI, Universitas Mandala Waluya mendorong penguatan kapasitas masyarakat pada tingkat promotif dan preventif. Buku kontrol, keterampilan pengukuran, dan komunikasi kesehatan menjadi bagian dari pendekatan yang dirancang untuk mendukung deteksi serta pemantauan hipertensi secara lebih teratur di masyarakat pesisir Desa Bajoe.













