faktual.net, Jakarta. Sebuah curhatan dari seorang lulusan sarjana teknik Universitas Indonesia (UI) viral belakangan ini, setelah dirinya dan teman-temannya kalah saing saat melamar kerja.
Dalam curhatannya, ia mengungkapkan keheranannya ketika seorang lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) berhasil diterima oleh PT PAL Indonesia, sedangkan dirinya dan teman-temannya tidak.
Unggahan alumni teknik UI ini mencuat setelah Gerry Soejatman, seorang pengamat penerbangan, membagikannya melalui akun Twitter. Dalam unggahannya, alumni tersebut mengungkapkan bahwa dirinya dan 15 temannya melamar kerja di PT PAL Indonesia, namun mereka kalah bersaing dengan seorang pria lulusan STM berusia 30 tahun.
“Saya beserta teman-teman ada 15 orang tapi dikalahin sama bapak-bapak umur 30an, bapaknya juga hanya lulusan STM,” tulisnya.
Hal yang lebih mengejutkan lagi, pria lulusan STM tersebut tidak hanya memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda, tetapi juga memiliki pengalaman kerja yang impresif. Alumni teknik UI tersebut menyebut bahwa pria tersebut memiliki sertifikat Welding dan pengalaman kerja di luar negeri.
“Bapaknya juga hanya lulusan STM + sertifikat Welding dan pengalaman kerja di Italia, Eropa tepatnya di Fincantieri katanya,” lanjutnya.
Keheranan alumni teknik UI ini semakin bertambah ketika mengetahui bahwa pria lulusan STM tersebut langsung diterima tanpa adanya training. Selain itu, ia juga berhasil bernegosiasi langsung terkait gaji dengan pihak perusahaan.
“Dan yang bikin nyesek tanpa training dan langsung nego gaji aja,” tambahnya.
Curhatan alumni teknik UI ini mendapatkan tanggapan dari Gerry Soejatman, yang menyatakan bahwa ijazah sekolah memang penting, tetapi ada hal yang lebih penting seperti pengalaman, pemahaman, dan attitude.
Soejatman juga menjelaskan bahwa memiliki sertifikat Welding bukanlah hal yang mudah dan hanya dimiliki oleh sedikit orang dengan pengalaman yang cukup.
Respons dari PT PAL Indonesia pun tidak lama kemudian. Dalam komentarnya di unggahan Gerry Soejatman, admin PT PAL Indonesia menjelaskan alasan di balik penerimaan pria lulusan STM tersebut.
Menurut admin tersebut, PT PAL Indonesia membutuhkan pekerja yang memiliki skill dalam berbagai teknik pengelasan, bukan hanya satu posisi saja. Oleh karena itu, para juru las di perusahaan tersebut diharuskan memiliki sertifikasi, keterampilan, dan jam terbang yang tinggi. Oleh karena itu, pria lulusan STM berusia 30 tahun tersebut dipilih karena sudah memiliki pengalaman yang cukup tinggi dalam bidang tersebut.
Kejadian ini menjadi sorotan publik dan mengundang beragam tanggapan. Hal ini juga memberikan pelajaran bahwa dalam dunia kerja, pengalaman dan keterampilan yang konkret sering kali menjadi faktor penentu dalam penerimaan pekerjaan, melebihi hanya sekadar latar belakang pendidikan formal. (red)
















