Example floating
Example floating
Religi

Jumat Agung Arti Pengorbanan dan Kesetiaan

×

Jumat Agung Arti Pengorbanan dan Kesetiaan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh: Yusuf Mujiono

Pasang Iklanmu
Example 468x60
Pasang Iklanmu

Faktual.net – Jakarta Barat, DKI Jakarta – Jumat Agung sebuah peristiwa di mana Yesus Sang Putra Maryam menjalani sebuah hukuman menurut pandangan baik orang Yuhudi maupun orang Romawi.

Mengapa Yesus harus mendapat hukuman yang berupa penyaliban? Karena dianggap memberontak dan pengacau masyarakat saat Yesus mengusir orang di Bait Allah (Yohanes 2: 13-24).

Pandangan orang Yahudi bahwa Yesus disalib karena dianggap menghujat Allah (Markus 14: 62-64), lalu dituduh sebagai nabi palsu dan melawan Hukum Sabat (Lukas 6:1-11).

Sementara bagi orang Kristen bahwa Yesus disalib karena menebus dosa dan menyelamatkan manusia dari kebinasaan kekal (1 Korintus 15:3, Yesaya 53:1-12).

Penyaliban Yesus bukanlah berasal dari manusia, melainkan kehendak Allah untuk menebus dosa manusia. Allah tahu manusia tidak akan bisa menebus dosanya sendiri.

Itu sebabnya dalam Kitab Perjanjian Lama di Alkitab, ketika seseorang berdosa, maka ia harus mengambil seekor hewan yang tidak bercacat untuk dijadikan kurban untuk penebusan dosanya (Imamat 5-19).

Tapi manusia tetap saja berdosa, maka Ia sendiri turun dari surga menjadi manusia yang tidak bercacat untuk menebus dosa manusia (Yohanes 3:16).

Lewat perenungan penyaliban ini, terlepas pandangan mereka sebetulnya ada beberapa yang menarik untuk diteladani setidaknya di cermati ketika dihubungkan dengan apa yang terjadi saat in, karena jika hanya terpaku mengapa penyaliban itu terjadi lalu banyak pandangan terkait peristiwa tersebut.

Yesus seorang pendobrak dalam situasi keagamaan yang sangat dominan dalam kehidupan orang Yahudi, bahkan antara aturan dan hukum-hukum agama yang sekaligus menjadi aturan bermasyarakat ketika itu menjadi celah pemuka atau tokoh agama dan masyarakat menarik keuntungan pribadi dan kelompoknya.

Salah satu contoh adalah bagaimana dalam perdagangan di Bait Suci yang oleh Yesus dibubarkan atau diusir karena ada kepentingan politik di dalamnya.

Di sinilah sikap Yesus yang berani mendobrak hegemoni tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Ternyata tindakan inilah yang kemudian menjadi alasan orang Romawi menjatuhkan hukuman kepada Yesus dengan penyaliban.

Apa yang dilakukan Yesus dalam rangka menjaga kepentingan umat ketika itu. Karena monopoli yang dilakukan pedagang yang tentu atas persetujuan para iman dalam hal memberikan persembahan, karena disanalah penentu sah tidaknya suatu persembahan pengorbanan yang berupa lembu, domba dan merpati.

Tindakan Yesus ini melawan kebijakan tokoh agama yang bersengkongkol dengan pemerintah, suatu tindakan heroik yang rela menanggung resiko yang berat. Di sisi lain apa yang dilakukan Yesus ini adalah sebuah tindakan yang diemban dalam menjalankan Amanat Bapanya seperti kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. – Yohanes 4:34.

Yesus telah melakukan semua tugas dari Bapa di Surga sampai selesai.
Dengan kuasa yang diberikan bapanya Yesus bisa keluar atau bebas dari tugas yang diembannya, dengan mujizat yang dilakukan dipastikan Yesus punya kemampuan itu, namun karena kesetiaannya Dia rela melakukan hingga harus di gantung di kayu salib.

Jumat Agung, menjadi teladan sebuah pengorbanan dan kesetiaan, bagaimana dengan kehidupan sekarang. Yesus tidak mengajar melawan pimpinan agama demikian pula dengan pemerintah, hal ini diperkuat saat ada yang menanyakan dengan masalah pajak. Lalu Yesus meminta keping mata uang lalu mengatakan berikan kepada Tuhan (tokoh agama) apa yang menajdi haknya dan berikan ke negara apa yang menjadi haknya.

Namun, jika Yesus berani melakukan itu semua karena ada oknum tokoh agama yang mencoba menarik keuntungan dengan aturan-aturan yang seakan itu perintah Tuhan serta ada ancaman hukuman yang akan menimpa umat yang tidak melakukan ritual agamanya yang ketika itu memberikan korban.

Tokoh agama yang abai dengan kepentingan umat tetapi lebih mencari keuntungan, keberanian melawat pemerintah karena pemerintah Romawi juga hanya memanfaatkan umat untuk kepentingannya. Ketidakadilan dan penindasan dilakukan.
Disinilah tantangan kita: Beranikah kita mengatakan kepada tokoh agama dengan segala aturan dengan lugas ketika diketemukan adanya penyelewengan hukum hukum Tuhan demi keuntungannya. Lalu beranikah kita mengingatkan pemerintah ketika melakukan tindakan yang semena-mena hanya demi ambisi dan keluarganya.

Yesus sudah memberikan teladan tentang pengorbanan dan kesetiaan baik dalam menjalankan amanat yang diberikan bapanya maupun kesetiaan pada pembelaan yang berdampak bagi kemanusiaan, keadilan dan kemerdekaan.

Penulis adalah Ketua Umum PEWARNA (Persatuan Wartawan Nasrani) Indonesia

Tanggapi Berita Ini
https://faktual.net/wp-admin/post.php?post=199474&action=edit